Flash Fiction: Koper Hijau
Di sudut kamar, ada koper tua berwarna hijau lumut. Lapuk di bagian resleting, berdebu di pegangannya. Sudah bertahun-tahun tak disentuh, tapi tetap tak dibuang.
Itu koper milik Dara.
Ia mengemasnya sendiri: dua baju hangat, satu buku puisi, dan selembar tiket kereta yang tak pernah digunakan. “Aku hanya perlu waktu,” katanya, malam sebelum pergi.

Ibu menunggu di ambang pintu setiap sore. Ayah diam-diam memperbaiki pagar rumah, seolah Dara akan pulang dan menyuruhnya berhenti karena berisik.
Tapi musim terus berganti. Surat tak datang. Nomor teleponnya sunyi. Dan koper itu tetap di sana—seperti jantung kedua rumah ini, berdetak pelan-pelan lewat ingatan.
Kadang adik bungsu mereka berdiri di depan koper itu, menempelkan telinga seperti mendengar suara.
“Apa yang kamu dengar?” tanya ibu.
“Langkah kaki,” jawabnya pelan. “Tapi makin lama makin jauh.”