Flash Fiction : Satu Kursi, Satu Dunia
Di kafe kecil pinggir jalan, Fikri selalu duduk sendirian. Bukan karena tak ada yang mau menemani, tapi karena tak ada yang mengerti.
Ia mendengar dunia seperti musik yang tak sinkron—semua bising, tapi tak ada yang nyambung.

Ia pernah jatuh cinta, pernah punya sahabat, tapi hidup terlalu pandai mengambil semuanya satu per satu.
Sekarang, ia hanya ingin duduk, menikmati kopi, dan menulis puisi tentang orang-orang yang tak paham arti sepi.
Kadang pelayan bertanya, “Sendiri lagi, Mas?”
Fikri tersenyum. “Saya tidak sendiri. Saya dengan pikiran saya. Dan itu sudah cukup ramai.”