Flash Fiction : Surat
Setiap pagi, Alin meninggalkan surat kecil di tas Rega. Kata-kata manis, puisi pendek, dan doa-doa lirih.
Rega selalu tersenyum membacanya—atau itulah yang Alin pikirkan.
Sampai suatu sore, ia datang lebih awal ke kantor. Melihat Rega tertawa bersama wanita lain. Lalu dengan ringan berkata, “Eh, kamu yang selama ini naruh surat? Kirain si Dira…
”
Hati Alin tercekat. Bukan karena Rega mencintai orang lain, tapi karena cintanya hanya dianggap permainan tebakan.
Dan sejak hari itu, ia berhenti menulis. Kadang cinta ternoda bukan karena disakiti, tapi karena tak pernah benar-benar dilihat.