(Narsis) Belum Selesai Mencintaimu
Arif masih menyimpan draf pesan itu di ponselnya.
Sudah sembilan bulan. Sudah berkali-kali ia membukanya, membacanya, lalu menutupnya lagi tanpa mengirim. Jarinya selalu berhenti tepat di tombol kirim, seperti ada sesuatu di ujung sarafnya yang menolak, yang berkata: belum. Belum saatnya.
Pesan itu hanya terdiri dari dua belas kata:
“Aku ingin bilang sesuatu yang sudah lama ingin kubilang.”
Hanya itu. Tidak ada lanjutannya. Karena lanjutannya tidak pernah sempat ia tulis. Karena Sari pergi sebelum ia sempat.
***
Sari meninggal di hari Rabu. Kecelakaan.
Cepat sekali , kata dokter, ia tidak sempat merasakan sakit.
Arif menerima kabar itu lewat telepon, dari nomor yang tidak ia kenal, suara perempuan yang ternyata adalah ibu kos Sari. Ia sedang makan siang waktu itu, sendok nasinya masih di tangan, dan ia tetap memegang sendok itu bahkan setelah ponsel jatuh ke lantai, bahkan setelah ia duduk di atas kursi dengan lutut yang tiba-tiba tidak bisa menanggung berat badannya.
Sendok itu baru ia letakkan sejam kemudian.
***
Arif dan Sari bukan sepasang kekasih. Belum.
Mereka ada di wilayah abu-abu yang orang-orang biasanya sebut “lebih dari teman tapi belum resmi” ; wilayah yang nyaman sekaligus menyiksa, yang membuat dua orang saling menunggu tanpa tahu siapa yang harus melangkah lebih dulu.
Arif tahu ia mencintainya. Sudah lama tahu. Tapi ia menunggu waktu yang tepat, menunggu pekerjaannya lebih stabil, menunggu keberanian yang selalu terasa kurang satu ukuran, menunggu hari yang tepat yang ternyata tidak pernah datang.
Dan kini hari-hari itu habis.
***
Sembilan bulan setelah kepergian Sari, Arif masih berbicara padanya.
Bukan di makam , hanya sekali ia ke sana, dan rasanya terlalu final, terlalu keras, terlalu nyata.
Ia lebih sering berbicara di kamarnya sendiri, di depan foto Sari yang ia cetak dan taruh di meja kerjanya. Foto itu diambil saat mereka hiking bersama dua tahun lalu , Sari sedang tertawa melihat ke kamera, matanya berbentuk bulan sabit, rambut ikalnya ditiup angin.
“Hari ini aku presentasi,” katanya suatu Senin pagi. “Kamu pasti sudah tahu aku nervous.”
Atau: “Hujan hari ini. Kamu pasti senang , kamu selalu suka hujan, aneh sekali.”
Atau, di malam-malam yang paling sunyi: “Aku minta maaf. Harusnya aku bilang lebih cepat. Harusnya aku tidak menunggu.”
***
Suatu hari, sahabatnya, Reno, datang berkunjung dan menemukan draf pesan itu tanpa sengaja ; layar ponsel Arif menyala di atas meja, dan Reno membacanya sebelum sempat berpaling.
“Ini untuk Sari?” tanya Reno pelan.
Arif mengangguk.
“Kamu tidak akan pernah kirim?”
“Ke mana?”
Reno diam. Pertanyaan bodoh, ia tahu.
Mereka duduk berdua dalam diam yang lama.
Di luar, angin bergerak di antara daun-daun. Sesederhana itu dunia terus berjalan, tidak peduli ada yang patah di dalamnya.
“Selesaikan saja pesannya,” kata Reno akhirnya. “Tidak apa-apa. Selesaikan. Tulis semua yang ingin kamu bilang. Kirim ke nomornya , nomornya masih aktif tidak?”
“Sudah tidak aktif.”
“Tulis saja. Simpan. Atau buang. Terserah. Tapi selesaikan.”
***
Malam itu, untuk pertama kali dalam sembilan bulan, Arif membuka draf itu.
Ia mulai menulis.
“Aku ingin bilang sesuatu yang sudah lama ingin kubilang.”
“Aku mencintaimu. Sudah dari lama sekali , dari sebelum hiking itu, dari sebelum kita sering makan siang bersama, dari sebelum kamu mulai bercerita padaku tentang mimpi-mimpimu yang kadang terlalu besar dan terlalu indah untuk satu orang.
Aku mencintaimu dan aku pengecut karena tidak bilang lebih cepat.
Tapi aku ingin kamu tahu — di mana pun kamu sekarang — bahwa aku belum selesai. Belum selesai mencintaimu. Mungkin tidak akan pernah selesai, dan itu bukan kesedihan. Itu hadiah yang kamu tinggalkan.
Kamu mengajariku bahwa mencintai seseorang tidak harus selalu diterima untuk menjadi nyata. Bahwa kesetiaan bisa hidup bahkan tanpa kehadiran. Bahwa ada cinta yang tidak butuh jawaban karena ia sudah utuh dalam dirinya sendiri.
Aku akan baik-baik saja. Pelan-pelan.
Tapi aku tidak akan berhenti menyebut namamu. Tidak sekarang.”
Arif menyimpan pesan itu.
Tidak mengirim , tidak ada yang bisa menerima.
Tapi sesuatu di dadanya mengendur, seperti simpul yang sudah terlalu lama mengencang akhirnya sedikit dilonggarkan.
Ia menatap foto Sari di meja.
Sari tertawa ke kamera, matanya berbentuk bulan sabit.
“Sudah selesai,” bisik Arif.
Bukan pada Sari. Pada dirinya sendiri. “Belum selesai mencintaimu. Tapi sudah selesai menyimpan kata-katanya.”
Di luar, malam turun dengan tenang.
Dan di dalam kamar kecil itu, cinta yang tidak pernah sempat terucap akhirnya menemukan rumahnya , tidak di hati orang yang dituju, tapi di hati orang yang mencinta.
Dan itu, ternyata, sudah lebih dari cukup.