Catatan Dari Hati

Membaca Badai dengan Nalar, Menjaganya dengan Nurani

Setiap generasi berhadapan dengan badainya sendiri.

Para pendahulu kita menghadapi badai penjajahan dan revolusi , badai yang datang dengan deru meriam dan asap mesiu.

Generasi hari ini menghadapi badai yang jauh lebih senyap, namun tak kalah menggoyahkan: disrupsi teknologi yang mengubah cara kita bekerja, krisis pangan dan iklim yang mengancam meja makan kita, ketimpangan ekonomi yang menganga, banjir informasi yang tak pernah surut, serta algoritma yang perlahan mengubah cara kita berpikir dan merasa.

Dua jilid buku ini lahir dari keresahan menyaksikan semua itu dan, pada saat yang sama, dari kecintaan yang tak pernah padam kepada Indonesia. Kecintaan kepada para penjaga nurani di lereng Rinjani, kepada petani yang menanam harapan di pucuk padi, kepada nelayan yang bertahan di tengah gelombang perubahan global, dan kepada generasi muda yang sedang mencari pijakan di zaman yang serba tak pasti.

Article content

Enam puluh tiga tulisan terhimpun di sini, seluruhnya pernah tayang di rubrik Opini Kabarika.id sepanjang 2025 hingga 2026, ditulis di sela-sela kesibukan saya sebagai praktisi di dunia konstruksi.

Jilid pertama, Negeri di Persimpangan, memuat 34 tulisan dalam empat bagian: Kemanusiaan dan Solidaritas; Pangan, Pertanian dan Lingkungan; Ekonomi dan Kebijakan Negara; serta Dunia Digital dan Kecerdasan Buatan.

Keempatnya sesungguhnya adalah empat wajah dari satu pertanyaan yang sama: bagaimana kita merawat manusia, tanah, dan teknologi agar semuanya tetap berpihak pada kemanusiaan?

Jilid kedua, Merawat Jiwa Bangsa, menghimpun 29 tulisan yang bergerak ke dalam : ke ruang yang kerap luput dari arah kebijakan pembangunan kita. Empat bagiannya yakni Kesehatan Jiwa, Raga dan Gaya Hidup Sadar; Demokrasi, Kekuasaan, Pers dan Kebenaran; Pendidikan, Budaya dan Identitas Bangsa; serta Dunia Kerja dan Kepemimpinan Masa Depan , adalah pilar-pilar yang menopang kewarasan, keadaban, dan empati kita sebagai sebuah bangsa.

Article content

Jika jilid pertama memotret negeri yang sedang berdiri di simpang jalan, jilid kedua bertanya: dengan bekal jiwa seperti apa kita hendak melangkah?

Sebab di tengah badai semacam ini, yang paling perlu kita jaga bukanlah semata angka pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan sesuatu yang jauh lebih hakiki : jiwa bangsa itu sendiri.

Sebagai insinyur yang menapaki dunia teknik sekaligus dunia kata, saya belajar bahwa setiap struktur memiliki titik kritis yang harus dijaga agar tidak runtuh. Demikian pula sebuah bangsa. Ia memiliki titik-titik rapuh yang tak selalu kasat mata, namun justru di sanalah ditentukan apakah ia akan bertahan atau patah diterpa zaman.

Dari persilangan dua dunia inilah tulisan-tulisan ini mengalir: mencoba membaca realitas dengan logika seorang insinyur, sekaligus merasakannya dengan nurani seorang manusia.

Menulis, bagi saya, bukan pekerjaan sampingan.

Ia adalah cara merawat kewarasan : ruang untuk menata pikiran, menjernihkan perasaan, dan menyumbangkan secercah perspektif bagi ruang publik yang kerap riuh oleh kebisingan.

Karena itu, tulisan-tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian akademik yang kaku. Ia adalah refleksi seorang anak bangsa yang mencoba membaca zamannya dengan hati yang terbuka dan nalar yang jernih.

Saya sadar sepenuhnya, opini bukanlah putusan akhir; ia adalah undangan untuk berdialog. Maka pembaca tidak saya ajak untuk sekadar menyetujui, melainkan untuk ikut berpikir, mempertanyakan, dan pada akhirnya menemukan sikapnya sendiri.

