Catatan Dari Hati

Pilar yang Goyah oleh Kepercayaan Diri: Menelisik Efek Dunning-Kruger di Proyek Konstruksi Kit

Ketidaktahuan lebih sering melahirkan kepercayaan diri daripada pengetahuan,” tulis Charles Darwin lebih dari seabad silam.

Kalimat itu terasa begitu dekat ketika kita berdiri di sebuah proyek pembangunan, menyaksikan seorang pekerja tanpa pelatihan memadai memanjat perancah dengan yakin, atau seorang pengambil keputusan menyetujui gambar kerja yang belum ia pahami sepenuhnya.

Di sanalah, di antara debu semen dan deru alat berat, sebuah gejala psikologi diam-diam ikut bekerja: efek Dunning-Kruger.

Gejala ini pertama kali dibuktikan secara ilmiah pada tahun 1999, ketika dua psikolog dari Universitas Cornell, Justin Kruger dan David Dunning, menerbitkan penelitian berjudul Unskilled and Unaware of It di Journal of Personality and Social Psychology.

Temuan mereka sederhana namun menggetarkan: orang yang paling rendah kemampuannya justru paling tinggi menilai dirinya sendiri. Bukan karena sombong, melainkan karena keterampilan yang dibutuhkan untuk mengerjakan sesuatu dengan benar adalah keterampilan yang sama yang dibutuhkan untuk menyadari bahwa kita keliru.

Ketidakmampuan, kata mereka, merampas dua hal sekaligus: hasil kerja yang baik dan kesadaran bahwa hasil itu buruk. Sejak itu, istilah efek Dunning-Kruger menyebar ke berbagai bidang, dari kedokteran, penerbangan, hingga dunia yang setiap hari mempertaruhkan nyawa manusia di ketinggian: konstruksi.

Mengapa konstruksi begitu rentan? Karena di sektor ini, ilmu sering diwariskan lewat kebiasaan, bukan kurikulum. Seorang tukang belajar dari mandornya, mandor belajar dari pendahulunya, dan begitu seterusnya, tanpa pernah diuji apakah cara itu benar menurut kaidah teknik.

Data berbicara jujur tentang hal ini. Dari sekitar 8,7 juta tenaga kerja konstruksi Indonesia menurut Survei Angkatan Kerja Nasional, catatan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi menunjukkan hanya sekitar 4,86 persen yang mengantongi sertifikat kompetensi per Desember 2024.

Artinya, lebih dari sembilan puluh persen saudara kita di lapangan bekerja berbekal keyakinan yang belum pernah diverifikasi. Bukan salah mereka sepenuhnya. Sistemlah yang membiarkan rasa percaya diri tumbuh lebih cepat daripada kompetensi.

Harganya sangat mahal. Sepanjang tahun 2024, Indonesia mencatat 462.241 kasus kecelakaan kerja, melonjak dari 370.747 kasus pada tahun sebelumnya menurut data BPJS Ketenagakerjaan, sebuah tren yang terus menanjak dari tahun ke tahun.

Di balik setiap angka itu, seorang ayah pulang dengan tubuh yang tak lagi utuh, seorang ibu menunggu suami yang tak pernah kembali, seorang anak kehilangan biaya sekolahnya.

Banyak dari tragedi itu bermula dari kalimat yang terdengar gagah di lapangan: “Tenang, saya sudah biasa.” Kalimat itulah wajah paling telanjang dari efek Dunning-Kruger, dan ia tidak hanya hinggap pada pekerja lapangan.

Ia juga bersemayam di ruang rapat, ketika estimasi biaya dipangkas oleh orang yang merasa paham struktur, ketika jadwal dipadatkan oleh yang merasa mengerti metode kerja, ketika mutu material dikompromikan oleh yang yakin “selama ini aman-aman saja.”

Tantangan ke depan tidak ringan. Dana Moneter Internasional dalam tinjauan terbarunya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3,0 persen pada 2026, tertekan gejolak geopolitik dan harga energi.

Di dalam negeri, anggaran infrastruktur menghadapi tekanan efisiensi, padahal sektor konstruksi menyumbang 9,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada 2025 menurut Badan Pusat Statistik, penyumbang keempat terbesar perekonomian nasional.

Ketika kue proyek mengecil, persaingan menajam, dan godaan untuk memangkas biaya pelatihan, pengawasan, serta keselamatan menjadi semakin besar. Justru di titik inilah efek Dunning-Kruger paling berbahaya: dalam keterbatasan, orang cenderung mengandalkan “insting” dan “pengalaman,” dua hal yang tanpa evaluasi berkala hanyalah nama lain dari kebiasaan yang belum tentu benar.

Ditambah lagi gelombang teknologi baru seperti pemodelan bangunan digital dan kecerdasan buatan yang mengubah cara kerja industri, jurang antara yang merasa bisa dan yang benar-benar bisa berpotensi semakin lebar.

Namun keputusasaan bukanlah pilihan bangsa pembangun. Solusinya harus dimulai dari kerendahan hati yang dilembagakan.

Pertama, percepat dan permudah sertifikasi kompetensi yang telah diamanatkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, dengan biaya terjangkau, uji berbasis praktik di lokasi proyek, dan penghargaan upah yang nyata bagi pemegang sertifikat, agar selembar sertifikat bukan sekadar syarat administrasi melainkan pengakuan atas martabat kerja.

Kedua, bangun budaya umpan balik di setiap proyek: evaluasi harian singkat, pelaporan nyaris celaka tanpa hukuman, dan mentor senior yang mendampingi pekerja muda, sebab obat paling mujarab bagi efek Dunning-Kruger adalah cermin yang jujur dari orang lain.

Ketiga, libatkan pendidikan vokasi, pesantren, dan balai latihan kerja daerah sebagai simpul pembinaan, meneruskan langkah Kementerian Pekerjaan Umum yang telah menjalin kolaborasi lintas kementerian dan perguruan tinggi.

Keempat, jadikan pemimpin sebagai teladan keraguan yang sehat: berani berkata “saya belum yakin, mari kita periksa lagi” adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Dan kelima, manfaatkan momentum digitalisasi untuk membangun rekam jejak kompetensi yang transparan, sehingga setiap orang tahu persis di mana ia berdiri dan ke mana ia harus bertumbuh.

Pada akhirnya, membangun gedung dan jembatan adalah pekerjaan tangan, tetapi membangun kesadaran diri adalah pekerjaan hati. Bangsa ini tidak kekurangan orang berani; yang kita butuhkan adalah keberanian jenis baru, keberanian untuk mengakui batas pengetahuan sendiri, lalu belajar melampauinya.

Setiap pekerja yang mau diuji, setiap insinyur yang mau dikoreksi, setiap pejabat yang mau mendengar, sesungguhnya sedang memasang fondasi paling kokoh bagi Indonesia Emas 2045. Sebab bangunan boleh menjulang setinggi apa pun, tetapi ia hanya akan berdiri selama manusia di baliknya jujur pada dirinya sendiri.

Bertrand Russell pernah mengingatkan dengan getir, “Akar persoalan dunia modern adalah bahwa orang bodoh begitu yakin, sementara orang cerdas dipenuhi keraguan.”

Tugas kita di dunia konstruksi Indonesia adalah membalik kutukan itu: menjadikan keraguan yang sehat sebagai kompas, dan keyakinan sebagai buah dari kompetensi yang teruji.

Dari sanalah pembangunan yang sesungguhnya dimulai, bukan dari beton, melainkan dari kesadaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *