Catatan Dari Hati

(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu

Malam turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan kenangan lama. Di tepi sawah yang mulai menguning, Saka berdiri memandangi langit.

Rembulan menggantung sendu di atas pohon randu tua : pohon yang dulu menjadi saksi tawa, janji, dan akhirnya, kehilangan.

Di dalam kantong bajunya, terselip secarik kertas kusam. Surat terakhir dari Ayu.

“Jika suatu hari aku tak lagi bisa menemanimu berjalan, berjanjilah untuk terus hidup dengan hati yang utuh…”

Saka menutup mata. Angin malam menyelip di sela helai rambutnya, membawa aroma tanah basah dan gema masa lalu. Dalam keheningan itu, ia seolah mendengar kembali suara Ayu : lembut, pelan, seperti nyanyian yang tak selesai.

Dulu, setiap malam begini, mereka duduk bersama di tepi pematang. Ayu senang memandangi rembulan. Katanya, rembulan adalah tempat menyimpan doa-doa yang tak berani ia ucapkan.

Saka selalu tertawa mendengarnya, tapi diam-diam ia percaya. Sebab setiap kali Ayu berdoa, hidup terasa sedikit lebih terang.

Namun malam ini, rembulan tampak berbeda. Seakan ikut menangis. Seakan merasakan beban yang Saka pikul seorang diri sejak Ayu pergi tiba-tiba, direnggut sakit yang tak memberi kesempatan berpamitan.

Sejak itu, dunia terasa seperti rumah yang kehilangan lampu terakhirnya.

Saka menghela napas panjang. Ia melangkah mendekat ke pohon randu, lalu duduk bersandar. Di tempat inilah Ayu pernah berkata, “Kalau suatu hari aku pergi duluan, lihatlah rembulan. Di sana aku akan bersembunyi.”

Ia mendongak.

Cahaya bulan jatuh pelan di wajahnya, dingin namun menenangkan.

Dan dalam keheningan yang pekat itu, ia merasakan seolah seseorang sedang menatapnya dengan kehangatan lama.

“Yu,” bisiknya, suaranya pecah. “Aku masih mencoba berjalan… tapi kadang rasanya kakiku berat sekali.”

Angin lewat pelan, menggerakkan daun randu seperti tepukan lembut di bahunya.

Saka menunduk.

Air mata yang sejak tadi ia tahan, luruh tanpa ia cegah lagi.

Tetapi di tengah tangisnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda , sebuah ketenangan halus yang merayap di dadanya.

Seolah Ayu datang hanya untuk menghapuskan sebagian dari luka yang ia bawa.

Rembulan di atas sana tampak lebih terang sekarang.

Tidak lagi seperti sedang menangis, tetapi seakan tersenyum kecil, tipis, namun cukup untuk membuat dada Saka menghangat.

“Aku mengerti, Yu…” gumamnya. “Kehilangan bukan alasan untuk berhenti.”

Ia menatap langit untuk terakhir kalinya malam itu.

Rembulan tetap memancarkan sinarnya yang teduh, seperti ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah meninggalkan siapa pun yang datang padanya dengan doa.

Saka berdiri, menepuk celananya, dan melangkah pulang. Untuk pertama kalinya sejak Ayu pergi, langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak sepenuhnya pulih, tapi cukup untuk membuatnya tahu: ia masih bisa hidup dengan hati yang utuh, seperti yang Ayu minta.

Dan di belakangnya, rembulan tetap menggantung.

Diam, namun penuh makna.

Tidak lagi menangis, karena seseorang akhirnya menemukan kembali cahaya kecil dalam dirinya.

 

Related Posts
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT PETANG HARI
Dia tahu. Tapi tak benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya cara menata hati dari kisah cintanya yang hancur lebur dan lenyap bersama angin. Dia tidak sok tahu. Hanya berusaha memahami. Bahwa luka oleh cinta bisa dibasuh ...
Posting Terkait
(Narsis) Melodi Di Ujung Senja
Hujan gerimis membasahi kota tua itu saat Arman memarkir mobilnya di depan kedai kopi langganannya. Sudah lima belas tahun ia tidak kembali ke tempat ini , kota kecil tempat ia pernah menemukan ...
Posting Terkait
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
ujan deras mengguyur kota Medan sore itu. Di balik jendela kamarnya yang berkabut, Dira menatap kosong ke arah rumah seberang. Rumah itu gelap, seperti biasa. Sudah tiga tahun Daniel pindah ...
Posting Terkait
NARSIS (18) : SEMESTA KANGEN, DI BRAGA
ita selalu nyata dalam maya. Selalu ada dalam ketiadaan. Selalu hadir dalam setiap ilusi. Begitu katamu. Selalu. Entahlah, terkadang aku tak pernah bisa memahami makna kalimatmu. Absurd. Aneh. Juga misterius. Bagaimanapun kamu ...
Posting Terkait
NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN PEREMPUAN KILAU REMBULAN
Ia, lelaki yang berdiri pada petang temaram selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah pada perempuan kilau rembulan, jauh disana. Ditorehkannya noktah-noktah kangen itu pada setiap ...
Posting Terkait
NARSIS (15) : JARAK RINDU
Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat ...
Posting Terkait
NARSIS : Ketika Sally Memilih Sendiri
Hujan November selalu membawa kenangan. Sally berdiri di tepi jendela apartemennya yang kecil, memandang kota yang berkilauan basah di bawah lampu-lampu jalan. Lima tahun sudah berlalu, tapi kadang rasanya seperti ...
Posting Terkait
(Narsis) Pergi Tanpa Benci, Pulang Tanpa Janji
Di ujung senja yang menguning, aku berdiri di peron kecil stasiun yang tak pernah benar-benar ramai. Angin mengusik rambutku, seperti ingin menahan langkah yang sejak tadi kupaksa agar tak goyah. Di ...
Posting Terkait
NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
Hai Perempuan Bermahligai Rembulan, Apa kabarmu? Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya--menurut ramalan meteorologi-- hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata ...
Posting Terkait
NARSIS (17) : SEUSAI HUJAN REDA
  amu selalu bercakap bagaimana sesungguhnya cinta itu dimaknai. Pada sebuah sudut cafe yang redup dengan dendang suara Live Music terdengar pelan seraya memandang rimbun asap rokok menyelimuti hampir setengah dari ruangan, ...
Posting Terkait
NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA
Dia, yang menurutmu tak pernah bisa kamu mengerti, adalah dia yang kamu cinta. “Jadi apakah itu berarti, kamu membencinya?” tanyaku penuh selidik suatu ketika. “Ya, aku menyukai dan membencinya sekaligus, dalam sebuah ...
Posting Terkait
NARSIS (7) : BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI
Catatan Pengantar: Narsis kali ini saya angkat dari Cerpen saya yang dimuat (sekaligus menjadi judul utama kumpulan cerpen Blogfam yang diterbitkan Gradien Mediatama tahun 2006 dalam judul "Biarkan Aku Mencintaimu Dalam ...
Posting Terkait
(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak Mencari Akhir
i bangku kayu yang catnya mulai mengelupas, Dara menunggu hujan selesai. Senja merambat pelan di balik kaca halte, menorehkan warna jingga yang rapuh, seperti hatinya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Sebuah lagu ...
Posting Terkait
NARSIS (4) : M.F.E.O
M.F.E.O 4 huruf tersebut selalu tertera di akhir email lelaki itu. Juga ketika mereka mengakhiri percakapan chatting didunia maya. Made For Each Other, bisik lirih perempuan hening malam sembari menyunggingkan senyum. Matanya menerawang menatap ...
Posting Terkait
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
Konon, katamu, secara zodiak kita berjodoh. Aku berbintang Aries, Kamu Sagitarius. Persis seperti nama depan kita : Aku Aries dan Kamu Sagita. Cocok. Klop. Pas. Kamu lalu mengajukan sejumlah teori-teori ilmu astrologi yang konon ...
Posting Terkait
NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA
My Momma always said: Life was like a box of chocholates You never know What you're gonna get -Tom Hanks, Forrest Gump,1994 Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah ...
Posting Terkait
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT
(Narsis) Melodi Di Ujung Senja
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
NARSIS (18) : SEMESTA KANGEN, DI BRAGA
NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN
NARSIS (15) : JARAK RINDU
NARSIS : Ketika Sally Memilih Sendiri
(Narsis) Pergi Tanpa Benci, Pulang Tanpa Janji
Protected: NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
NARSIS (17) : SEUSAI HUJAN REDA
NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA
NARSIS (7) : BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI
(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak
NARSIS (4) : M.F.E.O
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *