Jaring yang Tak Pernah Putus: Catatan Cinta untuk Pahlawan yang Sendirian
Sebuah kota bisa melupakan seseorang hanya dalam satu tarikan napas mantra.
Itulah yang terjadi pada Peter Parker di penghujung petualangannya yang lalu, ketika seorang penyihir menghapus namanya dari ingatan seluruh dunia demi menyelamatkan dunia itu sendiri.
Lima tahun berlalu sejak malam itu, dan film keempat Tom Holland sebagai manusia laba laba dibuka bukan dengan ledakan, melainkan dengan kesunyian seorang lelaki yang pulang ke apartemen loteng reyot, menutup pintu, lalu duduk sendirian di antara layar layar komputer yang berkedip.
Tidak seorang pun menunggunya. Tidak seorang pun tahu ia baru saja menyelamatkan belasan nyawa. Dan justru dari kesunyian itulah “Brand New Day” menemukan detak jantungnya yang paling jujur.
Selama tiga film sebelumnya, Peter Parker versi Holland hidup dalam semesta yang terlalu ramah. Ia punya pelindung miliarder, teknologi tanpa batas, dan sahabat yang selalu siap menampung keluhannya.
Kita menyukainya, tentu saja, karena ia lincah dan lucu dan mudah dicintai. Namun ada sesuatu yang selama ini hilang, sesuatu yang dulu membuat kisah manusia laba laba begitu melekat di dada penonton lintas generasi.
Sesuatu bernama pengorbanan yang benar benar terasa sakit. Destin Daniel Cretton, sutradara yang datang dari tradisi film kecil dengan cerita cerita intim, akhirnya berani mengembalikan rasa sakit itu ke tempatnya semula.
Yang paling mengagumkan dari film ini justru bagian bagian yang paling sepi. Cretton memberi ruang bagi kamera untuk berhenti sejenak di atap gedung, membiarkan Manhattan bernapas, membiarkan Peter menatap kota yang tidak lagi mengenalnya.
Warna warna filmnya lebih gelap, lebih kelabu, lebih dekat pada kenyataan hidup orang biasa yang bangun pagi dengan tubuh lelah dan hati yang tidak punya tempat mengadu. Adegan berayun di antara gedung tetap memukau, tetap membuat perut terasa melayang, namun kali ini keindahannya bercampur dengan rasa nyeri. Terbang setinggi itu tidak berarti apa apa bila tidak ada yang menunggu di bawah.
Tom Holland, kini berusia tiga puluh tahun, memainkan peran ini dengan penguasaan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Sebagian besar waktunya di layar dihabiskan dengan topeng menutupi wajah, dan justru di situ kemampuannya bersinar.
Ia bercerita lewat bahu yang merosot, lewat cara kepalanya menoleh sedikit terlalu lama ketika melihat seseorang yang dulu ia cintai, lewat gerak tubuh yang mengingatkan pada komedian bisu zaman dulu.
Kegembiraan yang ia pancarkan sebagai manusia laba laba bukan lagi keceriaan anak sekolah, melainkan tameng. Ia bercanda supaya tidak menangis. Setiap orang yang pernah tertawa terlalu keras di tengah masa sulit akan mengenali gestur itu dengan segera.
Kemudian datanglah MJ. Zendaya kembali dengan peran yang secara emosional jauh lebih rumit daripada sebelumnya, sebab kini ia harus memainkan perempuan yang tidak tahu bahwa lelaki di hadapannya pernah menjadi seluruh dunianya. Pertemuan pertama mereka adalah salah satu momen paling menyayat sepanjang film.
Tidak ada air mata berlebihan, tidak ada musik yang memaksa penonton terharu. Hanya jeda canggung, tatapan yang terlalu lama, dan kalimat sapaan biasa yang terdengar seperti doa. Sungguh ironi yang indah bahwa dua aktor ini, yang di kehidupan nyata telah menjadi pasangan, justru diminta berperan sebagai dua orang asing. Ironi itu bekerja. Kerinduan di antara mereka terasa nyata sampai ke tulang.
Kejutan terbesar film ini datang dari arah yang tidak disangka sangka, yaitu persahabatan antara Peter dan Frank Castle yang diperankan Jon Bernthal. Di atas kertas, pemuda ceria berkostum merah biru dan lelaki keras kepala bersenjata berat adalah kombinasi yang mustahil.
Namun Bernthal membawa kehangatan dan luka yang begitu manusiawi ke dalam beberapa adegan singkat sehingga hubungan mereka terasa seperti persaudaraan yang tumbuh di tempat kerja.
Dua orang yang sama sama rusak, sama sama sendiri, saling menjaga dengan cara yang canggung.
Di situlah film ini paling menyentuh: bukan pada kemenangan melawan penjahat, melainkan pada kenyataan bahwa manusia tetap saling mencari, bahkan ketika mereka meyakini diri sudah tidak membutuhkan siapa pun.
Sayangnya, kejujuran emosional itu tidak dijaga sampai akhir. Sepertiga terakhir film mulai kehilangan fokus. Sadie Sink hadir sebagai ancaman baru yang penuh misteri dan ia memainkannya dengan baik, namun keberadaannya perlahan mengubah cerita menjadi pintu masuk bagi babak besar semesta ini yang jauh lebih luas.
Kemunculan Hulk yang diperankan Mark Ruffalo terasa seperti tambahan yang lebih dibutuhkan oleh materi promosi daripada oleh cerita itu sendiri.
Naskah karya Chris McKenna dan Erik Sommers menumpuk terlalu banyak agenda dalam satu piring, hingga beberapa lapisan paling menarik justru terabaikan, termasuk perubahan aneh pada tubuh Peter yang seharusnya menjadi cermin bagi kecemasan batinnya. Ketika tembok dihancurkan dan peluru berhamburan, film ini tetap seru, tetap gagah, namun ia berhenti menjadi milik Peter Parker.
Meski begitu, kelemahan itu tidak sanggup meruntuhkan bangunan utamanya. Ada semangat yang tulus di sepanjang film ini, semangat untuk mengembalikan sebuah tokoh legendaris kepada asal usulnya sebagai anak muda dari lingkungan sederhana yang memilih berbuat baik meski tidak ada yang mengucapkan terima kasih.
Detektif Jean DeWolff yang diperankan Liza Colón Zayas menambahkan warna kota yang keras namun berhati. Musiknya ditata ulang dengan hormat pada nada nada lama.
Dan pesan yang tertinggal setelah lampu bioskop menyala kembali terasa sederhana sekaligus dalam: meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan, dan cinta dari orang orang di sekitar kita adalah kekuatan super yang paling nyata.
Bagi penonton yang tumbuh bersama tokoh ini sejak layar tabung sampai layar lebar, “Brand New Day” adalah pulang yang manis sekaligus pahit. Filmnya tidak sempurna, terlalu sibuk di beberapa tempat, terlalu ingin menjadi banyak hal sekaligus.
Namun ia berhasil melakukan sesuatu yang jarang dilakukan film pahlawan super belakangan ini, yaitu membuat kita peduli pada manusia di balik topeng, bukan pada kekuatan di balik kostumnya.
Ia mengingatkan kita bahwa keberanian terbesar bukanlah menghentikan kereta yang melaju, melainkan mengetuk pintu seseorang yang telah melupakan kita lalu berkata dengan suara bergetar, “Halo, namaku Peter.”