Saya juga menyadari bahwa buku ini jauh dari sempurna. Sebagai kumpulan refleksi atas peristiwa yang bergerak cepat, tentu ada pandangan yang kelak perlu diperbarui dan analisis yang dapat diperdebatkan. Tiada gading yang tak retak; segala kekurangan di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Buku ini tidak akan pernah hadir tanpa uluran tangan, doa, dan kebaikan banyak pihak. Terima kasih terdalam saya persembahkan kepada keluarga tercinta — istri dan anak-anak saya — yang merelakan waktu-waktu kebersamaan kami tersita oleh malam-malam panjang menulis dan merenung.

Kalian adalah rumah tempat saya pulang, dan alasan pertama mengapa setiap tulisan ini selalu bermuara pada harapan.

Terima kasih kepada segenap pengelola Kabarika.id, media daring kebanggaan keluarga besar alumni Universitas Hasanuddin, yang telah membuka rumah bagi gagasan-gagasan saya; ia bukan sekadar tempat tulisan ini pertama kali dimuat, melainkan rahim yang mengandung dan membesarkannya.

Terima kasih kepada Unhas Press yang berkenan menerbitkan dwilogi ini dengan penuh kesungguhan — sebab bagi saya, kembali ke almamater lewat sebuah karya adalah bentuk pulang yang paling bermakna: pulang ke akar, untuk kemudian melangkah ke cakrawala. Dan terima kasih kepada para pembaca setia, yang komentar, kritik, serta apresiasinya menjadi bahan bakar untuk terus menulis.

Jika ada satu benang merah yang mengikat seluruh tulisan dalam dua jilid ini, itulah keyakinan bahwa di tengah badai apa pun, kemanusiaan adalah jangkar yang tak boleh kita lepaskan.

Akhirnya, saya berharap dwilogi ini menjadi teman berpikir bagi siapa pun yang mencintai Indonesia . sebuah undangan untuk berhenti sejenak di tengah deru zaman, menajamkan nurani, dan bersama-sama merawat negeri ini agar tetap tegak melewati badai.

Semoga di setiap halamannya kita menemukan bukan hanya potret zaman yang sedang kita arungi, tetapi juga pengingat akan tugas yang tak pernah usai: menjaga agar sekencang apa pun badai menerpa, jiwa bangsa ini tetap menyala.

Buku ini nantinya bisa diperoleh melalui tautan resmi Unhas Press. Terimakasih sekali lagi atas dukungan dan apresiasinya.

KATA PENGANTAR

Menteri Pertanian RI/Ketua IKA UNHAS : Dr.A.Amran Sulaiman
Penanggung jawab Kabarika.id / Ketua PWI Sulsel : Suwardi Tahir

TESTIMONI :

Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — menghadirkan sosok insinyur yang utuh: teguh dalam profesi, namun tak berhenti pada beton dan baja. Amril Taufik Gobel menunjukkan bahwa tanggung jawab keinsinyuran sejatinya melampaui proyek — ia adalah pengabdian pada kemanusiaan, sebagaimana amanat kode etik profesi kita.

Melalui 63 tulisan yang merentang dari kedaulatan pangan, ekonomi, dan kecerdasan buatan hingga kesehatan jiwa, demokrasi, serta kepemimpinan masa depan, penulis membaca persoalan bangsa dengan disiplin berpikir seorang insinyur: sistematis mengenali titik kritis, jernih menawarkan solusi, dan selalu berpijak pada nurani.

Buku ini adalah teladan bagi para insinyur Indonesia bahwa profesi kita bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan ikut membangun peradaban. Saya merekomendasikannya kepada segenap insinyur, profesional, dan generasi muda yang ingin berkontribusi bagi negeri dengan nalar yang tajam dan hati yang tetap menyala. – Ir. Muhammad Sapri Pamulu, IPU, PhD, Direktur Utama PT Indah Karya (Persero) Periode 2021–2025; Ketua Ikatan Alumni Teknik UNHAS, Periode 2024-2028 dan Deputi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Bidang Registrasi Insinyur dan Penegakan Kode Etik Insinyur Periode 2024–2027

Sebagai insan yang berkecimpung dalam pengelolaan ketahanan pangan nasional, saya melihat Indonesia di Tengah Badai Zaman sebagai kumpulan refleksi yang tajam, bernas, dan relevan. Amril Taufik Gobel mengajak kita memahami bahwa ketahanan pangan, kemanusiaan, ekonomi, dan transformasi digital bukanlah isu yang berdiri sendiri, melainkan fondasi bagi kedaulatan bangsa. Sebuah buku yang layak dibaca oleh para pemimpin, akademisi, dan siapa pun yang peduli pada masa depan Indonesia. – Andi Afdal, ketua IKA Unhas Jabodetabek, Direktur Operasi Perum Bulog.

Membaca dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — seperti berhenti sejenak di tengah deru zaman untuk menajamkan nurani. Amril Taufik Gobel menulis dengan mata seorang praktisi yang sehari-hari bergulat dengan dunia nyata, namun dengan hati yang tak pernah kehilangan kepekaan.

Enam puluh tiga tulisan dalam dua jilid ini menyapa hampir semua sisi kehidupan kita hari ini: kemanusiaan dan solidaritas, pangan dan lingkungan, ekonomi, kecerdasan buatan, kesehatan jiwa, demokrasi, hingga kepemimpinan masa depan. Sebagai pelaku dunia usaha, saya merasakan betul relevansinya ,  buku ini mengingatkan bahwa di balik angka, target, dan teknologi, selalu ada manusia yang harus dirawat martabatnya.

Ditulis dengan bahasa yang jernih dan reflektif, dwilogi ini adalah teman berpikir bagi para profesional, pemimpin, dan siapa pun yang ingin tetap waras serta berpihak pada kemanusiaan di tengah badai perubahan. Sangat layak dibaca. – Ana Mustamin, Managing Director PT Jorindo Agung dan Sekretaris Jenderal ASPRINDO (Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia)

Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — menyentuh sesuatu yang kerap luput dari arah kebijakan pembangunan nasional: kesehatan jiwa bangsa.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R.Supratman, menekankan pada “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Begitulah semangat “Mens sana in corpore sano”, (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat), frase penyair Romawi Juvenal,

Sebagai guru besar kesehatan masyarakat, saya menemukan kesejalanan yang mencerahkan— Amril Taufik Gobel memahami bahwa bangsa yang sehat bukan hanya terbebas dari penyakit, melainkan juga waras bernalar, terawat nuraninya, dan kokoh solidaritas sosialnya.

Enam puluh tiga tulisan ini merentang dari kemanusiaan, kedaulatan pangan, dan lingkungan hingga kesehatan mental, demokrasi, pendidikan, serta dunia digital — semuanya ditulis dengan bahasa yang jernih dan empati yang tulus. Sebagai orang kampus yang menggeluti setengah abad romantika kemahasiswaan di Universitas Hasanuddin dari Baraya ke Tamalanrea, saya bangga menyaksikan alumnus yang terus merawat tradisi intelektual kampus: kritis, peduli, dan berpihak pada rakyat.

Buku ini adalah vitamin bagi jiwa-raga bangsa — layak dibaca mahasiswa, akademisi, praktisi kesehatan, dan siapa pun yang percaya bahwa merawat Indonesia harus dimulai dari merawat manusianya.- Prof. Dr. Amran Razak, M.Sc., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Hasanuddin Periode 1997–2001

Assalamu Alaikum Wr Wb. Senang dan rasa bangga mendapat undangan untuk menuliskan testimoni atas terbitnya Buku: Indonesia di tengah Badai Zaman. Buku yang ditulis oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST, IPU, ASEAN Eng. Buku yang dikemas dalam dua jilid; jilid pertama diberi tema Negeri di persimpangan; dan Jilid dua diberi tema merawat jiwa bangsa.

Buku pertama, penulis banyak memotret fenomena sosial kemasyarakatan, serta harapan-harapan untuk menjadi masyarakat yang lebih baik, berkeadilan dan saling berbagi pada segenap anak bangsa.

Buku kedua, penulis mengangkat fenomena bagaimana merawat bangsa dengan menitik-beratkan pada unsur sumber daya manusianya, berbagai tantangan yang dihadapi di era digital ‘memaksa’ kirta semua untuk beradaptasi dengan perkembangan informasi yang begitu cepat bagai kilat, juga memompa untuk mengembangkan daya kritis serta merawat bangsa dengan cara menuangkan ide dalam bentuk karya tulis yang orsinil, dan begitu ‘kommit’ dengan tranformasi kepemimpinan dan perlunya menyiapkan pemimpin yang handal demi keberlanjutan kehidupan bangsa.

Catatan; Adinda Ir Amril, saya mengenalnya sejak pertama kali diterima sebagai mahasiswa di Fakuktas teknik universitas hasanuddin) angkatan 1989, waktu itu proses penerimaan mahasiswa terpusat, beberapa kawan membentuk proses penerimaan mahasiswa baru terpusat, diberi nama Opspek Pusat (OPUS) Unhas, penulis adalah salah satu peserta Opus tersebut, menurut saya, penulis memang sudah menampakkan bakat menulis (melebihi taman-teman seangkatannya) kalau ada tugas-tugas yang diberikan oleh kakak seniornya, berlanjut penulis sebagai salah satu pendiri dan Pemimpin Redaksi pertama di Suratkabar Mahasiswa Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unhas, “Channel 9”, cukup terkenal masa itu (1991-1993), dan banyak dibaca oleh civitas academika termasuk menjadi ‘santapan’ wajib para aktifis mahasiswa. Penulis juga adalah redaktur pelaksana di surat kabar kampus Identitas Unhas periode 1992-1993. Akhir kata, selamat atas terbitnya buku Indonesia di tengah badai zaman. Inshaa Allah bermanfaat untuk kita semua.  – Prof Dr drg A Arsunan Arsin, CWM.  (Aktifis Mahasiswa tahun 80-an).

“Writing, to me, is simply thinking through my fingers” – Isaac Asimov. Saya melihat Amril Taufik Gobel seperti apa yang dikatakan oleh Isaac Asimov seorang penulis dan Professor Boston University.

Saya terkagum kagum melihatnya menuliskan perasaan dan pikirannya, dengan mudahnya dan sangat produktif, seakan-akan dia berfikir melalui jari-jarinya. Tidak seperti saya penulis yang pemalas.  Buku berjudul “Indonesia di Tengah Badai Zaman” ini adalah buktinya. Tulisan-tulisan yang ada di dalamya mampu menangkap dan mengurai issue-issue aktual dan faktual dan digambarkan secara santai dan mengalir tapi dalam.

Dia juga mampu memberi saran  dan solusi yang konstruktif terhadap masalah yang dilihatnya. Saya merekomendasikan untuk membaca buku ini karena dari buku ini kita akan mampu melihat Indonesia seakan dari atas helikopter dengan berbagai badai di bawahnya, saking pandainya penulis meramu tema yang beragam.

Selamat buat Upik, begitu saya memanggilnya, atas terbitnya buku ini. Sukses terus dan terus menulis – Ir. H. Anshar Rahman, IPM, ASEAN Eng., Strategic Leader di Kalla Group & Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Teknik (Ikatek) Unhas

Kehadiran Dwilogi buku ini melengkapi ikhtiar besar penulisnya: membaca Indonesia dengan logika seorang insinyur dan merasakannya dengan nurani seorang manusia. Keluarga besar alumni patut bangga; karya ini mengharumkan nama almamater.- Ir.Habibie Razak, FIEAust.,EngExec.,IntPE (Aus), Regional Director – Energy, Surbana Jurong Group, Ketua Badan Keahlian Teknik Sipil Persatuan Insinyur Indonesia 2025-2028 dan Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia 2021-2024

Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — hadir pada momentum yang tepat, ketika bangsa ini diuji oleh disrupsi teknologi, ketidakpastian global, dan tantangan kedaulatan di berbagai lini. Amril Taufik Gobel membacanya dengan jernih: tidak larut dalam pesimisme, namun juga tidak terjebak dalam optimisme kosong.

Sebagai orang yang lama berkecimpung di sektor energi dan birokrasi pemerintahan, saya menemukan banyak gagasan segar dalam 63 tulisan ini — tentang kedaulatan pangan dan energi bangsa, ketahanan ekonomi, transformasi digital, hingga kepemimpinan yang berpihak pada rakyat. Penulis mengingatkan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri, tetapi juga dari jiwa bangsa yang tetap terawat.

Buku ini layak menjadi bacaan para pengambil kebijakan, pemimpin korporasi, dan generasi muda: sebuah undangan untuk merawat Indonesia dengan nalar yang tajam, nurani yang jernih, dan keberpihakan yang tak pernah pudar pada kepentingan bangsa. – Dr. Alimuddin Baso, S.T., M.AB, Direktur Pemasaran Korporat PT Pertamina Patra Niaga Subholding Downstream (1 Februari 2026–sekarang) ; Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga (8 Juli 2025–31 Januari 2026); Inspektur Kementerian ESDM (2023–Juli 2025); Sekretaris Ditjen Minyak dan Gas Bumi (2021–2023); Direktur Perencanaan dan Pengembangan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM (2016–2021)

Membaca buku ini seperti berdiri di persimpangan sejarah bersama seorang sahabat yang jernih pikirannya. Amril Taufik Gobel tidak sekadar mengomentari peristiwa; ia mengajak kita merenungkan ke mana bangsa ini hendak melangkah. Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang mencintai Indonesia – Eka Sastra, Dosen FEB UNHAS

Sebagai sesama alumni Teknik Universitas Hasanuddin, saya membaca dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — dengan rasa bangga. Amril Taufik Gobel menunjukkan wajah terbaik keluarga besar alumni kami: insinyur yang berkarya di lapangan, namun tetap setia menyalakan gagasan bagi bangsanya.

Enam puluh tiga tulisan dalam dua jilid ini merentang dari kemanusiaan, pangan, ekonomi, dan kecerdasan buatan hingga kesehatan jiwa, demokrasi, serta masa depan dunia kerja. Sebagai pelaku usaha, saya merasakan betul relevansinya: di tengah persaingan dan disrupsi, buku ini mengingatkan bahwa keberhasilan sejati selalu berakar pada integritas, kepekaan sosial, dan keberpihakan pada manusia.

Dwilogi ini adalah teman berpikir yang jernih bagi para profesional, wirausahawan, dan generasi muda — khususnya keluarga besar alumni Teknik Unhas — untuk terus berkarya bagi negeri dengan nalar yang tajam dan hati yang tetap hangat. Sangat saya rekomendasikan. – Ir. Anwar Mattawappe, S.T., M.B.A., CEO Titah Group dan Sekretaris Jenderal IKA Teknik Unhas Periode 2024–2028

Buku Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — membuktikan bahwa nalar teknik dan nurani kemanusiaan dapat menyatu dalam satu pena. Ir. Amril Taufik Gobel, alumnus Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, membaca persoalan bangsa sebagaimana insinyur membaca struktur: mengenali titik-titik kritis, lalu menawarkan penguatan agar Indonesia tetap tegak diterpa badai zaman.

Enam puluh tiga tulisan dalam dua jilid ini merentang dari kemanusiaan, kedaulatan pangan, ekonomi, dan kecerdasan buatan hingga kesehatan jiwa, demokrasi, pendidikan, serta masa depan dunia kerja — semuanya diikat keberpihakan pada kemanusiaan dan kecintaan tulus kepada Indonesia.

Sebagai Dekan Fakultas Teknik Unhas, saya bangga menyaksikan seorang alumnus merawat bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur peradaban: nalar publik, nurani, dan literasi bangsa. Karya ini layak dibaca siapa pun yang mencintai negeri ini agar jiwa bangsa tetap menyala.- Prof. Dr. Eng. Ir. Muhammad Isran Ramli, S.T., M.T., IPM., AER. , Dekan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Buku Dwilogi Indonesia di Tengah Badai Zaman — Negeri di Persimpangan dan Merawat Jiwa Bangsa — adalah bacaan yang memperkaya wawasan sekaligus meneguhkan karakter.

Amril Taufik Gobel membuktikan bahwa insinyur sejati adalah pembelajar sepanjang hayat: tidak hanya piawai di lapangan, tetapi juga tekun membaca zaman dan menuangkannya dalam gagasan yang mencerahkan.

Enam puluh tiga tulisan dalam dua jilid ini — dari kemanusiaan, kedaulatan pangan, ekonomi, dan kecerdasan buatan hingga kesehatan jiwa, demokrasi, serta kepemimpinan masa depan — memperlihatkan cara berpikir sistematis seorang insinyur yang dipadukan dengan kepekaan sosial dan nurani yang jernih.

Sebagai pendidik di program profesi insinyur dan juga sebagai praktisi rekayasa rantai pasok berkelanjutan, saya memandang buku ini sebagai teladan berharga bagi mahasiswa dan calon insinyur profesional: bahwa kompetensi teknis harus berjalan seiring dengan integritas, literasi, dan keberpihakan pada kemanusiaan dan isu berkelanjutan. Dwilogi ini layak menjadi bacaan wajib generasi insinyur Indonesia yang ingin membangun negeri dengan ilmu dan hati. – Dr. Ir. Taufik Nur, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng, CSCA, CSSCP, APEC Eng. , Ketua Prodi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi  Industri, Universitas Muslim Indonesia, Makassar;  Deputi Ketua BK Teknik Industri PII; Ketua Umum Forum Penyelenggara Program Profesi Insinyur (FORKOM PPPI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *