Catatan Dari Hati

Di Balik Tagar SEAblings: Persaudaraan yang Lahir dari Luka Kolektif

“In the face of impossible odds, people who love this country can change it.” – Barack Obama

Dunia maya telah menjadi ruang publik baru tempat jutaan suara bertemu, bertukar gagasan, hingga kadang saling berbenturan. Di tengah hiruk-pikuk jagat digital yang kian padat, muncul fenomena yang menarik sekaligus mengharukan: kelahiran SEAblings, sebuah gerakan solidaritas spontan dari para pengguna internet Asia Tenggara yang bersatu menghadapi gelombang komentar rasis yang datang terutama dari netizen Korea Selatan.

Istilah SEAblings sendiri merupakan gabungan dari “SEA” (Southeast Asia) dan “siblings” (saudara kandung), melambangkan ikatan persaudaraan lintas negara yang terjalin di ruang digital.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari kebutuhan mendalam akan identitas kolektif di era ketika penggunaan media sosial di Asia Tenggara mencapai 73,7 persen dari total populasi atau sekitar 500 juta pengguna aktif pada tahun 2024.

Akar dari gerakan SEAblings dapat ditelusuri dari serangkaian insiden diskriminasi digital yang melibatkan warganet Korea Selatan terhadap konten dan kreator dari negara-negara Asia Tenggara.

Ketika seorang artis atau influencer dari Thailand, Indonesia, Filipina, atau Vietnam mendapatkan popularitas di platform global seperti Twitter, Instagram, atau YouTube, tidak jarang muncul komentar-komentar bernada merendahkan yang menyerang berdasarkan asal negara, warna kulit, hingga stereotip ekonomi.

Riset tentang ujaran kebencian daring menunjukkan bahwa dua dari tiga orang sering menemukan ujaran kebencian di internet, dengan India mencatat 85 persen dan Bangladesh 84 persen sebagai negara dengan paparan tertinggi.

Meski data spesifik untuk Asia Tenggara terbatas, pola serupa terlihat di kawasan ini dengan meningkatnya kasus pelecehan berbasis etnis di platform media sosial.

Yang menarik dari SEAblings bukanlah sekadar reaksi defensif terhadap agresi verbal, melainkan transformasi dari rasa sakit kolektif menjadi kekuatan solidaritas yang konstruktif.

Alih-alih membalas dengan kebencian serupa, para netizen Asia Tenggara justru memilih untuk saling mendukung, mempromosikan konten positif dari sesama kreator regional, dan membangun narasi tandingan yang merayakan keberagaman budaya kawasan.

Hashtag seperti #SEAblingsUnite, #ASEANPride, dan #SoutheastAsiaStrong menjadi wadah bagi jutaan unggahan yang menampilkan keindahan tradisi lokal, prestasi anak bangsa, hingga kolaborasi antarbudaya yang memperkaya khazanah digital global.

Di Indonesia sendiri, gerakan ini mendapat sambutan luar biasa dengan jutaan tweet yang menggunakan tagar terkait SEAblings, menjadikan Indonesia sebagai kontributor terbesar dalam gerakan solidaritas digital ini.

Namun di balik semangat persaudaraan yang menggebu, terdapat sejumlah tantangan kompleks yang harus dihadapi, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan populasi pengguna internet terbesar di Asia Tenggara.

Tantangan pertama adalah kesenjangan literasi digital yang masih menganga lebar. Meski Indonesia memiliki 185,3 juta pengguna internet pada tahun 2024 atau sekitar 66,5 persen dari total populasi, kemampuan untuk mengidentifikasi konten berbahaya, memahami konteks diskriminasi, dan merespons dengan cara yang bijak masih belum merata.

Banyak pengguna media sosial yang justru terpancing untuk membalas dengan cara yang sama destruktifnya, menciptakan lingkaran setan permusuhan yang semakin dalam. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa Indeks Literasi Digital Indonesia masih berada di angka 3,54 dari skala 5 pada tahun 2022, mencerminkan tingkat yang masih sedang dan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih kesulitan membedakan antara kritik konstruktif dan ujaran kebencian.

Tantangan kedua berkaitan dengan fragmentasi identitas dalam negeri yang kadang lebih kuat daripada identitas regional. Indonesia dengan keberagaman etnis, agama, dan budayanya yang luar biasa seringkali menghadapi paradoks: di satu sisi mampu bersatu sebagai SEAblings menghadapi diskriminasi dari luar, namun di sisi lain masih bergulat dengan perpecahan internal.

Kasus-kasus perundungan digital antarkelompok masyarakat, perseteruan antarpendukung klub sepak bola, hingga polarisasi politik di media sosial menunjukkan bahwa solidaritas eksternal belum tentu dibarengi dengan kohesi internal yang kuat.

Survei tentang ujaran kebencian pada media sosial Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan selama tahun pemilihan, dengan Twitter mencatat 51,2 persen dan Facebook 45,15 persen dari total ujaran kebencian yang terdeteksi.

Ketika energi kolektif lebih banyak tersedot untuk konflik domestik, gerakan SEAblings berisiko menjadi wacana simbolik tanpa dampak substantif terhadap perubahan perilaku digital masyarakat.

Tantangan ketiga adalah keterbatasan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung keamanan digital. Meskipun Indonesia telah memiliki Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, implementasi penegakan hukum terhadap pelaku ujaran kebencian lintas negara masih penuh kendala.

Platform media sosial global seperti Meta, X (Twitter), dan TikTok memiliki mekanisme moderasi konten yang belum sepenuhnya sensitif terhadap konteks lokal Asia Tenggara.

Laporan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil kasus ujaran kebencian lintas negara yang ditindaklanjuti secara efektif oleh platform digital, meninggalkan korban tanpa perlindungan memadai dan pelaku tanpa konsekuensi yang jelas.

Lalu bagaimana solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut? Pertama, diperlukan program literasi digital yang masif dan berkelanjutan, tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis menggunakan teknologi tetapi juga pada pembangunan karakter digital yang etis dan empatik.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melibatkan lebih dari 24 juta peserta dalam program literasi digital dari tahun 2017 hingga 2023, namun upaya ini perlu diperluas dan diperdalam. Kementerian Pendidikan perlu mengintegrasikan kurikulum kewargaan digital sejak tingkat pendidikan dasar, mengajarkan anak-anak muda tentang dampak kata-kata di dunia maya, pentingnya verifikasi informasi, dan cara merespons konflik dengan kepala dingin.

Kolaborasi dengan komunitas-komunitas digital positif, influencer yang memiliki pengaruh konstruktif, dan organisasi masyarakat sipil akan memperluas jangkauan program ini hingga ke lapisan masyarakat yang paling luas.

Kedua, penguatan platform dialog antarbudaya yang memungkinkan netizen Asia Tenggara tidak hanya bereaksi terhadap diskriminasi tetapi juga proaktif membangun narasi positif tentang kawasan. Inisiatif seperti festival konten digital bersama, kompetisi kreativitas lintas negara, hingga program pertukaran kreator dapat mengubah SEAblings dari gerakan reaktif menjadi kekuatan kreatif yang menghasilkan karya-karya bermakna.

Indonesia dengan industri kreatif digitalnya yang berkembang pesat dapat menjadi lokomotif dalam menggerakkan kolaborasi regional semacam ini, memanfaatkan kekuatan storytelling lokal yang kaya untuk menginspirasi persaudaraan yang lebih dalam.

Ketiga, advokasi untuk regulasi platform digital yang lebih responsif dan bertanggung jawab. Pemerintah Indonesia bersama negara-negara ASEAN lainnya perlu bersatu mendesak perusahaan-perusahaan teknologi global untuk menyediakan mekanisme pelaporan yang lebih mudah, proses moderasi yang lebih cepat, dan transparansi yang lebih besar dalam menangani kasus-kasus ujaran kebencian lintas negara.

Pembentukan task force regional yang khusus menangani keamanan digital di Asia Tenggara dapat menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa suara korban diskriminasi digital tidak hilang di tengah algoritma yang acuh tak acuh.

Gerakan SEAblings mengajarkan kita bahwa di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, solidaritas masih mungkin tumbuh bahkan di ruang yang paling tidak terduga sekalipun. Fenomena SEAblings yang kembali mencuat pada Februari 2026 membuktikan bahwa gerakan ini bukan sekedar momentum sesaat, melainkan manifestasi dari identitas kolektif yang semakin menguat.

Ia mengingatkan bahwa identitas bukan sekadar label geografis atau etnis, melainkan pilihan sadar untuk berdiri bersama mereka yang berbagi nilai kemanusiaan universal. Di Indonesia, dengan segala kompleksitas dan potensinya, gerakan ini bisa menjadi titik balik menuju budaya digital yang lebih sehat, di mana perbedaan dirayakan bukan sebagai alasan untuk saling menyerang tetapi sebagai kekayaan yang memperkuat kita semua.

Ketika jutaan suara dari Sabang sampai Merauke bersatu dengan saudara-saudara mereka di Thailand, Vietnam, Filipina, dan seluruh penjuru Asia Tenggara, mereka tidak hanya melawan rasisme tetapi juga menanam benih masa depan di mana dunia maya menjadi ruang yang lebih manusiawi bagi semua orang.

“We may have different religions, different languages, different colored skin, but we all belong to one human race.” – Kofi Annan

Related Posts
10 LAGU GAEK YANG BIKIN HATI TERMEHEK-MEHEK (2)
Saya lanjutkan kembali dari edisi sebelumnya 6. Every Breath You Take - The Police Lagu ini benar-benar asyik punya. Pertama kali dengar justru ketika saya menjadi engineer di Timori Putra Bangsa tahun ...
Posting Terkait
SEKEPING CATATAN TENTANG INDONESIA BERSATU
"Tanah air adalah sebuah proyek yang kita tempuh bersama-sama, kau dan aku. Sebuah kemungkinan yang menyingsing, sebuah cita-cita yang digayuh generasi demi generasi, sebuah impian yang kita jalani dengan tungkai ...
Posting Terkait
SYARIKAT ISLAM, KEMANDIRIAN UMAT DAN KENISCAYAAN EKONOMI PERADABAN
angit Jakarta terlihat "bersahabat" saat saya memasuki area kantor Syarikat Islam, Jl.Diponegoro No.43 Jakarta, Sabtu (12/8) pagi. Keteduhan pepohonan di kawasan tersebut terasa menyejukkan suasana terik saat saya menapakkan kaki ...
Posting Terkait
Pesona Parade Lampu yang memukau dalam Symphoni of Light (sumber : www.tourism.gov.hk)
ahabatku yang baik, Bagaimana kabarmu? Semoga tetap sehat ya. Hongkong tak banyak berubah sejak kepergianmu. Gedung-gedung tinggi menjulang bagaikan hutan beton menyelimuti seantero kota masih berdiri kokoh dan nuansa Tiongkok Moderen yang ...
Posting Terkait
"Tanah air adalah sebuah proyek yang kita tempuh bersama-sama, kau dan aku. Sebuah kemungkinan yang menyingsing, sebuah cita-cita yang digayuh generasi demi generasi, sebuah impian yang kita jalani dengan tungkai ...
Posting Terkait
Mengukir Masa Depan di Era Digital: Refleksi 30 Tahun Hari Kebangkitan Teknologi Nasional
"Innovation distinguishes between a leader and a follower." - Steve Jobs Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Agustus 1995, langit Indonesia disibak oleh suara gemuruh mesin pesawat N-250 ...
Posting Terkait
Rakernas Nindya Karya di Yogyakarta yang Mengesankan dan Mengejutkan (Bagian 2)
uaca cerah menyambut kami, peserta Rakernas PT Nindya Karya yang akan mengikuti kegiatan Lava Tour Merapi, Minggu (25/1). Seusai sarapan di resto Samazana lantai Lobby Hotel Royal Ambarukmo, kami segera ...
Posting Terkait
20 TAHUN & MENUA BAHAGIA BERSAMAMU
Kita telah melewati tahun demi tahun pernikahan dalam suka dan duka, istriku Perjalanan yang tak mudah, karena hidup kerap tak sesederhana yang kita fikirkan Merayakan Ulang Tahun ke 20 kita hari ini ...
Posting Terkait
SERI ASUS ZENBOOK TERBARU : TANGGUH, RINGAN, RINGKAS, EKSOTIK DAN FUTURISTIK
enjadi sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri buat saya, diundang secara resmi untuk ikut menghadiri acara peluncuran seri ASUS Zenbook 13/14/15 pada hari Kamis,17 Januari 2019 di Grand Ballroom Pullman Hotel - ...
Posting Terkait
Skor Merah Antikorupsi: Cermin Retak Penegakan Hukum Indonesia
"Corruption is a cancer: a cancer that eats away at a citizen's faith in democracy, diminishes the instinct for innovation and creativity." – Joe Biden ada Selasa pagi, 10 Februari 2026, ...
Posting Terkait
Kebahagiaan yang Terlupakan: Perjalanan dari “Ketakutan Terlewat” Menuju “Kedamaian Digital”
"Dalam dunia yang penuh dengan kebisingan, ketenangan menjadi sebuah revolusi." - Mahatma Gandhi Bayangkan sebuah dunia di mana notifikasi ponsel tidak lagi menjadi tuan yang menguasai hidup kita. Dunia di mana ...
Posting Terkait
Ketika Dunia Maya Membangun Dunia Nyata: Revolusi Metaverse dalam Konstruksi Indonesia
"Imajinasi adalah awal dari penciptaan. Anda membayangkan apa yang Anda inginkan, Anda menghendaki apa yang Anda bayangkan, dan akhirnya, Anda menciptakan apa yang Anda kehendaki." — George Bernard Shaw i sebuah ...
Posting Terkait
JURUS “ANTI MATI GAYA” HADAPI KRISIS GLOBAL (Dari Seminar Export Import DHL Express)
Pada Hari Selasa (24/3) lalu, saya berkesempatan menghadiri Seminar Setengah Hari mengenai Export Import yang diselenggarakan oleh PT Birotika Semesta (DHL Express) bertempat di Ballroom 1 Hotel Ritz Carlton Kawasan ...
Posting Terkait
BEKASI CYBER CITY, MUNGKINKAH ?
Bekasi kian tumbuh pesat sebagai “kota satelit” Jakarta dengan tingkat penetrasi jaringan internet yang cukup luas dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Transformasi Bekasi menuju sebuah “Cyber City” bukanlah ...
Posting Terkait
LIBURAN KE BANDUNG DENGAN BUS TRAVEL : NYAMAN, SERU DAN MENYENANGKAN
ebagai orang yang gemar bepergian, saya selalu mencari alternatif transportasi terbaik menuju destinasi tempat tujuan saya. Mencari Bus Murah Jakarta Bandung misalnya, saya lakukan lebih awal beberapa waktu sebelum keberangkatan ...
Posting Terkait
VIDEO BLOGGING SEBUAH PELUANG BARU
aya sangat terkesan dengan aksi Video Blogging yang dilakukan sahabat Kompasiana saya, mas Hazmi Srondol. Pada acara pembukaan Jakarta Art Awards 2012 di North Art Space Pasar Seni Taman Impian Jaya ...
Posting Terkait
10 LAGU GAEK YANG BIKIN HATI TERMEHEK-MEHEK (2)
SEKEPING CATATAN TENTANG INDONESIA BERSATU
SYARIKAT ISLAM, KEMANDIRIAN UMAT DAN KENISCAYAAN EKONOMI PERADABAN
SURAT PANJANG DARI HONGKONG : KEMERIAHAN MUSIM PANAS
DARI KOPDAR JAKARTA, UNTUK INDONESIA TERCINTA, MERDEKA !!
Mengukir Masa Depan di Era Digital: Refleksi 30
Rakernas Nindya Karya di Yogyakarta yang Mengesankan dan
20 TAHUN & MENUA BAHAGIA BERSAMAMU
SERI ASUS ZENBOOK TERBARU : TANGGUH, RINGAN, RINGKAS,
Skor Merah Antikorupsi: Cermin Retak Penegakan Hukum Indonesia
Kebahagiaan yang Terlupakan: Perjalanan dari “Ketakutan Terlewat” Menuju
Ketika Dunia Maya Membangun Dunia Nyata: Revolusi Metaverse
JURUS “ANTI MATI GAYA” HADAPI KRISIS GLOBAL (Dari
BEKASI CYBER CITY, MUNGKINKAH ?
LIBURAN KE BANDUNG DENGAN BUS TRAVEL : NYAMAN,
VIDEO BLOGGING SEBUAH PELUANG BARU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *