Catatan Dari Hati

(Narsis) Sisa Hujan di Matamu

Langit sore itu tidak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah bisa disebut terang.

Abu-abu, seperti perasaan yang dipaksa diam terlalu lama.

Raka berdiri di halte yang sama seperti tiga tahun lalu,tempat di mana ia terakhir kali melihat Dina berjalan pergi tanpa menoleh.

Tidak ada hujan, tapi udara terasa basah. Seolah langit sedang menahan sesuatu yang tak sanggup ia jatuhkan.

Orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan tujuan masing-masing. Hanya Raka yang seperti terjebak di antara waktu: tidak maju, tidak juga benar-benar tertinggal.

Ia masih ingat kalimat Dina saat itu.

“Kita tidak salah, Rak. Hanya waktunya saja yang tidak berpihak.”

Kalimat yang sederhana, tapi cukup untuk mengubah seluruh arah hidup seseorang.

Sejak hari itu, Raka belajar hidup tanpa warna. Ia tetap bekerja, tertawa, bahkan sesekali bercanda. Tapi jauh di dalam dirinya, ada ruang yang tak pernah benar-benar pulih. Ruang yang seperti langit hari ini : abu-abu, menggantung, dan sunyi.

Sebuah bus berhenti di depannya. Pintu terbuka dengan desis pelan.

Dan di situlah ia melihatnya.

Dina.

Tidak banyak yang berubah. Senyumnya masih sama—hangat, tapi kini terasa jauh. Seperti matahari yang tertutup awan tebal.

Mereka saling diam beberapa detik yang terasa seperti bertahun-tahun.

“Raka?” suara Dina pelan, ragu.

Raka mengangguk, mencoba tersenyum, walau hatinya bergetar hebat.

“Sudah lama,” katanya akhirnya.

Dina tersenyum kecil. “Iya… lama sekali.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada drama. Hanya dua manusia yang pernah saling mencintai, kini berdiri sebagai dua orang asing yang terlalu banyak kenangan.

Mereka duduk berdampingan di halte.

Bicara tentang hal-hal ringan : pekerjaan, kota, cuaca. Tidak ada yang berani menyentuh masa lalu.

Seolah-olah jika itu dibuka, semuanya akan runtuh.

“Aku… akan pindah ke luar kota,” ujar Dina tiba-tiba.

Raka menoleh. “Kapan?”

“Minggu depan.”

Ada jeda.

Seperti langit yang akhirnya tak kuat lagi menahan.

“Senang bertemu kamu lagi, Rak,” lanjut Dina.

Raka ingin mengatakan banyak hal. Tentang rindu yang tak pernah benar-benar hilang. Tentang hari-hari yang ia jalani dengan setengah hati. Tentang betapa ia tidak pernah benar-benar baik-baik saja.

Tapi yang keluar hanya satu kalimat sederhana.

“Aku juga.”

Bus berikutnya datang. Dina berdiri.

Untuk sesaat, Raka berharap waktu berhenti. Atau setidaknya, memberi mereka satu kesempatan lagi.

Tapi hidup bukan tentang apa yang kita harapkan.

Dina melangkah naik ke dalam bus. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh.

Dan kali ini, ia tersenyum lebih lama.

Bus itu pergi.

Raka tetap di sana.

Langit akhirnya mulai menurunkan gerimis kecil.

Bukan hujan deras. Hanya cukup untuk membuat dunia terasa sedikit lebih jujur.

Raka menatap ke atas.

“Kalau memang harus abu-abu,” gumamnya pelan, “setidaknya jangan lagi menahan.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak mencoba melawan perasaannya.

Ia membiarkan semuanya jatuh.

Seperti langit sore itu.

Yang akhirnya memilih untuk menangis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *