CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN ENAM
Andini tidak tahu mengapa ia membuka kembali aplikasi Yahoo Messenger di laptopnya malam itu.
Mungkin karena Randy baru saja mengirim pesan singkat yang menyebalkan — “Maaf sayang, syuting malam ini lagi. Jangan tunggu ya.”
Tanpa tanda tanya, tanpa emoticon, tanpa satu kata pun yang membuktikan bahwa ia bahkan sempat memikirkan perasaan Andini sebelum mengirim pesan itu.
Atau mungkin karena malam itu hujan, dan hujan selalu membuatnya sedikit sentimentil.
dark-knight sudah online.
Di teras belakang rumah Om Nuntung, Made masih duduk dengan diary biru di pangkuannya ketika ponselnya berbunyi — notifikasi Yahoo Messenger.
Ia memandang layar itu. tuan-putri-malam baru saja mengirim pesan.
Sebelum membacanya, ia merasakan sesuatu. Getaran kecil di ujung kesadarannya — bukan gambaran, bukan suara, hanya semacam kehangatan yang datang begitu saja seperti embun yang turun tanpa pemberitahuan. Seperti ada sesuatu yang baru saja bergerak di sisi lain kota ini.
Ia membuka pesannya.
tuan-putri-malam : Kamu lagi apa, Satria Baja Hitam?
Made tersenyum kecil. Ia mengetik.
dark-knight : Duduk di teras, dengerin hujan. Kamu?
tuan-putri-malam : Sama. Hujan deras di sini.
Sama. Made menatap kata itu. Satu kata yang sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat jarum-jarum kompas batinnya bergetar lagi. Seperti dua gelombang yang bergerak dari arah berlawanan dan baru saja bertemu di satu titik.
Ia tidak tahu apa artinya. Ia tidak berani menduga.
dark-knight : Di mana kamu sekarang? Maksudku, kota mana.
tuan-putri-malam : Eh, tiba-tiba nanya ini. Kenapa emangnya?
dark-knight : Karena aku baru saja pindah ke Jakarta. Dan sekarang duduk di teras, dengerin hujan Jakarta yang menurutku berbeda dari hujan di kota lain.
tuan-putri-malam : Beda gimana?
dark-knight : Hujan di Jakarta itu tergesa-gesa. Kayak semua orang di kota ini — turunnya deras, selesainya cepat. Padahal yang dibutuhkan adalah hujan yang sabar. Yang mau menemanimu lama-lama.
Beberapa saat kemudian:
tuan-putri-malam : Kamu penyair, ya?
dark-knight : Bukan. Aku cuma orang yang terlalu banyak menyimpan hal-hal yang tidak terucapkan.
tuan-putri-malam : Kenapa pindah ke Jakarta?
Made berhenti mengetik sejenak. Ia memejamkan matanya , sebuah kebiasaan lama, cara ia menyaring apa yang terasa dari apa yang hanya sekadar dipikirkan.
Dan yang ia rasakan adalah: kehangatan yang sama. Dari arah yang sama.
Hati-hati, ia mengingatkan dirinya. Jangan biarkan rindumu membuatmu melihat tanda di tempat yang tidak ada tanda.
Ia mengetik.
dark-knight : Ada seseorang yang harus kutemukan.
tuan-putri-malam : Kedengarannya seperti misi mustahil.
dark-knight : Semua misi yang berharga memang terasa mustahil di awalnya. Kalau mudah, namanya bukan misi , namanya perjalanan wisata.
Tawa kecil muncul di ujung jemarinya ketika mengetik kalimat itu.
Dan di seberang kota — meski ia tidak tahu itu — Andini juga tertawa.
Siapa kamu, Tuan Putri Malam? pikirnya. Dan mengapa kehadiranmu terasa seperti sesuatu yang sudah aku kenal?