Catatan Dari Hati

(Cerpen) : Separuh Nafas yang Tertinggal di Pintu

Malam itu, Rania berdiri di ambang pintu dengan cara yang aneh : setengah tubuhnya masih di dalam rumah, setengahnya lagi sudah menjadi milik malam.

Dimas menatapnya dari kursi ruang tamu. Ia tidak beranjak. Ia tidak tahu harus beranjak ke mana, sebab ke arah mana pun ia melangkah, rasanya salah.

“Kau serius?” kata Dimas akhirnya.

Suaranya keluar dengan tenang, tapi ketenangannya justru menjadi hal yang paling menyakitkan malam itu.

Rania mengangguk pelan.

Bibirnya sedikit gemetar, bukan karena dingin , melainkan karena ada kalimat-kalimat yang sudah terlalu lama ia simpan di balik gigi, dan sekarang ia harus melepaskan semuanya sekaligus.

“Aku tidak bisa terus seperti ini, Mas.”

Dimas menelan ludah.

Ia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin sejak tadi, hanya untuk memberi tangannya sesuatu untuk dipegang.

Dua belas tahun. Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk dipilah-pilah dalam satu percakapan malam di ruang tamu dengan satu lampu kuning yang setengah mati.

Dua belas tahun adalah kumpulan dari ribuan pagi, ribuan sarapan bersama, ribuan pertengkaran kecil tentang hal-hal bodoh seperti siapa yang lupa membeli garam atau siapa yang meninggalkan pintu kulkas tidak tertutup rapat.

Dua belas tahun adalah sejarah yang tidak bisa dilipat rapi lalu dimasukkan ke dalam koper.

Tapi Rania sudah memegang koper itu sejak tadi.

“Kau mau pergi malam ini?” tanya Dimas.

“Iya.”

“Ke mana?”

“Ke tempat Bunda, dulu. Sampai aku tahu harus ke mana selanjutnya.”

Dimas menunduk.

Di lantai, bayangan lampu membentuk lingkaran kecil yang terus bergetar karena kipas angin di sudut ruangan berputar dengan malas.

Ia memikirkan banyak hal dalam waktu yang sangat singkat : tentang perjalanan pertama mereka ke Yogyakarta dua belas tahun lalu, tentang foto di atas lemari yang wajah keduanya masih sangat muda dan sangat yakin, tentang nama-nama yang pernah mereka bicarakan untuk anak-anak yang tidak pernah benar-benar hadir.

“Rania,” panggilnya, pelan.

“Mas.”

“Apakah aku melakukan sesuatu yang sangat salah?”

Perempuan itu diam cukup lama. Di luar, sebuah motor lewat dengan suara knalpot yang terputus-putus. Di kejauhan, ada suara azan yang datang sangat lirih, mungkin dari mushola di gang sebelah.

“Tidak,” kata Rania akhirnya. “Justru itulah yang membuatnya lebih sulit.”

Dimas mendongak. Matanya bertemu mata Rania untuk pertama kalinya malam itu dan ia melihat sesuatu di sana yang lebih berat dari kemarahan. Lebih berat dari kebencian.

Ia melihat kelelahan. Kelelahan yang sudah menua di balik bola mata perempuan yang dulu pernah tertawa paling keras di antara semua orang yang pernah ia kenal.

“Kamu tidak salah,” lanjut Rania, dan suaranya kini sedikit retak, seperti kayu tua yang menyerah pada musim. “Aku tidak salah. Kita hanya… tumbuh ke arah yang berbeda, Mas. Dan tidak ada yang bisa dipersalahkan untuk itu.”

Dimas ingin menyangkal.

Ia ingin berkata bahwa mereka masih bisa diperbaiki, bahwa setiap retakan masih bisa ditambal, bahwa ia bersedia mengulang dari nol kalau perlu , ia bersedia belajar lagi bagaimana menjadi seseorang yang dibutuhkan Rania.

Tapi kalimat itu tersangkut di tenggorokan, sebab jauh di dalam dadanya, ia tahu bahwa Rania benar. Dan kebenaran itu justru yang paling kejam.

Rania melangkah ke dalam sebentar, kembali ke dapur. Ia mengisi sebotol air minum, meletakkannya di meja dengan hati-hati, lalu kembali ke pintu.

Gerakan-gerakan kecil itu — yang begitu familiar — menghantam Dimas lebih keras dari kata-kata mana pun.

“Botol air itu untuk kamu,” kata Rania. “Kamu selalu lupa minum kalau lagi sedih.”

Dimas menutup matanya.

Di balik kelopak yang terpejam, ia melihat Yogyakarta. Prambanan di sore hari. Rania tertawa karena tersandung batu di dekat candi kecil, dan ia menggandeng tangannya sambil ikut tertawa meski hatinya sebenarnya khawatir.

Ia melihat tahun-tahun itu mengambang seperti gelembung sabun : indah dan rapuh dan tidak bisa digenggam.

Ketika ia membuka mata, Rania sudah memeluknya.

Pelukan itu bukan pelukan selamat datang. Bukan pula pelukan selamat tinggal yang biasa.

Ini adalah pelukan dari seseorang yang sedang menaruh sesuatu yang berat ke atas meja dan berkata: kamu yang jaga, ya, sebab aku tidak sanggup membawanya lebih jauh.

“Jaga dirimu, Mas,” bisik Rania di dekat telinganya.

“Kamu juga.”

Perempuan itu melepaskan pelukannya. Ia mengangkat koper. Ia melewati pintu.

Dan pintu itu menutup dengan suara yang sangat pelan , bukan bantingan, bukan hentakan , hanya suara klik kecil yang entah kenapa terasa seperti guntur di dalam dada Dimas.

Ia duduk sendirian di ruang tamu itu cukup lama.

Lalu ia meraih botol air yang ditinggalkan Rania, membukanya, dan meminumnya sampai habis.

***

Di luar, Rania berjalan ke arah jalan besar dengan langkah yang tidak tergesa. Ia tidak menoleh. Bukan karena tidak ingin — justru karena sangat ingin, itulah mengapa ia tidak berani.

Di langit yang sudah gelap, tidak ada bintang malam ini.

Hanya awan tebal yang menyembunyikan semuanya.

Dan Rania berpikir: mungkin seperti itulah perpisahan yang baik. Bukan ledakan. Bukan puing-puing. Hanya dua orang yang saling melepaskan dengan tangan gemetar dan mata yang memilih untuk tidak melihat ke belakang , bukan karena masa lalu itu buruk, tapi justru karena terlalu indah untuk dijadikan alasan berhenti melangkah.

Sebuah taksi berhenti di depannya.

Rania masuk. Pintu menutup.

Dan kota malam itu menelannya pelan-pelan, seperti laut yang menerima sungai tanpa bertanya dari mana asalnya.

***

Di rumah itu, Dimas duduk hingga fajar. Botol air kosong di tangannya.

Lampu kuning berkedip sekali, lalu mati. Tapi ia tidak bangkit untuk menggantinya. Sebab dalam kegelapan, setidaknya, ia bisa berpura-pura bahwa malam belum benar-benar selesai.

Tiga minggu setelah malam itu, Dimas masih tidur di sisi kiri ranjang.

Bukan karena lupa.

Justru karena terlalu ingat. Sisi kanan — sisi Rania — ia biarkan kosong dengan kesadaran penuh, seperti seseorang yang menyisakan satu kursi di meja makan untuk tamu yang tahu betul tidak akan datang, tapi tetap tidak sanggup melipatnya.

Setiap pagi ia bangun pukul enam. Ia rebus air. Ia buat kopi untuk dua cangkir , lalu mendadak sadar, kemudian tuangkan kopi di cangkir kedua ke wastafel dengan gerakan yang sudah menjadi ritual aneh yang bahkan tidak ia sadari kapan mulainya.

Lalu ia duduk di kursi yang sama. Menghadap jendela yang sama. Melihat pohon mangga di halaman depan yang daunnya berguguran bukan karena musim, melainkan karena pohon itu memang sedang sekarat sejak setahun lalu dan tidak ada yang sempat mengurusnya.

Rekan kerjanya mulai bertanya. Dimas menjawab dengan versi yang ringkas: Rania ada keperluan keluarga di luar kota. Versi itu ia pakai sampai dua minggu, sampai ia tidak tahan lagi berbohong kepada Pak Hendra, atasannya, yang suatu siang menepuk bahunya di parkiran dan berkata dengan suara rendah, “Mas Dimas, istri saya dulu juga pernah pergi. Saya tahu wajah orang yang menunggu.”

Dimas tidak menjawab.

Pak Hendra tidak bertanya lagi.

***

Pada hari ke dua puluh satu, sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah hafal di luar kepala.

Mas, maaf baru kabar. Aku baik-baik saja di sini. Semoga Mas juga baik.

Dimas membaca pesan itu sebelas kali. Bukan karena kalimatnya panjang atau rumit — justru karena terlalu pendek. Terlalu rapi.

Terlalu seperti pesan yang sudah ditulis ulang berkali-kali sebelum akhirnya dikirim.

Ia mengetik balasan. Ia hapus. Ia ketik lagi. Ia hapus lagi.

Akhirnya ia hanya menulis: Alhamdulillah. Aku baik.

Tiga kata. Dua di antaranya bohong.

***

Yang paling berat bukan malam-malamnya.

Malam, setidaknya, ada kegelapan yang bisa ia salahkan atas segala sesuatu yang ia rasakan. Yang paling berat adalah Minggu pagi.

Minggu pagi adalah milik mereka berdua sejak dulu , sejak apartemen kecil di Tebet, sejak masih belum punya kulkas sendiri dan harus titip minum di warung bawah.

Minggu pagi adalah Rania yang bangun lebih awal dan menyeduh teh jahe karena katanya kopi terlalu keras untuk memulai hari libur.

Minggu pagi adalah suara radio kecil yang selalu diputar Rania di dapur, memilih lagu-lagu lama yang liriknya tidak pernah benar-benar Dimas hafal tapi selalu terasa seperti rumah.

Minggu pagi pertama tanpa Rania, Dimas menyalakan radio itu.

Dan lagu pertama yang keluar adalah suara Broery Marantika — selamat tinggal, selamat jalan — dan Dimas mematikannya dalam tiga detik lalu duduk di lantai dapur dengan punggung bersandar ke lemari es selama setengah jam penuh tanpa bergerak.

***

Bulan kedua, Ibu Dimas datang dari Surabaya.

Beliau tidak banyak bicara. Beliau datang membawa tiga tupperware masakan dan satu pertanyaan yang tidak pernah keluar dari mulutnya tapi selalu ada di matanya setiap kali memandang Dimas.

Mereka makan malam bersama di meja yang sama tempat Rania dulu selalu lupa meletakkan sendok dengan benar , selalu miring, selalu hampir jatuh.

“Kamu masih cinta dia?” tanya Ibu, akhirnya, setelah piring-piring sudah dicuci dan teh sudah diseduh.

Dimas menatap cangkirnya.

“Itu bukan pertanyaan yang tepat, Bu.”

“Lalu pertanyaan apa yang tepat?”

Dimas berpikir cukup lama.

Di luar, hujan mulai turun , gerimis pertama musim ini, yang datang terlambat dan terasa seperti permintaan maaf.

“Pertanyaan yang tepat adalah: apakah cinta saja cukup?” katanya pelan. “Dan jawabannya, rupanya, tidak selalu.”

Ibunya diam.

Lalu mengangguk perlahan , bukan sebagai persetujuan, melainkan sebagai pengakuan.

Pengakuan bahwa ada kebenaran-kebenaran di dunia ini yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk seorang ibu yang ingin sekali membenahi hidup anaknya seperti membenahi tempat tidur yang kusut.

***

Pada suatu sore di bulan ketiga, Dimas pulang melewati jalan yang berbeda dari biasanya.

Tanpa rencana. Tanpa alasan yang jelas.

Kakinya hanya membawa ia menyusuri trotoar yang lebih panjang, melewati toko-toko kecil yang sudah ada sejak dulu, melewati warung sate yang asapnya selalu mengepul ke arah yang sama tidak peduli angin bertiup dari mana, melewati sebuah toko buku kecil yang jendelanya dipenuhi dengan tumpukan buku bekas yang disusun tanpa aturan.

Di jendela toko buku itu, ia melihat sebuah novel tipis dengan sampul biru.

Judulnya tidak penting. Yang penting adalah di sampulnya ada gambar dua orang yang berdiri saling memunggungi di bawah satu payung  dan entah kenapa gambar itu terasa seperti ada yang menampar pipinya dengan lembut.

Ia masuk dan membeli buku itu.

Ia tidak tahu apakah ia akan membacanya. Tapi ia membelinya. Dan itu terasa seperti sesuatu.

***

Malamnya, ia membuka buku itu di halaman mana saja, dan matanya jatuh pada satu kalimat di tengah paragraf yang tidak ia mengerti konteksnya:

Perpisahan yang baik bukan yang tidak meninggalkan luka : tapi yang meninggalkan cukup ruang untuk bernafas.

Dimas menutup buku itu.

Ia berbaring di sisi kirinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, ia membiarkan sisi kanan ranjang itu kosong bukan sebagai bentuk penantian , melainkan sebagai bentuk penerimaan.

Bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak berakhir dengan jawaban. Yang tidak berakhir dengan rekonsiliasi atau kehancuran total.

Yang berakhir hanya dengan dua orang yang saling melepaskan tangan di persimpangan, lalu berjalan ke arah yang berbeda, membawa masing-masing separuh dari sesuatu yang pernah utuh.

Angin masuk dari celah jendela yang tidak pernah benar-benar bisa ditutup rapat, jendela yang dulu selalu Rania keluhkan dan Dimas selalu janjikan untuk diperbaiki tapi tidak pernah sempat.

Dimas membiarkan angin itu masuk.

Mungkin untuk pertama kalinya, ia membiarkannya masuk tanpa ingin menutupnya kembali.

***

Jauh di sana, di kota lain, di bawah langit yang berbeda , Rania sedang duduk di teras rumah ibunya, memegang secangkir teh jahe, mendengarkan suara jangkrik yang tidak pernah ada di Jakarta. Ia menatap bintang-bintang yang malam ini keluar semua sekaligus, seperti sedang menghadiri sesuatu.

Ia memikirkan Dimas.

Bukan dengan penyesalan. Bukan dengan kerinduan yang ingin membalik keputusan.

Hanya dengan kelembutan. Kelembutan yang hanya bisa tumbuh setelah seseorang sudah cukup jauh berjalan untuk bisa menoleh ke belakang tanpa jatuh.

“Semoga kamu baik-baik saja, Mas,” bisiknya pada langit yang tidak menjawab , sebab langit memang tidak pernah menjawab, ia hanya menyaksikan, dan kadang itu sudah lebih dari cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *