Catatan Dari Hati

Beras, Rempah, dan Kedaulatan: Membaca Ulang Peta Pertahanan Indonesia

Judul Buku: Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara

Penulis: Rear Admiral TNI (Ret.) Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Sc., IPU., ASEAN Eng.

Editor: Lukman Yudho Prakoso

Penerbit: Karya Dosen Internasional, Banyumas

Cetakan: Pertama, Juli 2026

Tebal: xvi + 348 halaman

Ukuran: 15,5 × 23 cm

ISBN: 978-634-97147-9-2

Revolusi Prancis 1789 tidak dimulai dari perdebatan filsafat di salon-salon Paris, melainkan dari antrean roti yang memanjang dan harga gandum yang meroket. Lebih dari dua abad kemudian, Arab Spring 2011 mengulang pola yang sama: lonjakan harga pangan mendahului runtuhnya sejumlah rezim.

Dari dua fakta sejarah inilah Abdul Rivai Ras membangun argumen utamanya dalam Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara : bahwa piring makan rakyat adalah medan pertahanan paling purba sekaligus paling terabaikan dalam kebijakan negara.

Buku setebal 348 halaman ini pada dasarnya adalah sebuah upaya reposisi: memindahkan isu pangan dari meja Kementerian Pertanian ke meja Dewan Ketahanan Nasional.

Kredibilitas gagasan itu ditopang oleh biografi penulisnya yang tidak lazim. Rivai Ras adalah perwira tinggi TNI Angkatan Laut yang meniti karier dari urusan fasilitas pangkalan hingga menjadi perencana strategis di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Sekretariat Militer Presiden, Staf Ahli Panglima TNI, Staf Ahli Bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman Kemenko Polhukam, serta Staf Khusus Kasal.

Ia menempuh pendidikan kepemimpinan keamanan nasional di Elliott School of International Affairs, George Washington University, mendalami doktrin Innere Führung di Jerman, serta menekuni keamanan maritim komprehensif di Naval Postgraduate School Monterey dan Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies di Honolulu.

Ia salah satu pelopor pendirian Universitas Pertahanan dan penerima medali kepeloporan dari Presiden. Sejak 2026 ia memimpin PT Perkebunan Nusantara I sebagai Direktur Utama.

Perpaduan tiga dunia — militer, akademik, dan korporasi agroindustri — inilah yang memberi buku ini sudut pandang yang sulit ditiru penulis lain: ia bicara logistik seperti perwira staf, bicara teori seperti dosen, dan bicara komoditas seperti pelaku usaha.

Bangunan argumennya disusun secara berjenjang melalui sepuluh bab. Empat bab pertama bekerja sebagai fondasi konseptual.

Penulis meletakkan pangan pada perpotongan lima dimensi keamanan versi Barry Buzan — militer, politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan — lalu menautkannya pada kerangka Astagatra dalam doktrin ketahanan nasional Indonesia, serta pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang secara eksplisit mengakui adanya ancaman nonmiliter.

Dari sini lahir tesis sentral buku: krisis pangan bukan sekadar problem produksi, melainkan ancaman nonmiliter berdampak strategis yang mampu memicu kemiskinan, kriminalitas, konflik horizontal, penurunan produktivitas nasional, hingga instabilitas politik.

Bab keempat kemudian menerjemahkannya ke ranah operasional dengan membahas peran pangan dalam dukungan logistik militer, ketahanan wilayah, serta kontribusi TNI melalui Operasi Militer Selain Perang : mulai dari rehabilitasi irigasi, pembangunan embung, pembukaan lahan, hingga pengamanan distribusi logistik dalam kondisi darurat, semuanya berpijak pada mandat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004.

Bagian paling segar dari buku ini justru muncul di paruh kedua, ketika penulis berani menyeberang ke wilayah yang jarang dijamah literatur pangan Indonesia. Bab tujuh memperkenalkan konsep ancaman hibrida terhadap sistem pangan dan membedahnya menjadi empat wajah: sabotase ekonomi melalui manipulasi pasar dan penguasaan rantai pasok benih serta pupuk; serangan siber terhadap sistem pergudangan, data stok nasional, dan jaringan distribusi berbasis kecerdasan buatan; disinformasi yang memicu panic buying dan penimbunan sekalipun kondisi riil aman; serta food weaponization, yakni penggunaan pangan sebagai instrumen tekanan geopolitik lewat embargo, pembatasan ekspor, dan penguasaan jalur logistik internasional.

Konflik Rusia–Ukraina serta ketegangan di Laut Merah dan Selat Hormuz dijadikan bukti empiris bahwa gangguan pada satu simpul pelayaran dapat mengguncang meja makan puluhan negara berkembang.

Dari analisis ini penulis mengusulkan dua gagasan konkret yang layak dicatat: pembentukan Food Cyber Security Framework yang mengintegrasikan BSSN, Badan Pangan Nasional, kementerian teknis, BULOG, dan Holding BUMN Pangan; serta Food Information Management System sebagai instrumen kontra-disinformasi.

Menempatkan sistem pangan sebagai critical national infrastructure setara energi, telekomunikasi, dan sistem keuangan adalah rekomendasi yang, jika diadopsi, akan mengubah arsitektur kebijakan pangan nasional secara mendasar.

Sisi Indonesia-sentris buku ini juga digarap dengan penuh gairah. Uraian tentang blue food — memanfaatkan 6,4 juta kilometer persegi laut dan garis pantai lebih dari 108.000 kilometer — tidak berhenti pada hitungan protein dan omega-3, melainkan sampai pada argumen bahwa aktivitas nelayan dan pembudidaya adalah bentuk kehadiran negara di ruang laut yang secara tidak langsung membentengi kedaulatan dari IUU fishing, penyelundupan, dan pelanggaran batas wilayah.

Bab tentang rempah-rempah Nusantara barangkali adalah bagian paling memikat secara naratif: pala, cengkih, lada, dan kayu manis diperlakukan bukan sebagai nostalgia kolonial, melainkan sebagai strategic biological resources yang menautkan sejarah geopolitik Kepulauan Maluku dengan peluang hilirisasi minyak atsiri, pangan fungsional, dan bahan baku farmasi hari ini.

Adapun bab delapan mengangkat Program Makan Bergizi Gratis dengan pembacaan yang tidak biasa , bukan sebagai program sosial, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang yang sekaligus menciptakan pasar domestik raksasa bagi petani, nelayan, peternak, koperasi, dan UMKM, sehingga secara struktural memperkecil ruang bagi tekanan pangan dari luar.

Buku ditutup dengan pembahasan diplomasi pangan sebagai soft power dan bentuk diplomasi pertahanan nirmiliter, memanfaatkan posisi Indonesia di G20 dan ASEAN.

Keunikan lain buku ini adalah keberaniannya memasukkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam perspektif pertahanan negara.

Selama ini program tersebut lebih sering dipahami sebagai kebijakan sosial atau pendidikan. Abdul Rivai Ras menawarkan sudut pandang berbeda dengan menjelaskan bahwa peningkatan kualitas gizi generasi muda merupakan investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia unggul yang kelak menjadi kekuatan ekonomi maupun pertahanan nasional. Dengan demikian, pangan tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai investasi strategis bagi masa depan bangsa.

Dari sisi akademik, buku ini memiliki fondasi yang cukup kuat. Penulis menggunakan berbagai teori, regulasi nasional, serta referensi lembaga internasional sehingga argumentasinya tidak kehilangan pijakan ilmiah.

Hal tersebut membuat buku ini layak dijadikan referensi bagi mahasiswa, dosen, peneliti, aparatur pemerintah, perwira TNI, maupun praktisi kebijakan publik yang ingin memahami keterkaitan antara pangan dan keamanan nasional.

Penyusunan bab yang runtut juga memudahkan pembaca mengikuti alur berpikir penulis dari aspek konseptual hingga implementatif.

Meskipun demikian, sebagai sebuah karya akademik, buku ini masih memiliki ruang untuk penyempurnaan. Dominasi pendekatan normatif dan konseptual membuat pembaca terkadang menginginkan lebih banyak data empiris, studi lapangan, ataupun analisis kuantitatif mengenai kondisi pangan Indonesia terkini.

Kehadiran grafik, infografik, peta distribusi pangan, maupun perbandingan internasional akan semakin memperkuat daya argumentasi sekaligus meningkatkan daya tarik visual buku. Beberapa bagian juga terasa sangat padat karena memuat banyak teori dalam satu pembahasan, sehingga pembaca umum mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna keseluruhan isi.

Penempatan satu subbab khusus tentang PTPN 1, perusahaan yang kini dipimpin penulis, sah secara substantif namun berpotensi dibaca sebagai konflik kepentingan bila tidak disertai penjelasan posisi.

Terlepas dari itu, buku ini memenuhi janjinya. Ia berhasil membangun jembatan yang selama ini renggang antara studi pertahanan dan kebijakan pangan, dengan bahasa yang tertib, referensi mutakhir dari FAO, WFP, World Bank, dan World Economic Forum, serta kepekaan pada konteks kepulauan Indonesia.

Bagi perumus kebijakan, ini adalah peta risiko. Bagi akademisi dan mahasiswa Universitas Pertahanan, hubungan internasional, agribisnis, atau kajian ketahanan nasional, ini adalah rujukan yang jarang tersedia dalam bahasa Indonesia.

Dan bagi pembaca umum, buku ini menyisakan satu kalimat yang sukar dilupakan setelah halaman terakhir ditutup: sebuah bangsa bisa jatuh bukan karena kalah menembak, melainkan karena kehabisan beras.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *