Flash Fiction : Luka di Balik Janji
Mereka pernah berjanji: tak ada kebohongan, tak ada rahasia.
Tapi malam itu, saat Kay mendapati pesan masuk di ponsel Rendra—”Aku rindu. Kapan kita bertemu lagi?”—semua janji runtuh seperti kartu domino.
Rendra terdiam. Tak membela diri, tak menyangkal. Hanya menatap lantai, seolah tahu segalanya sudah selesai.

Kay berdiri. Di matanya tak ada air mata, hanya dingin yang menusuk:
“Yang lebih menyakitkan dari dikhianati… adalah menyadari aku terlalu percaya.”
Cinta mereka tetap ada. Tapi seperti cermin retak, tak bisa dipakai lagi.