Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUAPULUH

Malam itu, Randy menelepon.

Andini hampir tidak mengangkat. Tapi kemudian ia mengangkat , dengan perasaan seseorang yang sudah tahu percakapan ini perlu terjadi, meski belum tahu persis bagaimana bentuknya.

Keesokan harinya, mereka duduk di sebuah restoran di Kemang. Randy tampak lelah dengan cara yang berbeda , lelah seperti seseorang yang sudah lama membawa sesuatu dan baru memutuskan untuk meletakkannya.

“Ada sesuatu yang harus aku ceritakan,” kata Randy. “Aku tidak jujur padamu. Ada seseorang. Perempuan lain. Sudah dua bulan.”

Hening turun seperti hujan tiba-tiba.

Andini menatap lelaki di depannya. Matanya tidak mengeluarkan air mata. Tidak ada isak.

Hanya pandangan panjang yang datar : pandangan seseorang yang menemukan jawaban atas pertanyaan yang sudah lama ia tahu, tapi belum berani tanyakan.

Di dalam kepalanya, tanpa ia undang, lagu itu kembali mengalun.

Samson. Akhir Rasa Ini.

Kini tiba saatnya aku pergi Meninggalkan semua yang pernah ada Biarlah waktu yang menjawab segalanya Dan kita jalani hidup masing-masing…

“Aku tidak marah,” kata Andini akhirnya. Dan itu bukan kebohongan , ia memang tidak marah. Ia hanya merasa lelah, dan sedikit lega dengan cara yang membuatnya merasa bersalah karena merasa lega.

“An—”

“Kita sudah lama tidak baik-baik saja, Randy. Kamu tahu itu. Aku tahu itu.” Ia mengambil tasnya. “Maafkan aku juga. Mungkin aku sudah pergi dari hubungan ini jauh sebelum kamu.”

Mungkin ini memang jalan yang terbaik Untuk kita yang tak lagi bisa bersama Bukan berarti cinta ini tak nyata Hanya saja kita tak bisa bersatu…

Andini keluar dari restoran itu. Berjalan ke trotoar. Merasakan angin Jakarta yang sore itu terasa seperti napas panjang yang sudah lama tertahan.

Air matanya keluar ketika ia sudah masuk ke dalam taksi. Bukan tangis yang meledak-ledak. Hanya beberapa tetes — tangis perpisahan, bukan tangis kehilangan.

Ia menghubungi Ira. Bukan Made.

Karena ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu — dalam dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri — sebelum ia bisa berdiri di depan seseorang dan berkata apa yang perlu dikatakan.

Malam itu, di kamarnya di rumah Om Nuntung, Made terbangun dari setengah tidur.

Gambaran yang datang kali ini berbeda dari biasanya. Lebih jelas. Lebih hangat. Bukan gambaran tentang sesuatu yang akan terjadi, tapi lebih seperti konfirmasi , perasaan bahwa sesuatu yang sudah lama dalam ketidakpastian kini mulai menemukan bentuknya.

Ia memejamkan matanya kembali, membiarkan gambaran itu lewat tanpa ia genggam.

Sabarlah, kata gambaran itu, dalam bahasa yang tidak ada kata-katanya. Waktunya sudah dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *