Catatan Dari Hati

Flash Fiction : Namamu Ditengah Doaku

Raisa mencintai Gilang diam-diam selama dua tahun.

Menjadi teman yang baik, pendengar setia, dan tempat pulang paling tenang.

Akhirnya, Gilang mulai berubah. Lebih perhatian, lebih sering mencari Risa.

Hatinya sempat berani berharap.

Sampai malam itu, Gilang berkata, “Aku ingin melamarnya, Sa. Doakan aku, ya.”

Raisa tersenyum.

Pelan. Palsu. Tapi cukup meyakinkan.

Dan dalam doa malamnya, ia tetap menyebut nama Gilang. Tapi kali ini, dengan air mata.

Cinta tak selalu indah.

Kadang ia tumbuh tulus, hanya untuk ternoda oleh harapan yang salah arah.

Related Posts
FLASH FICTION: SETAN KREDIT
Aku menyeringai puas. Bangga. Sebagai Debt Collector yang disegani dan ditakuti, membuat debitur bertekuk lutut tanpa daya dan akhirnya terpaksa membayar utangnya merupakan sebuah prestasi tersendiri buatku. Sang debitur, lelaki tua dengan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. ...
Posting Terkait
Teng!-Teng! Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari. Biasanya aku terbangun dari lelap tidur dan menyaksikan sesosok lelaki tua, petugas ronda malam kompleks perumahan menatapku puas dengan ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Gerimis dan Wajahmu
Gerimis jatuh di kota ini, seperti malam itu ketika ia berlari ke rumah sakit, hanya untuk menemukan tubuhmu terbaring kaku di ranjang putih. Kecelakaan, kata dokter. Tak seorang pun tahu berapa kali ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TRAGEDI BISUL
Aku meradang. Merah. Juga bernanah. Sudah tiga hari aku bercokol disini, di bokong sebelah kiri salah satu penyanyi dangdut terkenal ibukota, Nana Daranoni. Sang pemilik bokong tampaknya kurang merasa nyaman atas kehadiranku. ...
Posting Terkait
Aku menatapnya. Takjub. Dia menatapku. Marah. Aku tak tahu apa yang berada di benak wanita muda itu sampai memandangku penuh kebencian. Padahal dia hanya melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dan aku, cukuplah ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
Berkali kali lelaki itu merutuki kebodohannya. Mengabaikan perasaannya paling dalam kepada perempuan sederhana namun rupawan yang dia sukai, hanya demi harga diri sebagai lelaki kaya, tampan dan terkenal--lalu kemudian, ketika semua ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
Hening. Sunyi. Di ujung telepon aku hanya mendengar helaan nafasnya yang berat. "Jadi beneran mbak tidak marah?", terdengar suara adikku bergetar. "Lho, kenapa harus marah?", sergahku gusar "Karena Titin melangkahi mbak, menikah lebih dulu,"sahutnya ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Jam Tangan Ayah
am tangan itu sudah berhenti berdetak. Jarumnya membeku di angka 10:15. Itu waktu Papa pergi, tertidur selamanya di kursi malasnya, dengan tangan menggenggam jam tangan perak itu. Aku menyentuh kacanya yang ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: DUKUN
Lelaki tua yang mengenakan blankon yang duduk persis didepanku menatapku tajam. Pandangannya terlihat misterius.  Kumis tebalnya menambah sangar penampilannya. Menakutkan. Aku bergidik. Dukun itu mendengus dan mendadak ruangan remang-remang disekitarku menerbitkan ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Koper Hijau
Di sudut kamar, ada koper tua berwarna hijau lumut. Lapuk di bagian resleting, berdebu di pegangannya. Sudah bertahun-tahun tak disentuh, tapi tetap tak dibuang. Itu koper milik Dara. Ia mengemasnya sendiri: dua ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Kursi Kosong
Di kafe tempat biasa mereka duduk, Arga memesan dua kopi. Seperti dulu. "Yang satu buat siapa?" tanya barista keheranan. "Kenangan," jawab Arga singkat, lalu duduk di kursi sudut. Kursi di depannya kosong, seperti sudah ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
Dia baru saja menuntaskan tugasnya sore itu: melubangi kepala seorang boss besar dengan peluru yang ditembakkan olehnya dari jarak jauh, atas order boss besar yang lain. Dia puas menyelesaikan tugasnya dan ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Kita yang Tak Pernah Ada
Mereka dekat. Terlalu dekat untuk sekadar sahabat, tapi terlalu jauh untuk disebut kekasih. Fina selalu ada saat Dika terluka. Dika selalu datang saat Fina butuh pelukan. Tapi setiap kali Fina ingin bertanya: ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
Istriku uring-uringan dan mendadak membenciku dua hari terakhir ini. "Aku benci tahi lalatmu. Tahi lalat Rano Karnomu itu!" cetusnya kesal. "Pokoknya, jangan dekat-dekat! Aku benciii! Benciii! Pergi sanaa!", serunya lagi, lebih galak. Aku ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Kode Rahasia
Setiap sore, Anita duduk di jendela kamarnya, memandangi ujung jalan tempat Andi dulu biasa berdiri, mengacungkan dua jari—kode rahasia mereka: "tunggu aku." Orangtuanya bilang Andi bukan pilihan. "Anak sopir, masa depanmu ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: SETAN KREDIT
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
FLASH FICTION : TIANG LISTRIK
Flash Fiction : Gerimis dan Wajahmu
FLASH FICTION : TRAGEDI BISUL
FLASH FICTION : CERMIN TOILET
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
Flash Fiction : Jam Tangan Ayah
FLASH FICTION: DUKUN
Flash Fiction: Koper Hijau
Flash Fiction : Kursi Kosong
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
Flash Fiction : Kita yang Tak Pernah Ada
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
Flash Fiction: Kode Rahasia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *