(Narsis) : Di Ujung Rindu yang Tak Pernah Padam
Langit sore itu berwarna tembaga, seolah ikut menahan napas bersama Arman yang berdiri di halte tua, tempat segalanya pernah dimulai.
Sudah sepuluh tahun berlalu.
Sepuluh tahun sejak ia dan Sinta berpisah tanpa janji. Bukan karena tak saling cinta, justru karena terlalu dalam, hingga keadaan terasa lebih kuat dari keinginan.
Arman menatap bangku kayu yang mulai lapuk. Di situlah dulu Sinta sering duduk, menggoyangkan kaki sambil bercerita tentang mimpi-mimpinya : tentang kota besar, tentang karier, tentang hidup yang lebih luas dari batas kampung kecil mereka.
Dan Arman… hanya diam, mendengarkan, sambil diam-diam berharap Sinta tak benar-benar pergi.
Namun ia pergi.
Dan Arman tak pernah benar-benar pergi dari tempat ini.
Waktu berjalan, seperti biasa , tanpa menoleh ke belakang.
Arman tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Ia kini memiliki usaha kecil yang perlahan berkembang. Orang-orang mengenalnya sebagai pria yang tenang, pekerja keras, dan… entah mengapa, selalu terlihat menunggu sesuatu.
Mereka tidak tahu, yang ia tunggu bukan sekadar seseorang.
Yang ia tunggu adalah kemungkinan.
Hari itu, tanpa alasan yang jelas, Arman merasa harus kembali ke halte itu. Seolah ada sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Angin sore berhembus pelan.
Dan kemudian…
“Masih suka datang ke sini?”
Suara itu.
Arman membeku.
Perlahan ia menoleh, dan dunia seakan berhenti berputar.
Sinta.
Berdiri di sana.
Dengan mata yang sama, senyum yang sama , hanya sedikit lebih dewasa, sedikit lebih lelah, dan entah kenapa… sedikit lebih rapuh.
“Aku pikir… kamu sudah lupa,” ujar Sinta pelan.
Arman menggeleng, nyaris tanpa suara.
“Beberapa hal… nggak pernah bisa dilupakan.”
Mereka duduk di bangku yang sama, seperti dulu. Namun kali ini, tanpa tawa riang. Hanya ada diam yang penuh makna.
“Aku sudah ke mana-mana,” kata Sinta. “Kota besar, pekerjaan, semua yang dulu aku impikan… aku dapatkan.”
“Lalu?” tanya Arman lirih.
Sinta tersenyum tipis.
“Semua itu ternyata… nggak pernah benar-benar terasa lengkap.”
Angin kembali berhembus, membawa aroma kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
“Aku kira waktu bisa menghapus semuanya,” lanjut Sinta. “Tapi semakin jauh aku pergi… semakin aku sadar… ada sesuatu yang selalu menarikku kembali.”
Arman menunduk.
“Ke sini?”
Sinta menggeleng perlahan.
“Ke kamu.”
Sunyi menyelimuti mereka.
Namun kali ini, sunyi itu bukan tentang kehilangan.
Melainkan tentang jawaban yang akhirnya datang, setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Arman menatap Sinta, dengan mata yang tak lagi ragu.
“Kalau kali ini… kamu pergi lagi?” tanyanya hati-hati.
Sinta menggeleng, kali ini lebih pasti.
“Enggak. Aku sudah terlalu jauh berjalan untuk akhirnya mengerti… rumahku bukan tempat. Tapi seseorang.”
Air mata jatuh , pelan, tanpa suara.
Langit tembaga perlahan berubah menjadi gelap.
Lampu-lampu jalan mulai menyala.
Dan di antara cahaya redup itu, dua orang yang pernah kehilangan arah akhirnya menemukan jalan pulang.
Bukan karena mereka mencari.
Tapi karena cinta… selalu tahu ke mana harus kembali.