Flash Fiction : Kursi Sebelah Kanan
Restoran itu masih sama. Dinding bata merah, lampu gantung kuning redup, dan pelayan tua yang hafal pesanannya—nasi goreng pedas tanpa kecap.
Tapi ada yang tak lagi sama: kursi sebelah kanan kosong.
Dulu, di sanalah Raka duduk. Menyodorkan tisu saat mata Lila basah karena tawa, bukan tangis. Menyentuh tangannya diam-diam di bawah meja. Menyuruhnya pulang cepat karena hujan akan turun.

Sekarang, Lila tetap datang setiap Jumat. Duduk di meja yang sama, memesan dua porsi, dan memandangi kursi kosong itu seolah masih ada yang duduk di sana.
Kadang, ia berbicara pelan.
“Hari ini aku nggak nangis, Rak. Hebat, kan?”
Pelayan menyajikan dua piring.
Satu tak pernah disentuh.
Waktu terus berjalan, tapi rasa kehilangan tak tahu caranya pulang.