Catatan Dari Hati

Senjakala Naga: Menemukan Kembali Denyut Kemanusiaan di Tengah Kelelahan Industri Cina

Sesuatu yang menggelisahkan tengah menggeliat di balik angka-angka gemerlap industri China.

Di luar sana, ribuan cerobong asap pabrik masih mengepul, jutaan pekerja masih hadir setiap fajar, dan kapal-kapal kargo masih berlayar membelah samudra membawa produk berlabel “Made in China.”

Namun di dalam sistem itu, sesuatu yang sangat mendasar sedang retak , bukan dengan suara keras, melainkan dengan keheningan yang jauh lebih menakutkan.

Itulah fenomena yang oleh para ekonom disebut diminishing returns  atau dalam bahasa yang lebih menyentuh hati: hukum alam yang mengingatkan bahwa tidak ada mesin, tidak ada negara, tidak ada model pembangunan, yang bisa terus berlari tanpa pernah memperlambat langkah.

Diminishing returns, atau “hasil yang semakin berkurang,” adalah konsep ekonomi klasik yang dikembangkan oleh para pemikir besar seperti David Ricardo dan Alfred Marshall pada abad ke-18 dan 19.

Dalam logika yang paling sederhana, ia berbicara tentang titik di mana setiap tambahan investasi, modal, atau tenaga kerja yang dicurahkan ke dalam sebuah sistem produksi mulai menghasilkan keuntungan yang semakin kecil.

Bayangkan seorang petani yang terus-menerus menambah pupuk ke ladangnya , pada mulanya tanaman tumbuh subur, namun setelah melewati batas tertentu, tambahan pupuk justru meracuni tanah. Begitu pula sebuah perekonomian.

China membangun keajaiban industrinya di atas fondasi yang tampak tak tergoyahkan. Sejak Deng Xiaoping membuka pintu ekonomi pada akhir 1970-an, negara ini berhasil mengangkat ratusan juta warganya dari kemiskinan dalam tempo yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Selama tiga dekade berikutnya,

China menjadi mesin pertumbuhan dunia: murah, cepat, dan tak kenal lelah. Pada 2025, China menyumbang sekitar 30 persen dari nilai tambah manufaktur global, mempertahankan posisinya sebagai kekuatan manufaktur terbesar di dunia selama 16 tahun berturut-turut.

Investasi digelontorkan besar-besaran ke pabrik baja, aluminium, batu bara, dan kemudian ke panel surya, kendaraan listrik, semikonduktor, hingga peralatan komunikasi. Inilah kejayaan yang nyata, bukan sekadar statistik.

Namun kejayaan itu kini mulai memperlihatkan wajah lainnya. Model ekonomi China yang berfokus pada investasi pemerintah dan ekspor kini menunjukkan tanda-tanda diminishing returns yang nyata, ditandai oleh ketidakseimbangan serius di mana pasokan jauh melampaui permintaan domestik.

Pertumbuhan ekonomi yang dulu bisa menyentuh 10 persen per tahun kini merayap di kisaran 5 persen, dan bahkan angka itu pun, menurut banyak analis independen, mungkin lebih tinggi dari kenyataan di lapangan.

Hasil yang semakin berkurang dari penambahan modal ke stok kapital yang sudah sangat besar berarti pertumbuhan investasi hampir pasti akan melambat dalam jangka panjang; perusahaan-perusahaan swasta telah memangkas rencana ekspansi mereka, sementara perusahaan milik negara melangkah masuk untuk menjaga belanja tetap kuat — namun ini tidak bisa berlangsung selamanya.

Yang membuat fenomena ini begitu dramatis adalah skalanya. Hampir 30 persen perusahaan industri China kini beroperasi dalam kerugian, naik dari 20 persen sebelum pandemi. Dan yang lebih mengkhawatirkan, proporsi sektor manufaktur yang merugi kini mencakup hampir 11 persen dari total aset sektor tersebut, naik dari hanya sekitar 4 persen pada 2019.

Ini bukan sekadar angka di atas kertas , ini adalah kisah tentang jutaan pekerja di pabrik-pabrik yang terus berproduksi bukan karena menguntungkan, melainkan karena berhenti berarti mati.

Dengan kapasitas yang terus membengkak, harga yang terus jatuh, dan hampir sepertiga perusahaan beroperasi dalam kerugian, entitas-entitas ini terdorong untuk memproduksi sebanyak mungkin hanya demi bertahan hidup.

Sektor-sektor yang paling terdampak adalah justru yang paling diandalkan China untuk masa depannya. Di sektor permesinan listrik, 29 persen perusahaan merugi; di sektor peralatan komunikasi dan komputer, angka itu mencapai 34 persen; dan di sektor produk medis dan farmasi, 32 persen perusahaan tidak lagi mampu menutup biaya operasionalnya.

Bahkan di industri mesin CNC — tulang punggung manufaktur presisi — produsen China pada 2024 mengalami penurunan pendapatan sebesar 5,2 persen dan penurunan laba yang menghancurkan sebesar 76,6 persen.

Akar masalahnya dapat ditelusuri ke dalam logika kebijakan industri China sendiri. Selama bertahun-tahun, negara ini menyuntikkan investasi besar-besaran , melalui bank-bank milik negara, subsidi pemerintah, dan insentif fiskal , ke dalam kapasitas produksi yang jauh melampaui kebutuhan pasar domestik.

Surplus produksi kemudian didorong ke pasar dunia dengan harga yang sangat rendah, menggusur produsen lokal di berbagai negara. Kelebihan produksi terlihat jelas di sektor semikonduktor dan kendaraan listrik, di mana produksi jauh melampaui konsumsi domestik, mendorong ekspor besar-besaran, dan China diproyeksikan menyumbang hampir separuh dari kapasitas semikonduktor global yang baru dari 2024 hingga 2029. Ketika dunia mulai melawan dengan tarif tinggi dan hambatan dagang, sistem yang dibangun di atas logika ekspor ini mulai kehilangan napasnya.

Hampir semua pengamat China setuju bahwa ekonomi negara ini sedang dalam tren penurunan struktural jangka panjang, dipicu oleh penuaan demografi, hasil investasi yang semakin berkurang, dan ketidakpastian geopolitik yang semakin tinggi.

Populasi yang menua berarti berkurangnya tenaga kerja murah yang dulu menjadi keunggulan utama China. Upah buruh manufaktur yang terus naik , rata-rata upah tahunan sektor manufaktur swasta pada 2024 mencapai 71.467 yuan atau sekitar 9.864 dolar AS , membuat China tidak lagi semurah dulu. Dan yang paling berat: kepercayaan investor swasta yang runtuh pasca-pandemi belum sepenuhnya pulih.

Pemerintah China tidak tinggal diam. Melalui apa yang disebut kampanye “anti-involusi,” Beijing berusaha mengatasi produksi berlebih dan harga yang terus jatuh di sektor-sektor seperti otomotif, panel surya, baterai, serta logam. Pemerintah terlibat dalam kampanye serupa satu dekade lalu melalui Reformasi Struktural Sisi Penawaran, yang menargetkan industri lama seperti baja, aluminium, dan batu bara.

Namun solusi jangka panjang jauh lebih kompleks dari sekadar memangkas kapasitas. China perlu melakukan transformasi mendasar: dari ekonomi yang bertumpu pada investasi dan ekspor, menjadi ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi domestik yang kuat. Ini bukan hal mudah , ini adalah perombakan DNA sebuah peradaban ekonomi.

Lalu, apa artinya semua ini bagi Indonesia? Di sinilah cerita menjadi sangat pribadi, sangat dekat, dan sangat mendesak untuk dipahami.

