IDUL FITRI DAN “PENGGELEDAHAN DIRI”
Dalam konteks relasi antar manusia, Idul Fitri, khususnya di Indonesia, memiliki peran penting karena aksentuasi silaturrahmi (menyambung kasih sayang) yang kental didalamnya, membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk berinteraksi dalam spirit kedamaian dan harmoni. Idul Fitri menjadi momentum sakral dan strategis untuk membina kembali hubungan dengan semangat kekeluargaan.
Romantika mudik menjelang Idul Fitri yang penuh hiruk pikuk dan kemacetan dari beragam moda transportasi kembali ke kampung halaman, tidak semata melampiaskan rasa rindu pada orang tua, kerabat maupun handai tolan. Mudik memiliki dimensi menjalin persaudaraan yang kokoh, dengan saling memaafkan atas segala keikhlafan dan meneguhkan janji untuk terus memelihara hubungan baik antar sesama. Berkumpulnya segenap anggota keluarga yang terpisah oleh ruang dan waktu dalam sebuah momen lebaran menjadi momen yang sangat berharga dan membahagiakan. Saya senantiasa mengenang Idul Fitri ini sebagai saat-saat indah serta mengharukan.
Dalam konteks Negara, Idul Fitri menjadi momentum yang sangat baik untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Esensi Idul Fitri diharapkan mampu melerai segala kebencian, iri, dan dengki yang merajai hati, tidak berhenti pada saat bersalaman saling memaafkan belaka namun seterusnya, jalinan persaudaraan dan kerjasama ini menjadi kian kokoh, untuk membangun masa depan Indonesia lebih baik.
Amril Taufik Gobel
Blogger (www.daengbattala.com)
amriltg@gmail.com
Catatan:
Tulisan ini dimuat di Kompas Siang Selasa 6 Agustus 2013 (Rubrik Forum)

Pingback: MERAWAT BANGSA, BUKAN DENGAN SLOGAN (Kompas Siang,14 Agustus 2013) / Catatan Dari Hati