Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEENAMBELAS

Andini menemukan balasan itu keesokan paginya. Tiga kata. Dan entah kenapa tiga kata itu membuat dadanya sesak sebentar sebelum akhirnya bernapas lagi.

tuan-putri-malam : Kamu kemana saja?

Tidak ada balasan sampai sore. Saat balasan datang, Andini sedang berdesak-desakan dalam Trans-Jakarta.

dark-knight : Aku sedang memikirkan banyak hal. Maaf kalau aku membuatmu khawatir.

tuan-putri-malam : Aku tidak bilang aku khawatir.

dark-knight : Ah, Masa sih?

Andini menatap layar ponselnya.

tuan-putri-malam : Lancang sekali.

dark-knight : Aku hanya jujur. Maaf kalau itu tidak nyaman.

tuan-putri-malam : Kamu selalu begitu. Bicara hal yang tidak nyaman dengan cara yang membuatnya terdengar wajar saja.

dark-knight : Apakah itu buruk?

tuan-putri-malam : Tidak. Justru itu yang membuatmu berbeda.

dark-knight : Berbeda dari siapa?

Dan di situlah Andini menyadari dirinya hampir mengetik nama Randy. Hampir membandingkan dua orang yang bahkan tidak ia sadari sedang ia bandingkan.

Ia menutup layar ponselnya.

Bis berhenti. Andini turun, berdiri di tepi trotoar di bawah pohon yang daunnya masih meneteskan sisa hujan.

Apa yang sedang kulakukan?

Ia sedang jatuh — pelan-pelan, diam-diam — pada seseorang yang bahkan belum pernah ia tatap wajahnya langsung sebagai dark-knight.

Seseorang yang hanya ia kenal dari layar kecil dan kata-kata.

Atau begitulah yang ia yakini.

Padahal ia sudah pernah menatap wajah itu. Sudah pernah mendengar suaranya. Sudah pernah tertawa bersamanya di sebuah café, di malam yang jauh.

Andini menutup matanya.

Made.

Nama itu tidak minta izin sebelum muncul.

Di kantornya, pada sore yang sama, Made menerima email dari Pak Hasan.

Bukan sesuatu yang aneh — sang guru tua itu sesekali mengiriminya pesan, biasanya berisi nasihat yang waktunya selalu terasa terlalu tepat.

Kali ini hanya satu kalimat:

“Made, ada yang ingin kamu ketahui tapi kamu takut konfirmasi. Percayai inderamu , tapi lebih penting, percayai hatimu.”

Made membaca kalimat itu tiga kali. Lalu ia menutup emailnya, memandang layar yang kosong, dan mengambil napas panjang.

Baik, Pak Hasan. Baik.

Ia membuka Yahoo Messenger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *