Rojali dan Rohana: Cermin Resiliensi Rakyat di Tengah Badai Ekonomi Global
“Ketika semua tampak runtuh, mimpi terbesar kita adalah tetap mampu membahagiakan diri dan orang lain.” —?Nelson Mandela
Fenomena Rojali—singkatan dari Rombongan Jarang Beli—dan Rohana—Rombongan Hanya Nanya—belakangan ramai menghiasi berita ekonomi dan sosial Indonesia. Mereka adalah kelompok pengunjung mall yang datang ramai-ramai, mengitari toko, menanyakan harga, bahkan mencoba produk, namun jarang atau bahkan tidak sama sekali melakukan pembelian. Mal tetap penuh, kasir tetap sepi. Fenomena ini lebih dari sekadar kebiasaan belanja: ia merupakan barometer ketidakstabilan ekonomi, disrupsi digital, tekanan geopolitik global, dan tantangan domestik yang menumpuk saat ini.
Fenomena ini muncul tidak dalam ruang hampa. Kepercayaan konsumen di Indonesia menghadapi tantangan serius, dengan keamanan finansial menjadi prioritas utama bagi 23% konsumen pada 2024. Sementara itu, proporsi konsumen yang menjadi lebih hati-hati dalam pengeluaran mereka terus meningkat mengingat tekanan inflasi yang masih terasa. Angka-angka ini bukan sekadar data statistik dingin, tetapi refleksi dari jutaan keluarga Indonesia yang berjuang mempertahankan dignitas sosial di tengah tekanan ekonomi yang semakin mengencang.
Ekonom dari Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut fenomena ini bukan hal baru, tapi memuncak pascapandemi, ketika inflasi bahan pangan, suku bunga tinggi, dan beban cicilan membuat daya beli kelas menengah semakin menipis. Mereka datang ke mall bukan untuk membeli, tapi sebagai sarana hiburan, refresing, dan menjaga citra sosial: “cuma sekadar cuci mata, refreshing” sambil menyeimbangkan tekanan hidup yang menyesakkan. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menambahkan bahwa banyak di antara kelas menengah atas tetap memiliki uang, namun lebih memilih menabung atau berinvestasi dalam instrumen yang dianggap aman seperti surat berharga negara, emas, atau saham—alih-alih membelanjakan uangnya pada retail.
Rojali dan Rohana adalah manifestasi dari apa yang oleh sosiolog disebut sebagai “performative consumption” – konsumsi sebagai pertunjukan sosial. Mereka datang ke mal bukan semata untuk berbelanja, tetapi untuk merasakan atmosfer kemewahan, menikmati fasilitas gratis seperti AC dan wifi, serta mempertahankan identitas sosial yang terancam oleh kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ini adalah bentuk resistensi halus terhadap eksklusivitas ekonomi yang semakin menguat.
Akar permasalahan ini terletak pada kompleksitas tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Tingkat pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 4,91 persen pada kuartal ketiga 2024 dari 4,82 persen pada kuartal pertama 2024. Bahkan lebih mengkhawatirkan, berdasarkan data KSBSI, terdapat sekitar 100.000 orang yang terkena dampak PHK dari Juni 2024 hingga April 2025. Di balik setiap angka PHK, ada keluarga yang kehilangan sumber penghasilan utama, ada anak-anak yang harus menunda cita-cita pendidikan, dan ada mimpi-mimpi yang terpaksa ditunda.

Kondisi ini diperparah oleh gejolak ekonomi global yang tidak kunjung mereda. Pertumbuhan global diproyeksikan sebesar 3,2% tahun ini dan 3,3% pada 2025 dan 2026, dengan inflasi yang terus mereda. Meskipun demikian, prospeknya sangat tidak pasti. Indonesia, sebagai ekonomi terbuka, tidak dapat terlepas dari dinamika global ini. Ekonomi Indonesia telah pulih dari resesi COVID-19 dan inflasi telah turun signifikan, namun eksposur terhadap ketidakpastian global tetap tinggi.
Disrupsi digital yang terus bergulir turut memperkeruh situasi. Sementara ekonomi digital Indonesia terus tumbuh dan diproyeksikan mencapai 130 miliar dolar AS pada 2025, transformasi ini juga menciptakan polarisasi ekonomi baru. Mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi digital semakin terpinggirkan, sementara yang berhasil memanfaatkannya meraih keuntungan berlipat. Rojali dan Rohana adalah representasi dari kelompok yang berada di persimpangan ini: mereka paham teknologi digital untuk mencari informasi dan berbagi pengalaman, namun kekuasaan beli mereka terbatas.
Ketidakpastian geopolitik global juga memberikan tekanan tambahan. Konflik geopolitik yang berkepanjangan, perang dagang antar negara besar, dan ketegangan regional telah menciptakan volatilitas dalam rantai pasok global dan harga komoditas. Pada 2023 dan 2024, rupiah menghadapi tekanan baru, terdepresiasi ke level sekitar Rp 16.200 per dolar pada April 2024. Depresiasi ini disebabkan oleh ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden dan kekhawatiran atas kebijakan fiskal. Tekanan pada mata uang ini langsung dirasakan oleh masyarakat melalui kenaikan harga barang-barang impor dan bahan baku.
