Dari Gorontalo untuk Indonesia : Mengenang Tujuh Hari Wafatnya Rachmat Gobel, Industrialis yang Berpolitik dengan Hati
“Keberhasilan adalah 99 persen kegagalan,” demikian keyakinan Soichiro Honda, pendiri Honda Motor, sang legenda industri Jepang yang membangun kejayaan dari bengkel kecil dan rentetan kejatuhan.
Falsafah itu seolah menemukan penerusnya di sebuah negeri tropis ribuan kilometer dari Negeri Sakura, dalam diri seorang putra Gorontalo bernama Rachmat Gobel, yang memulai jalannya bukan dari kursi direktur, melainkan dari lantai pabrik yang ia sapu sendiri.
Tujuh hari sudah berlalu sejak Jumat dini hari itu, 10 Juli 2026, ketika kabar duka mengalir dari Rumah Sakit Brawijaya, Tebet. Rachmat Gobel berpulang pada pukul 03.20 WIB di usia 63 tahun, meninggalkan istri tercinta Retno Damayanti, dua anak, para cucu, dan sebuah bangsa yang kehilangan salah satu jembatan terbaiknya.
Sehari sebelumnya ia masih bekerja di Senayan, masih membahas tugas fraksi hingga malam.
Kepergiannya begitu senyap, namun gaungnya begitu nyaring. Pagi harinya, karangan bunga dari para menteri, legislator, hingga keluarga konglomerat membanjiri rumah duka di Jalan Soepomo, seakan seluruh republik ingin mengucapkan terima kasih untuk terakhir kalinya.
Kisah hidupnya nyaris seperti alur novel. Lahir di Gorontalo pada 3 September 1962 sebagai anak kelima Thayeb Mohammad Gobel, perintis industri elektronik nasional, Rachmat muda tidak dimanjakan oleh kemapanan keluarga.
Ia pernah menjadi tukang sapu pabrik saat masih duduk di bangku SMP, menyapu lantai tempat kelak ia memimpin. Selepas menamatkan studi Perdagangan Internasional di Chuo University, Tokyo, dan menimba ilmu langsung di Matsushita Group, ia pulang pada 1989 untuk membesarkan Kelompok Usaha Gobel.
Kemitraan Gobel dengan Panasonic yang ia rawat menjadi salah satu contoh paling awet tentang bagaimana teknologi asing bisa dikawinkan dengan kepentingan nasional: pabrik dibangun di dalam negeri, tenaga kerja lokal diserap, dan nilai tambah tinggal di tanah air.
Kelak, Chuo University menganugerahinya gelar doktor kehormatan pada 2014, menjadikannya orang kedua belas sepanjang 130 tahun sejarah kampus itu yang menerima penghargaan akademik tertinggi tersebut.
Dari pabrik, ia melangkah ke panggung negara. Ia dipercaya menjadi Menteri Perdagangan pada 2014 hingga 2015, lalu terjun ke politik bersama Partai NasDem. Kepercayaan rakyat kepadanya bukan basa-basi: pada Pemilu 2019, ia meraih 146.067 suara dari total 721.032 suara di Provinsi Gorontalo, kira-kira satu dari lima pemilih di kampung halamannya menitipkan mandat kepadanya.
Amanah itu mengantarnya menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2019 hingga 2024, lalu kembali bertugas di Komisi VI DPR periode 2024 hingga 2029 yang membidangi perdagangan, perindustrian, dan investasi.
Di parlemen, suaranya konsisten: industri nasional harus berdaya saing, produk dalam negeri harus tuan di rumahnya sendiri, dan Indonesia Timur tidak boleh tertinggal.
Orang terdekatnya mengenangnya dengan mata berkaca. Surya Paloh, Ketua Umum NasDem, berdiri di rumah duka dan berkata lirih, “Dia pekerja keras, dia mudah bergaul, dan saya merasa kehilangan seorang adik.”
Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi Myochin, mengaku terkejut dan menegaskan bahwa seluruh staf kedutaan tidak akan pernah melupakan kerja keras almarhum selama bertahun-tahun merawat persahabatan Jepang dan Indonesia.
Dari generasi yang lebih muda, Wakil Ketua Komisi VI DPR Eko Patrio menyebutnya mentor yang membimbingnya sejak awal berkarier, bahkan masih meneleponnya sehari sebelum wafat, sementara Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut praktik hubungan industrial di perusahaannya sebagai teladan yang dijadikan rujukan nasional.
Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata usai shalat Jumat, penghormatan negara untuk seorang yang tak pernah berhenti bekerja untuknya.
Lalu apa yang beliau wariskan? Setidaknya empat nilai yang layak diteruskan generasi mendatang. Pertama, etos kerja yang membumi: pemimpin sejati mau memulai dari menyapu lantai.
Kedua, nasionalisme ekonomi yang cerdas, bukan yang menutup diri, melainkan yang menjadikan kemitraan asing sebagai kendaraan alih teknologi dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
Ketiga, seni membangun jembatan: antara bisnis dan politik, antara Jakarta dan Gorontalo, antara Indonesia dan Jepang, ia membuktikan bahwa diplomasi personal yang tulus bisa lebih kuat dari sekadar nota kesepahaman.
Keempat, keberpihakan pada yang tertinggal, terutama kawasan timur Indonesia yang tak pernah lepas dari perjuangannya di Senayan.
Warisan itu kini diuji oleh zaman yang tidak mudah. Dunia sedang limbung: IMF baru saja memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen, dengan inflasi global diperkirakan menembus 4,7 persen akibat perang di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, dan harga energi yang melonjak.
Di tengah badai itu, Indonesia justru menorehkan kabar baik: ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026, capaian kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun, melampaui Malaysia, Singapura, bahkan China.
Menariknya, hampir seluruh lapangan usaha tumbuh positif, dengan industri pengolahan tetap menjadi salah satu kontributor terbesar PDB, sektor yang seumur hidup diperjuangkan Rachmat Gobel. Seolah data pun ikut memberi penghormatan terakhir.
Namun angka indah itu menyimpan pekerjaan rumah. Pertumbuhan masih banyak ditopang konsumsi dan belanja pemerintah, sementara defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp 240,1 triliun dengan belanja tumbuh 31,4 persen, jauh melampaui pendapatan yang naik 10,5 persen.
Ke depan, Indonesia menghadapi tiga tantangan besar: menjaga daya saing manufaktur di tengah mahalnya energi dunia, memperluas pasar ekspor saat perdagangan global melambat, dan memastikan pertumbuhan tidak berhenti di Jawa. Solusinya sesungguhnya sudah dicontohkan almarhum.
Perkuat hilirisasi dan industri pengolahan agar Indonesia menjual nilai tambah, bukan bahan mentah. Rawat kemitraan strategis dengan mitra seperti Jepang untuk alih teknologi dan investasi berkualitas, jalan yang telah ia rintis puluhan tahun.
Bangun kawasan timur dengan infrastruktur, pendidikan vokasi, dan industri berbasis sumber daya lokal. Dan yang tak kalah penting, jaga disiplin fiskal agar belanja negara benar-benar menetes menjadi produktivitas, bukan sekadar angka pertumbuhan sesaat.
Tujuh hari berlalu, dan bangsa ini perlahan belajar mengeja kehilangan. Tetapi kehilangan terbaik adalah yang melahirkan keteladanan.
Rachmat Gobel telah menunjukkan bahwa seorang pengusaha bisa berpolitik tanpa kehilangan integritas, dan seorang politikus bisa berbisnis tanpa kehilangan nurani. Kini giliran kita meneruskan sapu yang pernah ia genggam di lantai pabrik itu, menyapu lebih banyak kemiskinan, ketertinggalan, dan keraguan dari negeri ini.
Sebab pada akhirnya, seperti diingatkan penulis dan negarawan Amerika Albert Pike, “Apa yang kita kerjakan untuk diri sendiri akan mati bersama kita; apa yang kita kerjakan untuk orang lain dan dunia akan tetap tinggal dan abadi.”
Selamat jalan, Pak Rachmat. Jembatan yang engkau bangun akan terus kami seberangi.