Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KESEPULUH

Made tidak pernah merencanakan untuk bertemu Randy.

Tapi inderanya memberinya peringatan.

Pagi sebelum acara networking bisnis di SCBD itu, Made terbangun dari mimpi yang tidak menyenangkan , bukan gambaran yang jelas, hanya rasa.

Rasa seperti berdiri di persimpangan dan tiba-tiba menyadari ada kendaraan yang melaju dari arah yang tidak kamu duga. Ia terbangun dengan denyut jantung yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ia hampir membatalkan kehadirannya. Tapi kemudian ia ingat pesan Pak Hasan: kemampuan pre-kognisi bukan untuk menghindari hidup, tapi untuk menghadapinya dengan lebih siap.

Maka ia pergi. Dengan kesiapan yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapapun.

Randy hadir di sana , tampan, percaya diri, dan berbicara dengan cara yang mengalir tanpa hambatan. Mereka bertukar kartu nama dengan sopan.

Made mengamati semua itu dan merasakan sesuatu yang tidak dapat ia namakan, bukan ancaman, bukan juga kelegaan. Hanya seperti mengenali sepotong teka-teki yang belum ia tahu harus diletakkan di mana.

“Kamu kenal Andini?” tanya Randy tiba-tiba.

Dan Made mengerti mengapa ia terbangun dengan jantung berdegup lebih cepat pagi itu.

“Andini siapa?” tanyanya, dengan nada yang ia jaga setenang mungkin.

“Andini Larasati. Kekasihku.”

Randy menunjukkan foto dari ponselnya.

Made memandang foto itu.

Dan seluruh dunianya berhenti berputar selama tiga detik.

Bukan karena ia tidak menduga kemungkinan ini. Bertahun-tahun ia sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan bahwa Andini sudah punya seseorang. Ia sudah memikirkannya dengan kepala dingin, sudah berdamai dengan skenario terburuknya.

Tapi pre-kognisi tidak pernah menunjukkan wajah ini. Tidak pernah menunjukkan foto ini.

Dan dengan indera yang selama ini ia andalkan, Made membaca sesuatu dari cara Randy memegang ponsel itu : cara yang terlalu santai, terlalu terbiasa, terlalu seperti seseorang yang menunjukkan koleksi bukan seseorang yang menunjukkan kebahagiaannya.

Ada yang tidak beres di sini, bisik inderanya.

Tapi ini bukan waktunya. Dan ini bukan haknya untuk membaca lebih jauh.

“Cantik,” kata Made akhirnya, dengan suara yang entah bagaimana tetap stabil. “Kamu beruntung.”

Randy mengangguk, memasukkan ponselnya. “Kadang aku merasa dia yang terlalu baik buat aku.”

Made harus mengerahkan seluruh kendalinya untuk tidak bereaksi terhadap kalimat itu.

Ia pamit sebentar kemudian, melewati kerumunan, keluar ke koridor hotel yang ber-AC, dan berdiri di sana dengan punggung bersandar di dinding marmer yang dingin.

Andini sudah punya kekasih.

Dan kemampuannya — yang tidak bisa ia matikan, yang selalu bekerja tanpa izin — sudah menangkap sesuatu dari percakapan singkat tadi: bahwa hubungan itu tidak sepenuhnya utuh. Bahwa ada sesuatu yang retak di dalamnya, meski retakannya belum cukup terlihat dari luar.

Tapi Pak Hasan sudah memperingatkannya tentang ini juga: “Jangan pernah menggunakan penglihatanmu untuk mengintervensi hubungan orang lain, Made. Itu bukan wewenangmu. Takdir orang tidak bisa kamu atur, bahkan dengan kemampuan yang kamu miliki.”

Made memejamkan mata.

Pak Hasan benar. Ini tidak akan mudah.

Tapi ia tidak pernah bilang ia akan berhenti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *