Catatan Dari Hati

Luka yang Tak Bisa Dijahit Ulang oleh Waktu, Resensi Film “Andai Waktu Bisa Diulang Kembali”

Sinema keluarga Indonesia selalu punya cara khusus untuk melukai penontonnya.

Bukan lewat kejutan besar atau tragedi yang meledak di layar, melainkan lewat hal paling biasa yang tiba tiba terasa mahal. Semangkuk sup hangat yang tersaji tanpa diminta.

Suara batuk dari kamar sebelah yang dianggap angin lalu. Panggilan telepon dari rumah yang sengaja tidak diangkat karena sedang sibuk mengejar sesuatu yang terasa lebih penting.

Di titik paling sunyi itulah Andai Waktu Bisa Diulang Kembali berdiri, lalu perlahan menekan dada penontonnya sampai sesak.

Film garapan sutradara M. Amrul Ummami ini, hasil kolaborasi FMM Studios dan Langit Pictures Indonesia, membawa premis yang sekilas terdengar sederhana.

Dinar, diperankan Davina Karamoy, adalah perempuan muda yang praktis tidak memiliki siapa siapa selain Mama Endang, ibunya, yang dimainkan dengan ketenangan menyayat oleh Vonny Anggraini.

Hidup Dinar berjalan datar sampai ia bertemu Faiz, sosok yang diperankan Farhan Rasyid, laki laki dengan cinta yang tidak muluk namun cukup untuk mengubah dunia hitam putih Dinar menjadi berwarna.

Sayangnya kebahagiaan itu datang bersamaan dengan tagihan yang tidak pernah menunggu siapa pun.

Utang peninggalan almarhum ayahnya menumpuk, biaya kuliah menanti, dan yang paling menghancurkan, kanker sedang menggerogoti tubuh ibunya secara diam diam.

Lalu muncullah Firman, laki laki mapan yang menawarkan jalan keluar cepat, dengan harga yang harus dibayar oleh cinta dan harga diri.

Kekuatan terbesar film ini justru terletak pada penolakannya untuk menjadikan Dinar seorang pahlawan. Ia tidak digambarkan sebagai perempuan suci yang berkorban dengan gagah berani. Ia digambarkan sebagai manusia yang panik, yang kalah oleh keadaan, dan yang akhirnya mengambil keputusan buruk karena tidak melihat pilihan lain di depan matanya.

Inilah keberanian naratif yang jarang dimiliki drama keluarga arus utama kita. Penonton diajak duduk di kursi terdakwa bersama Dinar, bukan di kursi hakim. Kita tidak diminta menilai apakah keputusannya benar atau salah. Kita diminta merasakan betapa sempitnya ruang yang tersisa bagi seorang anak perempuan ketika kemiskinan, penyakit, dan cinta datang bersamaan dalam satu musim.

Davina Karamoy memikul beban emosional film ini nyaris sendirian, dan ia melakukannya dengan kematangan yang mengejutkan. Ada momen momen ketika ia tidak perlu bicara sama sekali.

Cukup tatapan kosong ke arah lorong rumah sakit, atau cara ia menahan napas sebelum menjawab pertanyaan ibunya, dan penonton sudah paham bahwa sesuatu di dalam dirinya sedang runtuh. Ia bercerita bahwa saat pembacaan naskah pertama, ia sampai menangis karena naskahnya terlalu emosional.

Rasa itu terasa jujur di layar. Sementara Vonny Anggraini memberikan sesuatu yang lebih halus namun lebih menghancurkan: seorang ibu yang menyembunyikan penyakitnya sendiri agar anaknya tidak ikut menanggung beban.

Cinta semacam itu tidak pernah diucapkan, hanya diperlihatkan lewat senyum yang dipaksakan dan piring yang selalu terisi. Justru karena tidak pernah diucapkan, ia terasa lebih perih.

Farhan Rasyid sebagai Faiz mengisi ruang yang berbeda. Ia adalah representasi masa depan yang sederhana namun layak, yaitu rumah kecil, pekerjaan halal, dan kesetiaan yang tidak menuntut apa apa. Kehadirannya bukan sekadar bumbu asmara, melainkan alat ukur.

Semakin hangat Faiz, semakin terasa mahal harga yang harus dibayar Dinar ketika ia berpaling. Pemain pendukung seperti Nadzira Shafa, Bismo Satrio, dan Kenji Sato memberi lapisan tambahan pada dunia Dinar sehingga konfliknya tidak terasa terisolasi di ruang keluarga saja.

Dari sisi penyutradaraan, Amrul Ummami memilih pendekatan yang tidak neko neko. Ia percaya pada wajah aktornya dan pada keheningan. Tidak banyak permainan kamera yang mencolok, tidak ada usaha untuk tampil pintar secara visual.

Bagi sebagian penonton, kesederhanaan ini mungkin terasa konvensional. Namun bagi cerita seperti ini, keputusan tersebut masuk akal. Melodrama tentang penyesalan tidak membutuhkan gaya yang berteriak, ia hanya membutuhkan ruang agar rasa sakitnya bisa mengendap.

Meski begitu, film ini tidak sepenuhnya bebas dari kelemahan. Beberapa transisi emosional terasa terlalu cepat, seolah film terburu buru mengantar penonton menuju babak penyesalan.

Karakter Firman, yang seharusnya menjadi pusat gravitasi konflik moral, sesekali diperlakukan terlalu fungsional sehingga kehilangan kompleksitas. Musik latar juga cenderung terlalu rajin memandu perasaan penonton, padahal adegan adegan kuncinya sebenarnya sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa dorongan tambahan.

Jika saja film ini lebih percaya pada keheningannya sendiri, dampaknya bisa jauh lebih dalam. Ini catatan yang wajar bagi drama keluarga populer, namun tetap perlu disebut agar apresiasi terhadap film ini tidak berhenti pada air mata semata.

Yang membuat Andai Waktu Bisa Diulang Kembali layak dibicarakan lebih serius adalah potret sosial yang dibawanya tanpa banyak berkhotbah. Film ini secara diam diam merekam realitas yang sangat Indonesia, yaitu betapa satu penyakit serius di dalam keluarga mampu menghapus seluruh rencana masa depan seorang anak. Kuliah tertunda, mimpi ditunda, cinta ditunda, lalu dibatalkan.

Ribuan keluarga di negeri ini hidup persis dalam skenario itu, hanya saja mereka tidak punya layar bioskop untuk menceritakannya. Dalam pengertian ini, film tersebut berfungsi sebagai cermin, bukan sekadar hiburan akhir pekan.

Sang produser sekaligus penulis, Muhammad Ali Ghifari, mengatakan bahwa ide cerita ini lahir dari rasa penyesalan yang barangkali pernah dialami banyak orang, perasaan seandainya dulu memilih jalan yang berbeda.

Pesannya sampai dengan telak. Waktu tidak menunggu, tidak berbelas kasihan, dan tidak pernah bisa diputar mundur meski penyesalan sudah menumpuk sampai ke tenggorokan. Pesan itu bukan hal baru dalam sejarah sinema, namun kebenarannya tidak pernah kedaluwarsa.

Menonton film ini pada akhirnya bukan tentang menikmati sebuah cerita. Ini lebih menyerupai kunjungan mendadak ke ruang penyimpanan memori pribadi. Banyak penonton akan keluar dari bioskop bukan sambil membicarakan kualitas akting atau ketajaman naskah, melainkan sambil meraih ponsel dan menelepon ibunya. Itulah pencapaian yang sesungguhnya.

Sebuah film yang berhasil mengubah dua jam menjadi peringatan bahwa orang orang yang kita cintai tidak akan selamanya berada di tempat yang sama.

Cinta memang tidak pernah datang dengan garansi waktu. Dan ketika waktu itu benar benar habis, yang tersisa hanyalah satu kalimat yang tidak berguna namun terus diucapkan manusia sepanjang zaman: andai saja dulu aku tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *