CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUAPULUHSATU
Putry tahu tentang perpisahan itu dari Made. Made meneleponnya malam setelah Andini mengirim pesan singkat.
“Kamu mau ke sana?” tanya Putry di telepon.
“Tidak.” Made berbicara dari teras belakang. “Ini bukan waktunya.”
“Kamu benar.” Putry menarik napas. “Tapi bagaimana kamu tahu?”
Made diam sebentar. “Karena inderaku tidak menunjukkan apa-apa yang mengharuskan aku terburu-buru. Dan karena untuk pertama kalinya sejak sampai di Jakarta, aku memilih percaya pada waktu , bukan pada gambaranku.”
Putry tersenyum di ujung telepon , senyum yang tidak terlihat, tapi “terdengar”.
“Satu poin untuk kedewasaanmu,” katanya. Dan ada sedikit kepahitan dalam suaranya yang bahkan Made tidak menyadarinya atau mungkin menyadarinya, tapi tidak tahu harus berkata apa.
Setelah telepon itu ditutup, Putry duduk sendirian di apartemennya di Kalibata. Ia membuka laptop dan mulai mengetik , bukan untuk siapapun, hanya untuk dirinya sendiri.
Hal-hal yang tidak pernah kukatakan:
Pertama — aku mencintaimu jauh sebelum kamu sadar aku ada.
Kedua — ketika kamu bilang aku “teman terbaikmu,” aku tahu itu kata-kata terbaik yang bisa kamu berikan. Dan aku menerimanya, meski kata-kata itu terasa seperti pintu yang dikunci dari dalam.
Ketiga — ketika aku bilang “Go get him” dalam email itu, aku sudah tahu aku sedang mendorong diriku sendiri ke dalam sesuatu yang menyakitkan. Tapi aku melakukannya tetap saja.
Keempat — aku pindah ke Jakarta bukan hanya karena pekerjaan. Kamu tahu itu. Aku tahu kamu tahu itu. Kita berpura-pura tidak tahu.
Kelima — kamu punya kemampuan membaca orang lain dengan cara yang tidak biasa. Tapi satu hal yang kamu tidak pernah baca dengan benar tentang aku adalah ini: aku tidak selemah yang kamu takutkan. Dan aku tidak setegar yang aku pura-purakan.
Keenam — aku tidak tahu kapan aku akan berhenti mencintaimu. Mungkin tidak sekarang. Tapi aku tahu aku tidak bisa terus berdiri di pinggir lapangan.
Maka ini yang terakhir yang tidak kukatakan:
Aku pergi, Made. Bukan dari persahabatan kita. Tapi dari posisi ini — posisi seseorang yang menunggu di tepian. Aku melepaskan posisi itu. Bukan karena menyerah. Tapi karena aku berhak berdiri di tengah lapangan — untuk diriku sendiri.
Putry menutup laptopnya. Mengetik pesan ke Made: “Aku baik-baik saja. Jangan khawatir tentang aku. Urus hidupmu, urus perasaanmu. Aku akan urus milikku sendiri.”
Di luar jendela, bintang-bintang Jakarta yang jarang terlihat malam itu muncul satu per satu.