Namun, di balik tantangan-tantangan ini, fenomena Rojali dan Rohana justru menunjukkan ketangguhan dan kreativitas rakyat Indonesia. Mereka tidak putus asa atau larut dalam keluhan, tetapi mencari cara untuk tetap menikmati hidup dan mempertahankan martabat sosial mereka. Ini adalah bentuk resiliensi yang patut diapresiasi dan dipahami sebagai potensi yang dapat dikembangkan.
Untuk melewati semua hambatan ini, Indonesia membutuhkan pendekatan yang holistik dan humanis. Pertama, kebijakan ekonomi harus lebih inklusif dan berpihak pada kelompok menengah ke bawah. Program-program pemberdayaan ekonomi rakyat perlu diperkuat dengan akses yang lebih mudah terhadap modal usaha dan pelatihan keterampilan. Kedua, investasi dalam pendidikan dan pelatihan vokasi harus ditingkatkan untuk mempersiapkan tenaga kerja yang adaptif terhadap perubahan teknologi.

Ketiga, sektor industri kreatif dan ekonomi digital perlu diberdayakan sebagai katup penyelamat ekonomi rakyat. Banyak Rojali dan Rohana yang sebenarnya memiliki potensi kreatif yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan melalui platform digital. Keempat, sistem perlindungan sosial harus diperkuat untuk memberikan jaring pengaman bagi mereka yang terdampak PHK atau krisis ekonomi.
Kelima, pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. Mal-mal dan pusat perbelanjaan, misalnya, dapat dirancang ulang untuk menjadi ruang komunitas yang tidak hanya komersial tetapi juga edukatif dan memberdayakan. Mereka dapat menyediakan program pelatihan, workshop keterampilan, atau ruang untuk usaha mikro dan kecil.
Solusi strategis jangka panjang juga harus mencakup diversifikasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas dan meningkatkan daya tahan terhadap gejolak global. Karena konsumsi domestik tetap sekitar 55% dari PDB, setiap pengurangan berkelanjutan dalam pengeluaran konsumen juga dapat berdampak pada pertumbuhan PDB secara keseluruhan. Oleh karena itu, memperkuat daya beli masyarakat menjadi kunci utama stabilitas ekonomi nasional.
Yang tidak kalah penting adalah perubahan paradigma dalam memandang fenomena Rojali dan Rohana. Alih-alih melihatnya sebagai masalah atau anomali sosial, kita perlu memahaminya sebagai bentuk adaptasi kreatif masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang menantang. Mereka adalah cermin dari aspirasi dan harapan rakyat yang tidak boleh diabaikan. Survei Jobstreet menunjukkan bahwa 42% perusahaan di Indonesia melakukan PHK pada 2024, yang menjelaskan mengapa fenomena ini semakin menguat.
Pemerintah, akademisi, dan praktisi bisnis perlu duduk bersama untuk merancang strategi yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga pada kualitas hidup dan kebahagiaan rakyat. Indikator kesuksesan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari PDB atau indeks saham, tetapi juga dari seberapa banyak masyarakat yang dapat menikmati kehidupan yang bermartabat.
Di era ketidakpastian ini, solidaritas sosial menjadi kunci. Rojali dan Rohana mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dibeli dengan uang. Kadang-kadang, kebahagiaan itu dapat ditemukan dalam bentuk sederhana: berjalan-jalan bersama keluarga di mal, menikmati AC gratis sambil bermain dengan anak-anak, atau sekadar merasakan atmosfer kehidupan modern meski hanya sebagai penonton.
Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa pembangunan ekonomi harus selalu berpusat pada manusia. Teknologi dan infrastruktur adalah alat, bukan tujuan. Tujuan sesungguhnya adalah menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, dan bermartabat. Rojali dan Rohana, dengan segala keterbatasan ekonomi mereka, tetap memiliki hak yang sama untuk merasakan kemajuan dan modernitas yang telah dicapai bangsa ini.
Ke depan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Dengan populasi yang besar, kreativitas yang tinggi, dan semangat gotong royong yang masih mengakar, bangsa ini mampu melewati masa-masa sulit dan bangkit lebih kuat. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang visioner, kebijakan yang pro-rakyat, dan komitmen bersama untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.
Rojali dan Rohana bukan anomali yang harus dihilangkan, tetapi bagian dari mozaik sosial Indonesia yang harus dipahami dan diapresiasi. Mereka adalah reminder bahwa di balik gemerlap pembangunan dan kemajuan teknologi, masih ada jutaan rakyat yang berjuang dengan cara mereka sendiri untuk mempertahankan harapan dan dignitas. Dan dalam perjuangan itulah terletak kekuatan sejati bangsa Indonesia.
“Kemiskinan bukanlah takdir, tetapi akibat dari struktur sosial yang tidak adil. Tugas kita adalah mengubah struktur itu.” – Muhammad Yunus