Catatan Dari Hati

(Narsis) : Bukan Pilihan, Hanya Kenangan

Hujan turun pelan di sudut kota, seperti sengaja meredam suara hati yang tak lagi tahu harus ke mana pulang.

Aku duduk di bangku kayu tua di halte itu, tempat yang dulu sering kita jadikan alasan untuk berlama-lama. Kau dengan cerita-cerita kecilmu, dan aku yang selalu mendengarkan seolah dunia berhenti hanya untuk kita.

Namun hari itu berbeda.

Kau berdiri di depanku, dengan mata yang tak lagi berani menatap terlalu lama. Di tanganmu, payung yang pernah kita beli bersama, yang katanya akan kita gunakan saat hujan pertama setelah kita “resmi”.

Ironisnya, hujan itu datang… tapi “kita” tidak pernah benar-benar ada.

“Aku harus jujur,” katamu pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan.

Dan dari nada suaramu, aku tahu, ini bukan tentang kejujuran yang ingin kudengar.

Ada seseorang di hidupmu. Seseorang yang lebih dulu ada sebelum aku hadir tanpa permisi.

Seseorang yang tidak pernah benar-benar kau lepaskan, meski kau menggenggam tanganku seolah aku adalah masa depanmu.

Aku tersenyum. Bukan karena kuat, tapi karena tak ingin terlihat runtuh di hadapanmu.

“Jadi… aku apa?” tanyaku, pelan.

Kau diam. Dan diam itu menjawab segalanya.

Aku bukan rumah.
Aku bukan tujuan.
Aku hanya persinggahan, tempatmu bernaung sementara, sebelum kembali ke arah yang sejak awal sudah kau pilih.

Hujan semakin deras.

Kau mencoba menjelaskan, mengatakan bahwa perasaanmu padaku nyata. Bahwa waktu bersamaku bukan kebohongan.

Tapi kata-kata itu terdengar seperti daun kering: rapuh dan mudah hancur saat disentuh kenyataan.

“Kalau nyata,” kataku, “kenapa aku harus berbagi?”

Kau tak menjawab.

Lagi-lagi diam.

Dan aku akhirnya mengerti, cinta tidak selalu soal siapa yang lebih dulu datang, tapi siapa yang benar-benar dipilih untuk tinggal.

Aku berdiri, melangkah menjauh dari bangku itu, dari hujan, dan dari dirimu. Setiap langkah terasa berat, seolah ada bagian dari diriku yang tertinggal di sana—bersamamu.

Tapi aku tahu, jika aku tetap tinggal, aku hanya akan menjadi bayangan. Dan aku tidak ingin hidup sebagai sesuatu yang selalu dibandingkan.

Sebelum benar-benar pergi, aku menoleh sekali lagi.

Kau masih di sana. Diam. Tak mengejar. Tak menahan.

Dan di situlah semuanya menjadi jelas.

Aku bukan pilihanmu.

Aku hanya bagian dari cerita yang akan kau kenang… tanpa pernah benar-benar kau perjuangkan.

Hujan hari itu akhirnya berhenti. Tapi tidak dengan hatiku.

Ia terus jatuh, pelan, tanpa suara, dan tanpa siapa pun yang peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *