CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KETUJUHBELAS
Putry menemukan amplop itu secara tidak sengaja ketika membantu Made membereskan kamarnya.
Amplop itu jatuh dari diary biru. Andini. Hanya itu yang tertulis di permukaannya.
Putry memandang nama itu lama.
Ia berdiri di sana, memegang amplop itu, sampai Made masuk dengan dua gelas teh.
Keduanya saling bertatapan. Tidak ada kata.
Putry meletakkan amplop itu di meja. “Aku tidak membacanya. Hanya terjatuh.”
“Aku tahu,” kata Made.
Hening.
Dan kemudian Putry duduk di kursi sudut dan menangis. Bukan tangisan dramatis. Hanya air mata yang mengalir pelan, tanpa suara.
Made meletakkan gelas-gelas itu dan berlutut di depan kursi Putry.
Ia tidak langsung berkata apa-apa. Karena inderanya — yang tidak pernah bisa ia matikan sepenuhnya — sedang membaca sesuatu dari tangisan Putry yang membuatnya diam: ini bukan tangisan orang yang menyerah.
Ini tangisan orang yang sedang melepaskan. Ada perbedaan besar di antara keduanya, dan Made bisa merasakannya dengan jelas.
Dia akan baik-baik saja, batinnya. Lebih dari baik-baik saja. Dia akan menemukan jalannya.
Gambaran singkat , bukan dari masa lalu, bukan penyesalan, tapi dari sesuatu yang ia baca dari energi Putry malam itu: seorang perempuan yang melukis dengan kuas besar di kanvas putih. Warna-warna yang berani. Wajahnya tenang. Puas.
Made menyimpan gambaran itu untuk dirinya sendiri.
“Kamu tidak perlu berpura-pura apa-apa padaku, Put,” katanya pelan. “Tidak pernah.”
Putry tersenyum , senyum lelah, tapi nyata. “Aku tahu. Itu yang membuatmu jadi beban yang sulit dibuang.”
Made terkekeh.
Putry ikut terkekeh meski matanya masih basah.
Di atas meja, amplop bertuliskan Andini tetap teronggok diam.