(Narsis) : Satu Nama Di Ujung Doa
Namanya Wisnu. Dan selama dua puluh dua tahun, ia menyebut nama itu dalam setiap doa yang ia panjatkan : bukan meminta, hanya menyebut, seperti orang yang meletakkan bunga di atas makam bukan karena ingin si mati bangkit, melainkan hanya ingin memastikan ia tidak terlupakan.
Laras pertama kali bertemu Wisnu di perpustakaan kampus, semester pertama, tahun pertama.
Wisnu sedang membaca Kahlil Gibran dengan cara yang aneh, bukunya terbalik, dan ia tetap membaca dengan serius seperti tidak tahu, atau tidak peduli.
“Bukumu terbalik,” kata Laras.
Wisnu mengangkat kepala.
Matanya berbentuk seperti daun ketapang , sedikit sipit di ujungnya, hangat seperti lampu meja. “Aku tahu,” jawabnya. “Aku sedang mencoba memahaminya dari sudut pandang yang berbeda.”
Laras duduk. Mereka bicara sampai perpustakaan tutup.
Itu adalah permulaan dari sesuatu yang Laras tidak pernah bisa beri nama.
***
Mereka bukan sepasang kekasih. Tidak pernah.
Wisnu selalu ada tapi tidak pernah ada, hadir tapi tidak dimiliki, dekat tapi tidak terjangkau.
Ada batas yang tidak pernah mereka bicarakan tapi selalu terasa, seperti kaca yang bening dan keras, terlihat tembus tapi tidak bisa dilewati.
Wisnu menikah saat usia dua puluh delapan. Perempuannya cantik, baik hati, dan mencintainya dengan cara yang sederhana dan nyata. Laras hadir di pernikahannya dengan senyum yang ia latih berhari-hari di depan cermin.
“Kamu baik-baik saja?” bisik sahabatnya, Dita, di meja paling belakang.
“Tentu saja,” jawab Laras. “Aku bahagia untuknya.”
Dan itu bukan kebohongan. Laras memang bahagia. Hanya saja kebahagiaannya bercampur dengan sesuatu yang tidak ada namanya dalam kamus mana pun , sesuatu yang terasa seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia miliki.
***
Dua puluh dua tahun berlalu.
Laras tidak menikah , bukan karena tidak ada yang mau, tapi karena tidak ada yang terasa cukup.
Ia tahu itu tidak adil.
Ia tahu ia sedang membandingkan dengan sesuatu yang tidak nyata. Tapi hati tidak pernah mau belajar logika.
Suatu hari di bulan November, ponselnya bergetar.
Wisnu: “Hei. Kamu masih suka kopi pahit?”
Laras menatap layar itu lama sekali.
Dua puluh dua tahun. Dan Wisnu masih ingat itu.
Laras: “Masih.”
Wisnu: “Aku juga. Istriku baru saja pindah ke Jakarta. Kerja. Anak-anak ikut. Aku di sini sendiri. Boleh aku ajak kamu ngopi?”
Mereka bertemu di kafe kecil dekat jembatan lama.
Wisnu sudah ada di sana saat Laras datang , rambutnya mulai beruban di pelipis, tapi matanya masih sama, hangat seperti lampu meja.
Di atas meja ada dua cangkir kopi pahit. Dan sebuah buku Kahlil Gibran. Terbalik.
Laras tertawa , tawa sungguhan, bukan yang dilatih di cermin.
“Masih melakukan itu?” tanyanya.
“Beberapa hal tidak perlu diubah,” kata Wisnu.
Mereka bicara berjam-jam.
Tentang dua puluh dua tahun yang berlalu. Tentang anak-anak Wisnu yang sudah besar. Tentang pekerjaan Laras. Tentang perpustakaan kampus yang sudah direnovasi. Tentang Kahlil Gibran.
Tidak tentang perasaan. Tidak tentang apa yang pernah ada atau tidak pernah ada.
Tapi saat mereka berpisah di depan kafe, Wisnu berkata pelan: “Aku selalu bersyukur kamu ada di hidupku, Laras. Dulu. Sekarang.”
Laras mengangguk. Tenggorokannya terasa penuh.
Di dalam mobilnya, ia menangis , bukan karena sedih, bukan karena menyesal.
Tapi karena ada cinta yang tidak pernah terucap dan tidak akan pernah terucap, dan anehnya, itu cukup.
Menjadi bagian dari hidupnya, meski hanya dari pinggir.
Menyebutnya dalam doa, meski hanya satu nama di antara ribuan kata.
Malam itu, seperti dua puluh dua tahun sebelumnya, Laras menyebut nama itu di ujung doanya.
Bukan meminta. Hanya menyebut.
Karena beberapa cinta memang diciptakan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga.