(Narsis) Melodi Di Ujung Senja
Hujan gerimis membasahi kota tua itu saat Arman memarkir mobilnya di depan kedai kopi langganannya.
Sudah lima belas tahun ia tidak kembali ke tempat ini , kota kecil tempat ia pernah menemukan cinta pertamanya.
Kini, di usianya yang hampir kepala empat, ia kembali untuk urusan pekerjaan.
Namun ada yang lebih dari sekadar pekerjaan yang menariknya pulang.
Ia melangkah masuk ke kedai yang masih sama seperti dulu. Aroma kopi dan kayu tua menyambutnya seperti kenangan yang tak pernah pudar.
Matanya menyapu sekeliling, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak berani mengakuinya.
“Selamat datang, Mas,” sapa pelayan muda itu ramah.
Arman tersenyum tipis dan memesan kopi hitam. Ia memilih duduk di sudut, persis tempat favoritnya dulu.
Dari sana, ia bisa melihat jalan yang basah oleh hujan, dan toko musik di seberang jalan yang dulu selalu ia kunjungi bersama dia.
Sari.
Nama itu masih terasa hangat di hatinya meski waktu telah berlalu begitu lama. Gadis berambut panjang dengan senyum yang bisa menerangi hari tergelapnya.
Gadis yang dulu duduk bersamanya di kedai ini, tertawa lepas sambil membicarakan mimpi-mimpi mereka yang naif.
“Suatu hari nanti, aku ingin membuka perpustakaan kecil,” kata Sari waktu itu, matanya berbinar. “Tempat anak-anak bisa membaca gratis. Kau akan membantu aku, kan?”
“Tentu,” jawab Arman tanpa ragu, meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana mewujudkannya.
Yang ia tahu, ia ingin selalu ada di samping gadis itu.
Tapi hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Keluarga Arman harus pindah ke Jakarta. Ia harus kuliah di sana, mengejar karier yang dijanjikan ayahnya. Sementara Sari tetap tinggal, menjaga ibunya yang sakit.
“Kita akan tetap berhubungan,” janji mereka pada malam perpisahan. Namun jarak dan waktu perlahan mengikis komunikasi mereka.
Surat menjadi semakin jarang. Telepon semakin singkat. Hingga suatu hari, mereka berhenti saling mencari.
Arman meneguk kopinya yang sudah mendingin.
Pahit, seperti penyesalan yang ia rasakan. Ia telah menikah, memiliki anak, lalu bercerai tiga tahun lalu.
Kariernya cemerlang, tapi ada kekosongan yang tak pernah terisi. Kekosongan berbentuk pertanyaan: bagaimana kabar Sari?
Pintu kedai terbuka. Angin membawa aroma hujan dan… sesuatu yang familiar.
Arman menoleh.
Seorang wanita melangkah masuk, mengibaskan payung lipatnya. Rambutnya kini sebahu, ada uban tipis di pelipisnya.
Tapi senyum itu , senyum itu masih sama.
Sari.
Waktu seakan berhenti. Mata mereka bertemu.
Kedua-duanya terdiam, terlalu terkejut untuk bereaksi. Kemudian, perlahan, senyum mengembang di wajah Sari.
“Arman?” suaranya lembut, tak percaya.
“Sari,” jawabnya, berdiri dengan kaku.
Mereka berdiri berhadapan, membiarkan keheningan berbicara. Ada begitu banyak yang ingin dikatakan, tapi kata-kata terasa terlalu kecil untuk memuat semua yang telah berlalu.
“Boleh aku duduk?” tanya Sari akhirnya.
“Tentu, tentu.”
Mereka duduk berhadapan, seperti lima belas tahun yang lalu. Namun kali ini, ada garis-garis pengalaman di wajah mereka, ada cerita yang terukir di mata masing-masing.
“Kau… masih tinggal di sini?” tanya Arman hati-hati.
Sari mengangguk. “Ibu sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Tapi aku memutuskan untuk tetap tinggal. Aku… aku membuka perpustakaan kecil.”
Arman tersenyum, dadanya sesak. “Kau mewujudkannya.”
“Ya,” jawab Sari lembut. “Meski sendirian.”
Ada makna yang menggantung di kata terakhir itu. Arman memahaminya.
“Aku minta maaf,” ucapnya tiba-tiba. “Untuk… semuanya. Aku seharusnya….“
“Tidak,” Sari menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Kita berdua memilih jalan masing-masing. Tidak ada yang salah dengan itu.”
“Tapi aku tidak pernah berhenti memikirkanmu,” kata Arman jujur. “Semua pencapaianku, semua yang kulakukan… selalu ada bagian kosong yang bentuknya sepertimu.”
Air mata mengalir di pipi Sari. Ia mengusapnya dengan cepat, tertawa kecil. “Kau masih suka bicara puitis.”
Mereka berbincang berjam-jam, mengejar waktu yang hilang.
Sari bercerita tentang perpustakaannya, tentang anak-anak yang datang setiap sore, tentang hidupnya yang sederhana tapi bermakna. Arman bercerita tentang kariernya, pernikahannya yang gagal, dan putrinya yang kini kuliah.
“Apa kau bahagia?” tanya Sari tiba-tiba.
Arman terdiam lama. “Aku pikir aku bahagia. Tapi ketika melihatmu tadi… aku menyadari ada yang selalu kurang.”
Hujan sudah reda.
Cahaya senja menerobos awan, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Kedai kopi mulai sepi.
“Mau lihat perpustakaanku?” tawar Sari.
Mereka berjalan berdampingan di jalan yang masih basah. Tidak memegang tangan, tapi cukup dekat untuk merasakan kehangatan satu sama lain.
Perpustakaan Sari adalah rumah kecil yang sudah direnovasi. Di atas pintu tergantung papan kayu bertuliskan “Rumah Baca Pelangi.”
“Sederhana,” kata Sari sambil membuka pintu. “Tapi ini milikku.”
Arman melangkah masuk. Rak-rak kayu penuh dengan buku. Ada pojok membaca dengan bantal-bantal warna-warni. Di dinding tergantung lukisan-lukisan karya anak-anak. Tempat ini memancarkan kehangatan dan cinta.
“Ini indah, Sari,” bisiknya. “Kau selalu tahu bagaimana membuat dunia menjadi lebih baik.”
Sari tersenyum, kali ini dengan mata yang berbinar. “Mau tahu rahasianya?”
“Apa?”
“Aku melakukan semua ini sambil membayangkanmu ada di sampingku. Setiap buku yang kubeli, aku berpikir, ‘Arman pasti suka ini.’ Setiap anak yang tersenyum, aku berpikir, ‘Arman pasti bangga.’ Kau tidak pernah pergi dari hidupku, meski kau tidak ada di sini.”
Arman merasa dadanya sesak. Ia melangkah mendekat, menatap mata Sari. “Aku di sini sekarang. Dan aku tidak ingin pergi lagi.”
“Tapi pekerjaanmu?—?“
“Bisa diatur. Aku bisa bekerja dari mana saja. Yang tidak bisa aku lakukan adalah kehilanganmu untuk kedua kalinya.”
Sari terdiam, air mata kembali mengalir. Kali ini bukan kesedihan, tapi sesuatu yang lain: harapan, kebahagiaan, dan ketakutan bercampur jadi satu.
“Apa tidak terlambat untuk kita?” bisiknya.
Arman menggeleng, mengulurkan tangannya. “Tidak pernah terlambat untuk pulang.”
Sari meraih tangan itu. Hangat, familiar, terasa seperti rumah.
Di luar, langit senja kian menggelap. Tapi di dalam Rumah Baca Pelangi, dua hati yang tersesat akhirnya menemukan jalan pulang.
Bukan pada masa lalu yang hilang, tapi pada kemungkinan masa depan yang masih terbentang luas.
Kadang cinta tidak tentang tidak pernah berpisah. Kadang cinta adalah tentang kembali, tentang mengakui bahwa hidup tanpa orang itu tidak pernah lengkap, tidak peduli berapa tahun yang telah berlalu.
Dan di kedai kopi tua itu, di kota kecil yang basah oleh hujan, dua jiwa menemukan nyanyian kasmaran mereka yang tidak pernah benar-benar padam , hanya tertidur, menunggu saat yang tepat untuk kembali terdengar.