Catatan Dari Hati

(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali

Andi selalu percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia berjalan maju tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang tertinggal. Namun sore itu, ketika langit berwarna jingga muda dan angin membawa aroma tanah basah, ia merasakan sesuatu yang ganjil, seperti ada yang memanggil dari masa lalu.

Ia kembali ke taman kecil dekat rumah lamanya. Tempat di mana dulu ia dan Rani sering duduk di bangku tua, berbagi mimpi sambil menertawakan hal-hal sederhana. Taman itu kini sepi, hanya menyisakan bangku yang warnanya mulai mengelupas, seperti waktu yang terlalu lama tidak dipedulikan.

Andi duduk, menarik napas pelan, dan untuk sesaat, ia merasa seolah seseorang menepuk bahunya dari belakang, lembut, seperti dulu.

“Kalau bisa, aku ingin kembali ke hari itu…” gumamnya.

Hari ketika Rani mengatakan bahwa hidup tidak menunggu siapa pun.

Hari ketika Rani memintanya untuk berhenti mengejar ambisi tanpa menoleh pada orang yang mencintainya.

Hari ketika ia memilih diam, dan Rani pergi tanpa sempat ia tahan.

Andi menutup mata.

Dalam keheningan yang merayap, ia membayangkan seandainya ia memiliki mesin waktu. bukan yang berisik dan penuh tombol seperti film-film, tapi cukup mesin kecil yang bisa membawanya kembali ke detik sederhana ketika Rani tersenyum dan berkata, “Kamu itu rumahku.”

Dalam imajinasi itu, ia berdiri di depan dirinya yang lebih muda, memegang pundaknya, dan berkata:

“Hentikan sebentar. Lihat dia. Dengarkan baik-baik. Cinta tidak menunggu.”

Namun ketika Andi membuka mata, bangku itu tetap kosong. Hanya suara angin yang menjawab.

Ia tahu, waktu tidak bisa diputar ulang. Tidak ada mesin waktu yang bisa memperbaiki kata-kata yang tak pernah terucap.

Tetapi ia juga tahu: seseorang akan selamanya hidup dalam kenangan selama kita berani mengingatnya, bukan melarikan diri darinya.

Andi berdiri, mengusap debu di bangku itu dengan ujung jarinya, lalu tersenyum kecil. Ada perih, tetapi juga ada kedamaian. Mungkin memang ini cara semesta memberi ruang untuk berdamai, bukan dengan mengulang, tapi dengan menerima.

Sebelum pergi, ia berbisik pelan, hampir tak terdengar:

“Terima kasih karena pernah menjadi rumah yang paling nyaman. Andai waktu bisa kembali, aku takkan ragu memilihmu.”

Langkahnya menjauh, meninggalkan taman yang perlahan tenggelam dalam senja. Tapi di dada Andi, ada ruang baru yang muncul: ruang untuk hidup, meski tanpa mesin waktu.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ringan.

 

Related Posts
NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA
My Momma always said: Life was like a box of chocholates You never know What you're gonna get -Tom Hanks, Forrest Gump,1994 Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah ...
Posting Terkait
NARSIS : Ketika Sally Memilih Sendiri
Hujan November selalu membawa kenangan. Sally berdiri di tepi jendela apartemennya yang kecil, memandang kota yang berkilauan basah di bawah lampu-lampu jalan. Lima tahun sudah berlalu, tapi kadang rasanya seperti ...
Posting Terkait
(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu
i sebuah kota kecil yang selalu diselimuti embun pagi, tinggal seorang gadis bernama Aluna. Ia dikenal ramah, namun sejak beberapa bulan terakhir, langkahnya terasa berat. Orang-orang menduga ia hanya lelah. Mereka ...
Posting Terkait
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
Sebagaimana setiap cinta dimaknai, seperti itu pula dia, dengan segala pesona yang ia punya menandai setiap serpih luka jiwanya sebagai pelajaran gemilang. Bukan kutukan. Apalagi hukuman. Perih yang ada di ...
Posting Terkait
NARSIS (15) : JARAK RINDU
Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat ...
Posting Terkait
NARSIS (5) : TAKDIR CINTA
erempuan Wangi Bunga itu mengerjapkan mata, ia lalu membaca kembali baris-baris kalimat pada emailnya yang sudah siap dikirim ditemani lantunan lagu "Takdir Cinta" yang dinyanyikan oleh Rossa. Hatinya mendadak bimbang. ...
Posting Terkait
(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu
Malam turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan kenangan lama. Di tepi sawah yang mulai menguning, Saka berdiri memandangi langit. Rembulan menggantung sendu di atas pohon randu tua : pohon ...
Posting Terkait
PADA SAMPAN YANG SENDIRI
Inspirasi foto : Suasana Sunset di Pantai Losari Makassar, karya Arfah Aksa Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia ada sampan yang sendiri. Terdampar di sisi pantai Losari yang sunyi. Kita menyaksikan rona ...
Posting Terkait
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK HUJAN
Lelaki itu menghirup cappuccinonya. Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada. Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ...
Posting Terkait
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT PETANG HARI
Dia tahu. Tapi tak benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya cara menata hati dari kisah cintanya yang hancur lebur dan lenyap bersama angin. Dia tidak sok tahu. Hanya berusaha memahami. Bahwa luka oleh cinta bisa dibasuh ...
Posting Terkait
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
Konon, katamu, secara zodiak kita berjodoh. Aku berbintang Aries, Kamu Sagitarius. Persis seperti nama depan kita : Aku Aries dan Kamu Sagita. Cocok. Klop. Pas. Kamu lalu mengajukan sejumlah teori-teori ilmu astrologi yang konon ...
Posting Terkait
Narsis : Senja di Pelabuhan Lama
ujan gerimis membasahi dermaga tua itu, seperti air mata langit yang tak kunjung berhenti. Ardi berdiri di ujung pelabuhan, menatap kapal-kapal yang berlabuh dengan tatapan kosong. Angin laut membawa aroma ...
Posting Terkait
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA KELAM DIHATINYA
"Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya," suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Sonny, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum ...
Posting Terkait
NARSIS: Diantara Dua Dunia
Langit senja menggantung lesu di atas kota yang mulai lelah. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, membentuk jejak cahaya yang samar. Di bawahnya, seorang pemuda berjaket lusuh berdiri diam di ...
Posting Terkait
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Pengantar : Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis. Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan ...
Posting Terkait
NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI
Rintik gerimis senja selalu membawa lamunanku padamu. Ketika irisan-irisan air itu jatuh dari langit, kau akan senantiasa memandangnya takjub dari balik buram kaca jendela. Menikmatinya. Meresapinya. Tak berkedip. "Menikmati gerimis senja ...
Posting Terkait
NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA
NARSIS : Ketika Sally Memilih Sendiri
(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
NARSIS (15) : JARAK RINDU
NARSIS (5) : TAKDIR CINTA
(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu
PADA SAMPAN YANG SENDIRI
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
Narsis : Senja di Pelabuhan Lama
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA
NARSIS: Diantara Dua Dunia
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *