PUISI : PEKIK RINDU CAMAR PUTIH DI DERMAGA FREMANTLE
lewat pekik pilu camar yang terbang lalu hinggap di pelataran dermaga
sayap putihnya mengepak indah sembari mata tajamnya melirik piring berisi “Fish & Chip” kegemaran kita diatas meja kayu
dan paruhnya yang setengah terbuka seakan membisikkan sesuatu:
tentang khayalan yang selama ini kita genggam erat saat menyusuri jalur Cappuccino Strip
juga harapan yang menempel pada dinding-dinding kusam dan dingin gedung Fremantle Prison
serta kesaksiannya tentang kepingan kangen yang tercecer sepanjang jalan menuju Freo Market
“Kesempatan ini,” katamu getir,”adalah saat tepat untuk menghadirkan segala impian meski dengan kenyataan yang perih, meresapinya, kemudian merelakannya menghilang dalam sunyi tak bertepi”
Pada malam ketika semuanya memang harus diakhiri
Kita mencoba berdamai dengan masa lalu dan mencatat setiap kelam
yang terpatri pada bangunan tua bernuansa kolonial antara Philmore Street hingga Clif Street
serta melarutkan segala kenangan tentang kita di sisi Fishing Boat Harbour
lalu membayangkannya mengapung hingga ombak samudera Hindia membawanya ke batas cakrawala
Seperti sebuah isyarat, kita menyaksikan camar pulang menuju senja
melayang di langit seraya memekik lantang, tentang rindu dan cinta yang sejatinya tak pernah pergi
Cikarang, 25 September 2013
Catatan:
Puisi ini ditulis untuk mengenang perjalanan saya ke Perth & Fremantle, Austalia bulan lalu. Baca rangkaian kisahnya disini , simak pula puisi-puisi saya lainnya disana dan miliki pula kumpulan buku puisi cinta saya “Menyesap Senyap”

