PUISI : SEPANJANG BRAGA DAN SETERUSNYA.. (II)
pada pagi ketika embun baru saja melapisi atas aspalnya
dan halimun putih tipis yang melingkupi bagai sayap bidadari erat mendekap
seperti melihatmu lagi tersenyum menyongsong hangat mentari yang muncul malu-malu
kemudian memandangku nanar dengan rindu meluap
“Kita telah menghitung jejak waktu bagai mengeja satu-satu barisan huruf
pada papan nama bangunan tua di sepanjang jalan ini,
dari Toko De Vries hingga persimpangan Javasche Bank
bersama geliat kangen menyesak dada
dan harapan yang kerap luluh dalam kegetiran, seperti jalan ini
yang makin pilu tergerus zaman”, katamu lirih
Kita berdua sudah lama menikmati kepahitan dari rasa perih kehilangan
serta ketabahan yang kita bangun dengan dada sesak
Dan kini, saat kakiku terpacak kokoh di bahu Braga, aku bagai melihat bayangmu
terbang melayang menyongsong cahaya fajar yang lembut
memantul kemilau pada permukaan tembok-tembok kusam
lalu terburai lepas bersama segala episode kenangan tentang kita di kota ini
Oh, adakah pagi masih akan merindukan malam?
Catatan:
Pada bulan Januari tahun 1992, saya pernah menulis Puisi : Sepanjang Braga dan Seterusnya (baca di sini) yang menjadi ekspresi kekaguman saya pada eksotisme Jalan Braga Bandung yang ketika itu sempat saya kunjungi dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan di PT.INTI. Kini saya kembali lagi di kota kembang ini, menyusuri jalan bersejarah itu dan mengurai kembali kenangan melalui puisi..
Berjalan menyisir kenangan itu berjuta rasa ya mas ? Puisi-puisi mas amril slalu menyentuh dan saya selalu suka membacanya 🙂
Thanks ya mbak Irma atas apresiasinya, Puisi-puisinya juga indah lho..saya juga suka membacanya
indah…..
Terimakasih ya mas Sigit
Saya jadi kangen kampung halaman saya yang sejuk itu, Bandung… Sekarang, entah kenapa Bandung jadi sepanas kota rantau yang saya tinggali saat ini, Jakarta… 🙁
mantep mas….. 🙂
postingan nya bagus
mampir yach d web kmi http://unsri.ac.id