Indonesia dan China terikat dalam hubungan dagang yang dalam dan asimetris. Rasio ekspor Indonesia ke China terhadap total ekspor nasional mencapai 22,47 persen pada semester pertama 2024 — jauh melampaui negara-negara ASEAN lainnya. Ketika China bersin, Indonesia pun ikut menggigil.

Ekspor Indonesia ke China pada kuartal II-2024 terkontraksi sebesar minus 4,2 persen, dengan komoditas unggulan besi dan baja mengalami kontraksi paling dalam sebesar minus 26,9 persen.

Sementara itu, dari sisi impor, China justru semakin agresif membanjiri pasar Indonesia dengan produk-produknya yang murah , hasil dari kelebihan kapasitas yang harus disalurkan ke mana saja.

Impor dari China tumbuh 5,1 persen sejak awal 2024, dengan lonjakan impor tekstil dan produk tekstil dari China mencapai 35,5 persen secara tahunan pada kuartal II-2024, sementara pangsa pasar impor China di Indonesia mencapai 41 persen untuk produk tekstil.

Ini bukan sekadar angka perdagangan , ini adalah kisah tentang pekerja pabrik tekstil di Bandung yang kehilangan pekerjaan atau pengusaha batik di Solo yang tak mampu bersaing dengan harga kain impor yang dijual nyaris di bawah biaya produksi

China mendominasi impor Indonesia dengan porsi 33,42 persen dari total impor nasional , sebuah ketergantungan yang menempatkan Indonesia dalam posisi rentan setiap kali arah angin ekonomi China berubah.

Namun di balik ancaman, selalu ada peluang bagi mereka yang cukup bijak untuk melihatnya. Ketika China mulai kehilangan daya tariknya sebagai lokasi produksi akibat biaya yang naik dan ketidakpastian geopolitik, ekspor China ke Amerika Serikat turun lebih dari 10 persen pada semester pertama 2025, sementara ekspornya ke ASEAN dan India justru tumbuh masing-masing 13 dan 14 persen , menunjukkan terjadinya penataan ulang rantai perdagangan global, bukan pengurangan total.

Dalam konteks ini, Indonesia berpeluang menjadi tujuan relokasi industri dari China. Namun peluang ini tidak akan datang dengan sendirinya. Dari 33 perusahaan besar yang merelokasi produksi mereka pada 2020, hanya 7 yang memilih Indonesia, sementara 19 masuk ke Vietnam. Indonesia perlu bergerak lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih berani dalam reformasi regulasi dan kemudahan berusaha.

Jawabannya bagi Indonesia adalah strategi tiga lapis: diversifikasi pasar ekspor agar tidak terlalu bergantung pada satu mitra dagang, penguatan industri dalam negeri melalui kebijakan hilirisasi yang konsisten, dan diplomasi ekonomi aktif yang membuka pasar-pasar baru di Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

Kabar baiknya, nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai 282,91 miliar dolar AS, naik 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan industri pengolahan sebagai motor utama yang tumbuh 14,47 persen.

Ini sinyal bahwa Indonesia mulai bergerak ke arah yang benar : menjual produk bernilai tambah, bukan sekadar bahan mentah.

Fenomena diminishing returns di industri China bukan semata-mata kisah kegagalan. Ia adalah kisah tentang hukum alam yang tidak pernah pandang bulu , bahwa setiap sistem, sekeras apapun ia bekerja, pada akhirnya harus bertransformasi atau berisiko tertelan oleh momentumnya sendiri.

Bagi Indonesia, ini adalah momen langka: kesempatan untuk keluar dari bayangan raksasa dan berdiri di cahayanya sendiri.

Tapi hanya jika kita cukup berani, cukup cerdas, dan cukup bersatu untuk melangkah.

“Kemakmuran sejati bukan soal seberapa banyak yang kita produksi, melainkan seberapa bijak kita mengelola apa yang kita miliki dan seberapa manusiawi kita dalam berbagi hasilnya.”Amartya Sen, Peraih Nobel Ekonomi 1998.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *