Petani Milenial dan Gen Z sebagai Arsitek Kedaulatan Pangan Indonesia
Sepotong tanah kering di tepi jalan desa, seorang pemuda berusia 27 tahun duduk di pematang sawah. Di tangannya bukan cangkul, melainkan tablet , layarnya menampilkan data kelembaban tanah yang dikirim sensor yang ia pasang sendiri tiga bulan lalu.
Ia bukan anak petani yang terpaksa pulang kampung karena gagal di kota. Ia adalah lulusan teknik informatika yang memilih sawah sebagai kantor. Cerita seperti ini bukan lagi dongeng. Ia adalah sinyal zaman.
Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah pangan yang menentukan. Di satu sisi, ancaman nyata tentang kelangkaan petani muda terus membayangi : 71 persen petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun, sementara petani muda di bawah usia tersebut hanya 29 persen, sebagaimana dicatat dalam laporan mendalam tentang kondisi petani Indonesia
Di sisi lain, sebuah kebangkitan sedang terjadi, pelan namun pasti, ketika generasi milenial dan Gen Z mulai menemukan ulang makna tanah dan pangan bukan sebagai beban warisan, melainkan sebagai peluang masa depan yang menjanjikan.
Sensus Pertanian 2023 yang diselenggarakan BPS mencatat sekitar 22 persen atau 6,2 juta petani di Indonesia berumur 19–39 tahun , artinya seperlima petani Indonesia merupakan petani muda yang berpotensi menjadi motor pembangunan pertanian modern.
Angka ini mungkin terdengar kecil, namun jika dibaca bersama ledakan populasi muda Indonesia , populasi Gen Z di Indonesia telah mencapai 71,5 juta jiwa, setara dengan 27 persen dari total populasi pada tahun 2020, melampaui jumlah generasi milenial maupun Gen X , maka kita sedang menyaksikan sebuah reservoir harapan yang luar biasa besar, yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Pertanyaannya bukan sekadar: apakah anak muda mau bertani? Pertanyaan yang lebih dalam dan lebih mendesak adalah: kondisi seperti apa yang membuat bertani menjadi pilihan yang masuk akal, bermartabat, dan menguntungkan bagi mereka?
Kabar baik datang dari garis depan produksi pangan. Pada awal 2026, pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah kembali meraih status swasembada pangan, menandai berakhirnya ketergantungan terhadap impor pangan strategis, khususnya beras, sebuah pencapaian yang diraih jauh lebih cepat dari target awal empat tahun pemerintahan
Produksi beras Januari–Desember 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, meningkat 4,14 juta ton atau naik 13,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 , sebuah lompatan yang melampaui capaian tertinggi sepanjang sejarah.
Nilai Tukar Petani (NTP) pada tahun 2025 mencapai 125,35, tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menandakan peningkatan daya beli dan pendapatan petani secara signifikan
Namun pencapaian besar ini tidak boleh membuat kita terlena. Swasembada adalah puncak yang harus dijaga, bukan tujuan akhir yang membolehkan kita berhenti mendaki.
Justru di sinilah peran petani milenial dan Gen Z menjadi semakin kritis: merekalah yang akan memastikan capaian ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang melampaui batas yang pernah dicapai generasi sebelumnya.
Selama puluhan tahun, bertani di Indonesia identik dengan kemiskinan, pekerjaan kotor, dan masa depan yang suram. Para milenial lebih tertarik mencari pekerjaan di kota dan tidak kembali lagi, sehingga lahan-lahan pertanian di pedesaan kehilangan tenaga kerja muda.
Yang tersisa adalah petani dengan penduduk yang semakin menua, sementara Institut Pertanian Bogor memperingatkan bahwa jika tidak ada perubahan, Indonesia akan mengalami krisis petani dalam 10 tahun mendatang
Survei Jakpat menemukan fakta bahwa hanya 6 dari 100 generasi Z berusia 15–26 tahun yang tertarik bekerja di sektor pertanian.
Angka ini menampar kita dengan keras. Di saat yang bersamaan, Indonesia menyimpan potensi agraris yang luar biasa: tanah yang subur, iklim tropis yang mendukung dua hingga tiga kali panen setahun, dan sumber daya alam yang belum dimaksimalkan sepenuhnya.
Jurang antara potensi dan kenyataan ini hanya bisa dijembatani dengan satu hal: transformasi total cara pandang tentang pertanian. Petani milenial dan Gen Z tidak akan tertarik dengan sawah yang sama persis seperti yang dikelola kakek mereka. Namun mereka akan sangat tertarik dengan sawah yang dikelola menggunakan data, drone, kecerdasan buatan, dan koneksi internet.
Di era digital 2025, penerapan Internet of Things, sensor tanah, drone, dan kecerdasan buatan membantu petani memantau kondisi lahan, cuaca, dan tanaman secara nyata waktu, bahkan memprediksi hasil panen dan mengidentifikasi serangan hama lebih cepat dan inilah bahasa yang dipahami generasi ini sejak lahir.
Dalam Permentan Nomor 4 Tahun 2019, petani milenial didefinisikan sebagai petani umur 19–39 tahun dan/atau petani yang adaptif terhadap teknologi digital. Definisi ini sendiri mengisyaratkan sesuatu yang revolusioner: bahwa “muda” dalam konteks pertanian bukan sekadar soal usia, melainkan soal pola pikir dan kemampuan beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ketika pertanian bertemu teknologi, ia berubah dari pekerjaan fisik yang melelahkan menjadi pekerjaan berbasis pengetahuan yang menarik dan kompetitif.
Pemerintah tidak tinggal diam. Program petani milenial memungkinkan pesertanya mendapatkan penghasilan Rp10 juta hingga Rp30 juta per bulan. Pemerintah juga memberikan dukungan modal berupa alat mesin pertanian, benih, dan pupuk senilai Rp3 miliar untuk setiap kelompok tani yang terdiri dari 15 orang untuk menggarap 200 hektare lahan, dengan anggaran yang digelontorkan negara mencapai Rp15 triliun
Insentif ini bukan angka kecil , ini adalah sinyal serius dari negara bahwa regenerasi petani adalah prioritas nasional.
Di level daerah, hasilnya mulai terlihat. Jawa Timur memimpin regenerasi petani di tanah air dengan 971.102 petani milenial, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pemuda untuk terlibat dalam pertanian modern
Nama-nama seperti Shelly Ardita dan Synta Shofiatul Khusniah yang terpilih sebagai Young Ambassador Agriculture 2023 membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi pilihan yang membanggakan sekaligus menguntungkan bagi anak muda.
Di front pelatihan, Indonesia bahkan menggandeng pengalaman internasional. Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan menggelar pelatihan Longterm K-Smart Farm pada 2025, yang merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sejak tahun 2020, dengan fokus meningkatkan penghasilan petani milenial melalui adopsi teknologi pertanian cerdas BBPP Ketindan.
Di balik optimisme itu, berbagai tantangan struktural tetap mengintai dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan atau program jangka pendek. Pertama, masalah kepemilikan dan akses lahan. Tanpa kepastian hak atas tanah, anak muda enggan berinvestasi tenaga dan modal di sektor pertanian.
Kedua, infrastruktur yang timpang : jalan, irigasi, dan jaringan digital di pedesaan masih jauh tertinggal dibanding perkotaan. Ketiga, akses permodalan: petani muda tanpa agunan dan riwayat kredit kesulitan mengakses pinjaman untuk membeli alat modern atau mengembangkan usaha. Keempat, ketidakstabilan harga komoditas.
Ketika harga panen jatuh, semua kerja keras petani bisa terhapus dalam sehari dan ini adalah mimpi buruk yang nyata bagi siapa pun yang baru mencoba peruntungan di sektor ini.
