Catatan Dari Hati

Lima Tahun Sejak Ayah Berpulang: Diary yang Usai, Kenangan yang Tak Pernah Selesai

Lima tahun sudah berlalu sejak malam itu , 11 Juli 2021, ketika kabar duka datang dari Makassar dan waktu di dada saya seolah berhenti berdetak.

Ayahanda tercinta, Karim van Gobel, berpulang ke Rahmatullah dengan tenang di usia 82 tahun, meninggalkan kami: ibu, saya sebagai anak tertua, dan ketiga adik saya.

Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun bagi hati yang kehilangan, waktu tidak pernah benar-benar berjalan maju. Ia hanya berputar-putar di sekitar satu titik: hari ketika Ayah pergi.

Genggaman Terakhir di Makassar

Saya tidak akan pernah melupakan pertemuan fisik terakhir kami, di sebuah rumah sakit di Makassar, beberapa pekan sebelum kepergiannya. Ayah menatap saya lama : tatapan yang saya kenal betul, tatapan seorang ayah yang hendak menitipkan sesuatu yang jauh lebih berat dari kata-kata.

Tangannya yang mulai lemah menggenggam lengan saya erat sekali, seakan enggan melepaskan.

Dengan suara lirih dan terbata, ia menitipkan pesan yang kini menjadi wasiat hidup saya: menjaga shalat, menjaga keluarga, menjaga Mama, dan menjaga adik-adik.

Empat penjagaan itu ia ucapkan dengan bibir bergetar, dan saya memeluknya sambil menahan tangis yang akhirnya tumpah juga. Kami menangis berdua di ruang tunggu itu. Saya tidak tahu — atau mungkin tidak mau tahu — bahwa itulah perpisahan kami di dunia.

Lima tahun kemudian, pesan itu masih terngiang setiap kali saya menggelar sajadah. Ternyata warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta, melainkan amanah , yang membuat anaknya terus merasa “ditemani” bahkan setelah ia tiada.

Lelaki yang Mencatat Kehidupan

Ayah adalah lelaki yang selalu mencatat kenangan.

Di antara semua kebiasaannya, inilah yang paling membekas di hati saya: ketekunannya menulis di buku diary, hari demi hari, tahun demi tahun, tanpa pernah absen.

Baginya, mencatat setiap peristiwa adalah caranya menghargai kehidupan , begitu ia pernah menuturkan pada saya.

Menjelang akhir tahun, saya selalu membelikannya diary baru untuk tahun berikutnya.

Itu menjadi ritual kecil kami, jembatan kasih antara anak yang merantau dan ayah yang menanti di Makassar.

Saya tidak pernah menyangka bahwa diary yang saya belikan di penghujung tahun 2020 akan menjadi diary terakhirnya.

Goresan penanya yang terakhir tertanggal 26 Mei 2021 , tulisan tangan yang sudah tak lagi tegas, karena tangan yang dulu kokoh itu mulai melemah digerogoti sakit.

Ketika kemudian saya membuka kembali diary-diary lamanya, dada saya sesak oleh haru. Di lembar-lembar itu, Ayah merekam hidupnya dengan rapi dan setia: hari-hari biasa yang ia perlakukan seperti sesuatu yang berharga. Ayah mengajarkan saya, tanpa berkhotbah, bahwa hidup yang dicatat adalah hidup yang disyukuri.

Kini catatan harian itu telah usai.

Tetapi anehnya, kisahnya justru terus ditulis : oleh saya, oleh adik-adik saya, oleh setiap orang yang pernah merasakan kebaikannya.

Pena boleh berhenti, tetapi jejak tintanya merembes ke kehidupan kami.

Dari Gorontalo ke Makassar: Jejak Sang Perantau

Ayah adalah perantau tangguh yang muda-mudanya berlayar dengan kapal kayu dari Gorontalo menuju Makassar, membawa tekad yang jauh lebih besar dari bekal di tangannya.

Ia membesarkan kami berempat dengan ketegasan yang berbalut cinta , tidak banyak kata manis, tetapi setiap peluhnya adalah doa, setiap kerja kerasnya adalah bahasa kasih yang tak terucapkan.

Saya masih mengenang masa-masa keluarga kami hidup sederhana di perantauan. Ketika gaji Ayah terlambat datang, kami makan dari hasil kebun belakang rumah  dan ajaibnya, kami memakannya dengan riang.

Ayah dan Ibu tidak pernah sekalipun memperlihatkan wajah susah di depan anak-anaknya. Mereka mengajari kami bersyukur bukan dengan ceramah, melainkan dengan teladan: tertawa di tengah keterbatasan, tegak di tengah kesulitan.

Ayah juga penyayang tanaman — “tangan dingin”, kata orang.

Apa pun yang ditanamnya tumbuh subur, seperti nilai-nilai yang ia tanamkan diam-diam di hati anak-anaknya, yang baru berbunga bertahun-tahun kemudian, justru ketika ia sudah tak ada untuk menyaksikannya.

Dan bila rindu kampung halaman datang, Ayah akan bersenandung Hulondhalo Lipu’u, lagu Gorontalo kesayangannya.

Saya masih menyimpan kenangan menyanyikan lagu itu bersamanya lewat panggilan video di masa sakitnya  dan betapa wajahnya berbinar, bait demi bait, seakan lagu itu membawanya pulang ke tanah kelahiran.

Kini setiap kali lagu itu terdengar, mata saya basah.

Ayah telah benar-benar pulang, bukan hanya ke Hulondhalo, tetapi ke haribaan Ilahi.

Lima Tahun Kemudian

Orang bilang waktu menyembuhkan luka.

Saya kini tahu itu tidak sepenuhnya benar.

Waktu tidak menyembuhkan; ia hanya mengajari kita hidup berdampingan dengan kehilangan.

Rindu kepada Ayah tidak pernah mengecil , saya saja yang belajar membawanya dengan lebih tenang.

Rindu itu datang di saat-saat tak terduga: ketika melihat pot-pot tanaman berbaris rapi di teras rumah orang, ketika mendengar suara bariton yang mirip suaranya, ketika ada kabar gembira yang refleks ingin saya sampaikan lewat telepon , lalu tersadar, tak ada lagi yang menunggu di ujung sana dengan sapaan hangatnya.

Namun lima tahun ini juga mengajarkan saya bahwa Ayah tidak sepenuhnya pergi.

Ia hadir setiap kali saya berdiri menunaikan shalat, menepati pesan terakhirnya. Ia hadir dalam cara saya mengayomi adik-adik, sebagaimana dulu ia mengayomi adik-adiknya sebagai anak sulung.

Ia hadir dalam ketangguhan yang ia wariskan lewat kata-katanya dulu di teras rumah Makassar: sekali melangkah, pantang mundur; jangan cengeng; jangan menyerah.

Jejak langkah seorang ayah memang tak akan pernah terhapus.

Ia hanya berpindah — dari kakinya, ke kaki anak-anaknya.

Untukmu, Ayah

Ayah, lima tahun sudah engkau beristirahat di tanah Samata, Kompleks Pekuburan Warga Gorontalo di Makassar, di pusara yang dahulu engkau siapkan sendiri dengan penuh kesadaran akan kefanaan.

Adzan yang kukumandangkan di liang lahatmu hari itu masih bergetar di dadaku hingga kini.

Terima kasih telah mengajari kami arti kerja keras tanpa keluh, kesederhanaan tanpa rendah diri, dan kasih sayang tanpa perlu banyak kata.

Terima kasih untuk setiap lembar diary yang engkau tulis , darinya kami belajar bahwa hidup, sesulit apa pun, layak untuk dihargai dan dicatat.

Diary-mu telah usai, Pa.

Tetapi izinkan anakmu melanjutkan catatannya : dengan menjaga shalat, menjaga keluarga, menjaga Mama, dan menjaga adik-adik, persis seperti pintamu di hari itu.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat termulia di sisi-Nya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Selamat jalan, Ayah. Insya Allah husnul khotimah.

Kami merindukanmu , hari ini, dan selamanya.

Ditulis dengan penuh cinta, mengenang lima tahun berpulangnya Ayahanda Karim van Gobel (11 Juli 2021 – 11 Juli 2026).

Catatan terkait ada disini dan disini

@amriltaufikgobel1

Ziarah ke makam ayahanda tercinta di Makassar saat lakukan tugas dinas kesana Al Fatihah Papa..

? original sound – Amril Taufik Gobel – Amril Taufik Gobel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *