Di Penghujung September, Cinta Kita Menolak Gugur
September kembali menyapa, dan di penghujung bulan ini, tepat di tanggal 25, angkamu bertambah satu. Lima puluh dua tahun.
Sebuah rentang waktu yang tidak lagi bisa dibilang singkat, namun setiap kali aku menatap matamu, aku masih melihat binar perempuan yang sama, yang dulu menggetarkan hatiku hanya lewat getaran suara di ujung telepon pada suatu sore di tahun 1996.
Ya, bagiku pesonamu adalah love at the first voice
Waktu memang arsitek yang paling mahir.
Dua puluh tujuh tahun sudah kita mengayuh bahtera ini sejak prosesi sakral di Gedung Wayang Kekayon, Yogyakarta pada 10 April 1999.
Masih terekam jelas dalam ingatanku, bagaimana kita memulai semuanya dari sebuah kamar kontrakan pengap berukuran 2×3 meter di Jalan DR. Sutomo, Cawang.
Di tempat kecil itulah, fondasi ketangguhan kita diuji. Menjelang Lebaran tahun 1999, saat uang tabungan kita terkuras habis untuk biaya pengobatan Bapak di Yogya, kau dengan senyum yang begitu menenangkan menyerahkan perhiasan emas mas kawin kita untuk digadaikan. Kau melakukannya dengan ikhlas agar kita tetap bisa merayakan hari kemenangan dan memasak Sambal Goreng Hati kesukaanku.

Di dapur mungil yang dipenuhi kepulan asap itu, kau berucap dengan tulus, “Biarkan emas itu tergadai, asal bukan cinta kita.”Kalimat itu menancap abadi di dadaku.
Perjalanan kita tidak selalu bertabur bunga.
Ada masa-masa penantian yang diwarnai genangan air mata. Tiga tahun lamanya kita menunggu kehadiran buah hati, melewati malam-malam panjang dengan doa yang berderai selepas sholat tahajud, membagi kesedihan yang menghimpit dada.
Aku masih ingat rumah kita di Taman Aster Cibitung. Ada hari-hari ketika kita duduk berdua dalam diam, sama-sama menyimpan pertanyaan yang tidak perlu diucapkan. Kita berdoa setelah salat. Kadang menangis.
Kita mencoba berbagai ikhtiar, dari yang medis sampai yang agak konyol. Air kelapa muda, berbagai ramuan, sampai toge pernah menjadi bagian dari perjuangan kita.
Sekarang kalau mengingatnya, aku bisa tertawa.
Tetapi ketika menjalaninya dulu, tidak ada yang lucu.
Ada penantian.
Ada kecemasan.
Ada pertanyaan orang yang terkadang terasa lebih tajam daripada yang mereka sadari.
Dan ada doa yang terus kita ulang.
Sampai suatu sore pada awal Maret 2002, engkau datang dengan senyum yang berbeda. Dari balik punggungmu kau keluarkan sebuah benda kecil.
Alat tes kehamilan.
Dua garis merah.
Aku tidak ingat persis apa yang kukatakan. Yang kuingat, aku berjingkrak seperti anak kecil di ruang tamu. Setelah tiga tahun menunggu, akhirnya doa itu menemukan jawabannya.
Tentu kau juga tidak lupa pada masa-masa kehamilan yang penuh warna itu. Saat kau ngidam berat ingin menyantap bakso dari perempatan Jalan Kaliyoso Yogya, dan aku yang kebingungan akhirnya membawa pulang Bakso Titoti Pasar Minggu sebagai gantinya.
Pada 25 November 2002 lahirlah Rizky. Dua tahun kemudian, 11 November 2004, Alya menyusul. Rumah yang dahulu begitu sunyi berubah menjadi penuh suara.
Tangis, tawa, teriakan, langkah kaki kecil, dan segala kerepotan yang pada saat itu mungkin terasa melelahkan, tetapi sekarang justru menjadi bagian dari kenangan yang paling ingin kuulang.

Anak-anak membuat kita mengenal bentuk cinta yang lain. Cinta yang membuat kita rela bangun tengah malam, khawatir ketika demam, tertawa karena tingkah mereka, dan diam-diam berdoa agar Tuhan menjaga mereka lebih baik daripada kita mampu menjaganya.
Namun, menjadi orang tua juga mengajarkan kita tentang lara dan keikhlasan. Agustus 2007 adalah salah satu titik terberat, saat musibah menyapa dan tubuh putra sulung kita tersiram air panas mendidih.
Di Kamar 314 Rumah Sakit Harapan International, melihat sebagian tubuhnya melepuh dan wajahmu yang pucat pasi penuh penyesalan sambil terus menangis, hatiku ikut hancur.
Di ranjang pesakitan itu, Rizky justru menguatkan kita dengan suara lirihnya yang memintaku, “Papa, jangan menangis!”.
Kejadian itu mengikat jiwa kita berempat lebih erat, mengajarkan kita untuk saling merangkul, saling menguatkan, dan menjadi tameng satu sama lain.
Kini, anak-anak kian melangkah jauh meniti jalan hidup mereka. Rizky sudah menyelesaikan studi Teknik Informatika di Telkom University dan Alya baru saja menuntaskan sidang skripsinya di Fakultas Komunikasi President University.
Sungguh, Membesarkan mereka dengan warisan ketangguhanmu bukanlah perjalanan yang ringan.

Aku tahu ada banyak lelah yang kau sembunyikan di balik senyum pagimu, ada banyak doa yang kau rentangkan dalam sujud malammu untuk menjaga keutuhan Keluarga kita.
Kau merawat rapuhnya diriku dan menjaga tegaknya pondasi rumah ini dengan kesabaran yang tak bertepi.
Cinta kita di usia ini bukan lagi gelora yang meletup-letup seperti masa muda. Cinta kita kini menjelma menjadi sesuatu yang lebih senyap, namun berakar jauh lebih dalam.
Ia hadir dalam kehangatan ruang keluarga, dalam pelukan yang menenangkan.
Kita telah sampai pada etape di mana kata-kata sering kali tak lagi dibutuhkan untuk saling memahami isi kepala.
Selamat ulang tahun yang ke-52, Sri Lestari, belahan jiwaku.
Semoga Sang Pencipta senantiasa mendekapmu dengan kesehatan, merengkuhmu dengan kedamaian, dan menghujanimu dengan kebahagiaan yang tak terputus.
Mari menua bersama, merayakan sisa waktu yang dianugerahkan kepada kita dengan rasa syukur yang utuh, menertawakan hal-hal kecil yang dulu mungkin membuat kita berdebat, dan terus bergandengan tangan menapaki sisa hari.
Terima kasih telah memilihku, bertahan merawat rindu bersamaku, dan mencintaiku tanpa jeda.