Sebagian Gen Z ini masuk kategori “strawberry generation” — generasi yang penuh gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati ketika menghadapi kenyataan lapangan yang jauh dari ideal. Menjaga daya tahan dan komitmen jangka panjang petani muda adalah pekerjaan yang sama pentingnya dengan merekrut mereka sejak awal.
Solusi atas semua tantangan ini tidak cukup dengan program sesaat atau subsidi yang hanya habis dibagi tanpa mengubah struktur. Yang dibutuhkan adalah pembangunan ekosistem pertanian yang menyeluruh.
Reforma agraria yang tuntas dan berpihak pada petani muda — termasuk skema sewa lahan jangka panjang yang terjangkau dan terlindungi hukum — harus menjadi fondasi pertama. Digitalisasi yang inklusif juga sangat diperlukan: akses terhadap teknologi harus memungkinkan kelompok petani kecil, perempuan, dan komunitas di daerah terpencil untuk lebih terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan berbasis data
Penguatan rantai nilai dari hulu ke hilir tak kalah pentingnya, petani muda bukan hanya harus bisa menanam, tetapi juga harus bisa mengolah, memasarkan, dan mendistribusikan hasil panen secara langsung kepada konsumen melalui platform digital.
Kolaborasi perguruan tinggi pertanian dengan desa-desa nyata perlu diperkuat, sehingga ilmu tidak berhenti di laboratorium tetapi turun ke tanah dan bermanfaat bagi petani di lapangan.
Badan Pangan Nasional menegaskan tiga indikator kunci swasembada: tidak ada impor beras konsumsi sepanjang 2025, produksi nasional melampaui konsumsi dengan surplus 3,52 juta ton, dan stok Bulog menembus angka lebih dari 3 juta ton , tertinggi sepanjang sejarah. Capaian ini harus menjadi bahan bakar semangat, bukan alasan untuk berpuas diri.
Yang paling sering diabaikan namun paling penting adalah narasi. Negara dan media harus secara aktif membangun dan menyebarkan cerita tentang petani muda yang sukses, modern, dan bahagia. Karena generasi yang tumbuh di era media sosial ini sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat sebagai “keren” dan “layak dibanggakan”.
Indonesia telah mengalami peningkatan adopsi digital yang sangat signifikan, mencapai 80 persen di tahun 2024, setelah sebelumnya hanya berada di angka 52 persen pada 2016 . Kini saatnya kekuatan digital itu diarahkan ke tanah, ke benih, ke panen , bukan hanya ke konten dan hiburan semata.
Swasembada pangan 2025 bukanlah titik akhir, melainkan fondasi bagi penguatan kemandirian nasional yang berkelanjutan , pemerintah berkomitmen menjaga konsistensi produksi, memperluas swasembada ke komoditas strategis lainnya, serta memastikan manfaat pembangunan pertanian dirasakan secara merata. Tanggung jawab untuk memastikan fondasi itu kuat ada di pundak generasi yang sedang kita bicarakan.
Petani milenial dan Gen Z bukan sekadar tenaga kerja pengganti yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan generasi tua. Mereka adalah arsitek sistem pangan baru yang lebih cerdas, lebih efisien, lebih berkeadilan, dan lebih tahan terhadap guncangan global.
Mereka adalah generasi yang bisa mengelola drone sekaligus memahami siklus tanah. Generasi yang bisa menjual hasil panen lewat aplikasi sekaligus menjaga kearifan lokal tentang waktu tanam yang tepat. Generasi yang tidak memilih antara tradisi dan teknologi, melainkan merajut keduanya menjadi sebuah cara hidup baru yang bermartabat. Sawah bukan tempat yang ketinggalan zaman.
Sawah adalah laboratorium peradaban. Dan generasi yang paling melek teknologi dalam sejarah Indonesia sedang berdiri di tepinya, menunggu ekosistem yang tepat untuk melompat masuk dan mengubah segalanya.