CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KELIMABELAS
Di kamarnya di rumah Om Nuntung, Made menulis surat.
Sebelum menulis, ia melakukan sesuatu yang selama ini jarang ia lakukan dengan sengaja: ia membuka inderanya. Bukan untuk melihat masa depan. Bukan untuk mencari gambaran atau sinyal.
Tapi untuk mendengarkan : seperti seseorang yang meletakkan telinganya di tanah untuk merasakan getaran yang tidak bisa ditangkap di udara.
Yang ia rasakan: kehangatan yang akrab. Dari arah kota yang sama. Dan sesuatu yang terasa seperti kesedihan , bukan kesedihan yang meledak, tapi yang meresap pelan-pelan, seperti tinta ke atas kertas yang sudah basah.
Dia tidak baik-baik saja, bisik inderanya.
Aku tahu, balas Made dalam hati. Tapi aku tidak bisa masuk ke sana tanpa izin.
Maka ia menulis surat. Karena surat yang tidak terkirim setidaknya adalah satu-satunya cara mengucapkan hal yang tidak bisa diucapkan tanpa melanggar batas.
Andini,
Aku tahu kamu tidak akan membaca ini. Setidaknya tidak malam ini. Aku tidak yakin surat ini akan pernah sampai padamu dalam bentuk apapun.
Tapi ada beban yang terlalu berat untuk terus kubawa sendiri. Dan malam ini — setelah berminggu-minggu mencoba tidak menggunakan caraku untuk membacamu, setelah berminggu-minggu mencoba menjadi manusia biasa yang tidak tahu apa yang tidak ia ketahui — aku menyerah pada satu hal kecil: aku membiarkan diriku merasakan frekuensimu. Hanya sebentar. Hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja.
Dan kamu tidak baik-baik saja, Andini.
Aku tidak tahu apa persisnya yang kamu tanggung. Inderaku tidak pernah bisa masuk cukup jauh untuk itu — kamu selalu menjadi kabut putih yang hangat bagiku, dan aku sudah lama berdamai dengan fakta bahwa kamu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa aku baca dengan jelas. Mungkin karena cintaku padamu sudah menjadi bagian dari struktur jiwaku. Mungkin karena beberapa hal memang tidak dimaksudkan untuk dilihat sebelum waktunya.
Yang aku tahu: ada sesuatu yang kamu bawa sendirian. Dan kamu tidak perlu melakukan itu.
Bukan karena aku bisa menggantikan apapun. Bukan karena aku punya jawaban. Tapi karena ada seseorang yang masih menginginkan kamu bahagia , bukan bahagia di dekatnya, hanya bahagia. Titik.
Maafkan aku kalau aku salah, Andini.
Selalu, Made
Ia melipat surat itu rapi. Memasukkannya ke dalam amplop. Menulis Andini di permukaannya.
Lalu menaruhnya di dalam diary biru, di antara halaman kenangan yang sudah lama menguning.
Ia menutup diary itu.
Membuka Yahoo Messenger.
dark-knight : Maaf menghilang, Tuan Putri.
Tidak ada balasan malam itu. Karena Andini sudah tertidur , dengan kertas puisi di tangannya dan lagu Caffeine yang masih bergema pelan dari radio yang ia lupa matikan.