(Narsis) : Kemana Angin Membawamu
Ada yang aneh dari cara Dara dan Langit mencintai mimpi masing-masing , mereka terhubung justru karena impian mereka saling bertolak belakang. Dara ingin tinggal. Di kota kecil ini, di antara […]
» Read moreMeretas Harapan, Merawat Kewarasan
Ada yang aneh dari cara Dara dan Langit mencintai mimpi masing-masing , mereka terhubung justru karena impian mereka saling bertolak belakang. Dara ingin tinggal. Di kota kecil ini, di antara […]
» Read moreJauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada tagar, manusia telah meramalkan sesuatu yang baru kita rasakan sepenuhnya hari ini: bahwa setiap perang membawa dua medan pertempuran : satu di tanah, […]
» Read moreAda sesuatu yang dingin dan sunyi dalam cara perang modern. Membunuh tidak selalu dengan dentuman meriam yang memekakkan telinga, tidak selalu dengan barisan prajurit yang berhadap-hadapan di ladang berlumpur. Kematian […]
» Read moreRibuan server berderet rapi dalam ruangan dingin ber-pendingin udara di Cikarang, Batam, dan pinggiran Jakarta. Di balik dinding baja dan kabel optik yang meliuk-liuk itu, tersimpan jejak digital ratusan juta […]
» Read moreSesuatu yang menggelisahkan tengah menggeliat di balik angka-angka gemerlap industri China. Di luar sana, ribuan cerobong asap pabrik masih mengepul, jutaan pekerja masih hadir setiap fajar, dan kapal-kapal kargo masih […]
» Read moreSetiap pagi, jutaan kaki melangkah tergesa di trotoar Jakarta. Klakson bersahutan. Knalpot menyemburkan napas panas. Dan di antara semua itu, kereta biru bersih meluncur senyap di atas rel : membawa […]
» Read morePada tahun 1969, seorang pria muda berusia dua puluh sembilan tahun tiba-tiba roboh di meja kerjanya di bagian distribusi sebuah koran besar Jepang. Ia mati. Bukan karena penyakit menular, bukan […]
» Read moreArif masih menyimpan draf pesan itu di ponselnya. Sudah sembilan bulan. Sudah berkali-kali ia membukanya, membacanya, lalu menutupnya lagi tanpa mengirim. Jarinya selalu berhenti tepat di tombol kirim, seperti ada […]
» Read more“Laut adalah sekolah yang keras. Ia melahirkan ras manusia yang tangguh dan patut dimuliakan: para pelaut. Tidak ada penakluk lain selain mereka.” — Victor Hugo, The Toilers of the Sea […]
» Read moreSebuah ironi yang dalam dan menyakitkan di jantung tata kelola Indonesia tengah terjadi. Negara dengan lebih dari 270 juta jiwa, dengan ribuan pulau, ribuan desa, dan ratusan kementerian serta lembaga, […]
» Read moreMalam itu, Rania berdiri di ambang pintu dengan cara yang aneh : setengah tubuhnya masih di dalam rumah, setengahnya lagi sudah menjadi milik malam. Dimas menatapnya dari kursi ruang tamu. […]
» Read moreSelama 131 hari, seorang laki-laki bernama Amsal Christy Sitepu tidur di dalam sel tahanan. Bukan karena ia merampok, bukan karena ia menipu, bukan pula karena ia mencuri uang negara dengan […]
» Read moreLangit sore itu berwarna tembaga, seolah ikut menahan napas bersama Arman yang berdiri di halte tua, tempat segalanya pernah dimulai. Sudah sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun sejak ia dan Sinta […]
» Read moreSetiap tanggal 2 April, ribuan gedung pencakar langit di seluruh penjuru bumi menyalakan cahaya biru. Jembatan ikonik, menara kembar, dan gedung parlemen bersinar dalam rona safir yang tenang : bukan […]
» Read moreMereka bertemu di waktu yang tidak direncanakan dan mungkin, tidak seharusnya. Jamal mengenalnya di sebuah perpustakaan kecil di sudut kota. Hujan sore itu turun pelan, seperti sengaja memperlambat dunia. Di […]
» Read moreSebuah ironi yang menggelitik di jantung industri konstruksi global. Setiap hari, ribuan proyek dijalankan di seluruh penjuru bumi ; jembatan yang menghubungkan kota, gedung pencakar langit yang menandai ambisi sebuah […]
» Read more