Catatan Dari Hati

Di Jantung Gelombang Informasi: Memaknai World News Day 2025

“Dalam era informasi, ketidaktahuan adalah pilihan.” – Donny Miller

Hari ini, 28 September 2025, dunia kembali memperingati World News Day, sebuah kampanye global yang merayakan jurnalisme berkualitas dan mengingatkan kita semua akan peran vital berita berbasis fakta dalam kehidupan bermasyarakat. Peringatan ini bertepatan dengan Hari Universal PBB untuk Akses Informasi, sebuah kebetulan yang penuh makna.

Kampanye ini pertama kali digagas oleh David Walmsley, pemimpin redaksi The Globe and Mail, dan diluncurkan oleh Canadian Journalism Foundation pada 3 Mei 2018. Sejak awal, visi Walmsley jelas: di era ketika lebih banyak orang mengonsumsi berita namun sedikit yang memahami bagaimana jurnalisme bekerja, diperlukan momentum khusus untuk menjelaskan mengapa jurnalisme penting.

Kini, setelah tujuh tahun berjalan, World News Day telah berkembang pesat dan melibatkan lebih dari 800 ruang redaksi di lima benua, dipimpin bersama oleh World Editors Forum WAN-IFRA, Project Kontinuum, dan Canadian Journalism Foundation.

Di tengah hiruk pikuk era digital yang memungkinkan siapa saja menjadi penyebar informasi, pertanyaan mendasar muncul: apakah kita masih menghargai kebenaran? Apakah kita masih membutuhkan jurnalisme profesional ketika setiap orang bisa menjadi “wartawan” dengan ponsel di tangannya?

Dulu, berita datang dari sumber yang terpercaya, melalui penyaring editorial yang ketat, dan sampai kepada pembaca dengan tanggungjawab moral yang jelas. Kini, batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, dan kebenaran harus bersaing dengan sensasi dalam merebut perhatian publik.

Data menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan sekaligus menarik. Menurut laporan Pew Research Center tahun 2024, sebanyak 33% orang dewasa Amerika mendapatkan berita secara rutin dari Facebook dan YouTube.

Di Amerika Serikat, proporsi orang yang mengatakan media sosial sebagai sumber berita utama mereka meningkat signifikan dari sekitar 4% pada 2015 menjadi 34% pada 2025. Bahkan, akses berita melalui media sosial dan jaringan video telah melampaui televisi sebagai sumber informasi. Ini bukan sekadar pergeseran platform, tetapi transformasi fundamental dalam cara manusia mengonsumsi dan mempercayai informasi.

Namun, kemudahan akses ini datang dengan harga yang mahal. Peneliti MIT menemukan bahwa berita palsu mencapai 1.500 orang sekitar enam kali lebih cepat daripada berita yang benar di media sosial, dengan tingkat penyebaran ulang 70% lebih tinggi. Ketika postingan yang menyesatkan menjadi viral, koreksinya tidak pernah dilihat atau dipercaya secara luas.

Fakta yang bombastis lebih keras, lebih lengket, lebih mengakar dalam ingatan kolektif kita daripada kebenaran yang membosankan. Bahkan World Economic Forum Global Risks Report 2025 mengidentifikasi informasi yang salah dan disinformasi sebagai risiko paling mendesak untuk dua tahun ke depan, dengan ancaman seperti pemalsuan yang dihasilkan kecerdasan buatan dan menurunnya kepercayaan pada lembaga.

Tantangan yang kita hadapi hari ini bukan hanya soal teknologi, tetapi krisis kepercayaan yang lebih dalam. Ketika platform media sosial memungkinkan setiap orang menjadi penerbit, standar jurnalistik profesional—verifikasi, keseimbangan, akuntabilitas—sering diabaikan demi kecepatan dan viralitas.

Algoritma tidak peduli pada kebenaran; mereka hanya peduli pada keterlibatan. Konten yang memicu emosi, yang membuat marah atau takut, yang mengkonfirmasi bias kita, itulah yang dipromosikan. Kebenaran yang bernuansa, yang kompleks, yang membutuhkan pemikiran kritis, sering kali tenggelam dalam lautan informasi yang dangkal.

Lebih mengkhawatirkan lagi, beberapa platform media sosial besar bahkan mundur dari komitmen mereka terhadap moderasi konten. Pada Januari 2025, Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa Meta akan menghentikan pemeriksa fakta independen pihak ketiga, dengan menyatakan bahwa mereka menyebabkan “terlalu banyak sensor”.

Elon Musk di X (dulunya Twitter) memposting “Semua hal dalam moderasi, terutama moderasi konten.” Ketika penjaga gerbang informasi digital mengurangi tanggung jawab mereka, siapa yang akan melindungi publik dari banjir kebohongan?

Namun, di tengah kegelapan ini, ada cahaya harapan. World News Day bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi panggilan untuk bertindak. National Press Foundation mengakui bahwa di saat jurnalisme independen dan kebebasan pers berada dalam risiko besar, peran dan dampak mendalam dari jurnalisme berbasis fakta menjadi sangat vital.

Kampanye tahun ini, “When Facts Truly Matter” (Ketika Fakta Benar-Benar Penting), mengingatkan kita bahwa jurnalisme berkualitas bukan kemewahan, tetapi kebutuhan untuk demokrasi yang sehat.

Solusinya harus datang dari berbagai arah. Pertama, kita perlu investasi berkelanjutan dalam jurnalisme profesional. Ruang redaksi yang kekurangan sumber daya tidak dapat melakukan investigasi mendalam yang diperlukan untuk mengungkap kebenaran. Kedua, literasi media harus menjadi bagian integral dari pendidikan kita.

Sepertiga orang mengatakan bahwa jurnalis dan organisasi media memikul beban tertinggi dalam membantah informasi palsu, tetapi hampir sama banyaknya (31%) mengatakan warga negara paling bertanggung jawab.

Kebenaran adalah tanggung jawab bersama. Kita semua harus belajar membedakan antara berita dan propaganda, antara fakta dan opini, antara sumber yang kredibel dan yang meragukan.

Ketiga, platform digital harus bertanggung jawab atas konten yang mereka sebarkan. Bukan dengan sensor yang sewenang-wenang, tetapi dengan transparansi algoritma, promosi sumber berita yang kredibel, dan mekanisme yang lebih baik untuk mengidentifikasi dan membatasi penyebaran informasi palsu.

Praktik paling umum untuk menyaring konten palsu adalah mempertimbangkan kredibilitas sumbernya, dengan 62% responden menggunakannya. Platform harus memudahkan pengguna untuk menilai kredibilitas ini.

Keempat, jurnalis harus terus beradaptasi tanpa mengorbankan prinsip inti mereka. Kecepatan penting dalam era digital, tetapi tidak pernah pada biaya akurasi. Keterlibatan dengan audiens penting, tetapi tidak dengan mengorbankan independensi editorial.

Menggunakan teknologi baru seperti kecerdasan buatan dapat membantu efisiensi, tetapi penilaian manusia tetap tidak tergantikan dalam menimbang konteks dan nuansa.

Prospek masa depan jurnalisme bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini. Akan ada lebih banyak gangguan, lebih banyak tantangan, lebih banyak tekanan ekonomi dan politik. Tetapi kebutuhan fundamental manusia akan informasi yang dapat dipercaya tidak akan pernah hilang.

Bahkan dalam era kecerdasan buatan dan realitas virtual, orang masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dunia mereka. Mereka ingin cerita yang diceritakan dengan jujur, yang menerangi kegelapan, yang memberikan suara kepada yang tidak bersuara, yang mengungkap ketidakadilan, yang merayakan kemanusiaan dalam segala kompleksitasnya.

Jurnalisme yang bertahan dan berkembang akan menjadi jurnalisme yang melayani kebutuhan ini dengan integritas, yang membangun kepercayaan melalui konsistensi dan transparansi, yang mengakui kesalahan dan belajar dari mereka, yang melihat audiens bukan sebagai konsumen pasif tetapi sebagai mitra dalam mencari kebenaran.

Ini akan menjadi jurnalisme yang merangkul inovasi tanpa melupakan misi, yang memahami platform baru tanpa dikuasai oleh logika mereka, yang berkompetisi untuk perhatian tanpa mengorbankan substansi demi sensasi.

Sebagai manusia yang hidup di era ini, tanggung jawab kita jelas. Kita harus menjadi konsumen informasi yang kritis dan cerdas. Kita harus mendukung jurnalisme berkualitas, baik melalui langganan, donasi, atau hanya dengan membagikan karya yang baik alih-alih sensasi yang kosong.

Kita harus mengajarkan generasi berikutnya bahwa tidak semua yang berkilau adalah emas, tidak semua yang viral adalah benar, dan tidak semua yang menyenangkan untuk didengar adalah akurat.

World News Day mengingatkan kita bahwa dalam perang melawan kebodohan dan manipulasi, jurnalisme adalah senjata paling kuat yang kita miliki. Tetapi seperti senjata apa pun, efektivitasnya bergantung pada siapa yang memegangnya dan bagaimana mereka menggunakannya.

Mari kita jadikan hari ini bukan hanya peringatan, tetapi pembaruan komitmen kita terhadap kebenaran, terhadap transparansi, terhadap akuntabilitas, dan terhadap keyakinan bahwa fakta—meskipun terkadang tidak nyaman, terkadang kompleks, terkadang membingungkan—masih penting.

Karena pada akhirnya, peradaban kita dibangun bukan di atas kebohongan yang indah, tetapi di atas kebenaran yang sulit. Dan jurnalisme yang baik adalah cahaya yang membantu kita melihat kebenaran itu, tidak peduli seberapa gelap jalan yang harus kita lalui.

Related Posts
Membangun Negeri di Atas Fondasi Keberanian: Konstruksi sebagai Wujud Nyata Bela Negara
"A nation's greatness is measured by how it treats its weakest members." – Mahatma Gandhi etiap tanggal 19 Desember, kita mengenang semangat perlawanan rakyat Indonesia yang mempertahankan kedaulatan negara dari agresi ...
Posting Terkait
ANGINGMAMMIRI UNTUK ACARA WORDCAMP INDONESIA
ANGINGMAMMIRI.ORG berkontribusi untuk kegiatan bertaraf internasional: WordCamp Indonesia 2009 - Jakarta, 17-18 Januari 2009. WordCamp Indonesia 2009 adalah ajang kumpul dan diskusi para pengguna, pengembang dan orang-orang yang antusias pada Wordpress, salah blog ...
Posting Terkait
AHA MOMENTS SKYSCANNER : APRESIASI KEARIFAN LOKAL, KEHANGATAN KOLEGIAL DAN BELAJAR HAL BARU
“The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are.” – Samuel Johnson enar adanya apa yang ...
Posting Terkait
Penerapan Blockchain dalam Upaya Revolusi Digital dan Efisiensi dalam Manajemen Rantai Pasok
Di tengah gelombang revolusi digital yang semakin masif, teknologi blockchain telah mengukuhkan dirinya sebagai pilar inovasi yang transformatif, siap untuk merombak arsitektur manajemen rantai pasok global. Bukan sekadar sebuah buzzword, ...
Posting Terkait
#BATIKINDONESIA : MELESTARIKAN KEARIFAN LOKAL DENGAN KAMPANYE KOLABORATIF DIGITAL MULTI ARAH
aya masih selalu terkenang-kenang perjalanan wisata budaya "Mahakarya Indonesia" ke Madura 3 tahun silam. Salah satunya adalah ketika mengunjungi pengrajin batik gentongan Zulfah Batik di Tanjung Bumi, Bangkalan. Waktu itu, ...
Posting Terkait
DYANDRA PROMOSINDO & KOMUNITAS BLOGGER MAKASSAR ANGINGMAMMIRI GELAR LOMBA BLOG MENYONGSONG IIMS 2015
omunitas Blogger Makassar Anging Mammiri dan Penyelenggara Event terkemuka Dyandra Promosindo bekerjasama dalam kegiatan Lomba Blog berhadiah total Rp 10 juta dalam rangka menyongsong acara kolosal tahunan Indonesia International Motor ...
Posting Terkait
“COGNITIVE PROCUREMENT”, TANTANGAN DAN MANFAAT PENERAPANNYA PADA TATA KELOLA RANTAI PASOK DI INDUSTRI KONSTRUKSI
Perkembangan dunia digital saat ini begitu cepat dan massif. Pada sistem Tata Kelola Rantai Pasok (Supply Chain Management), laju intensitas peningkatan penggunaan teknologi digital khususnya pada industri konsruksi juga mengalami ...
Posting Terkait
Membangun Nusantara dengan Bijak: Konstruksi Ramping sebagai Jembatan Menuju Indonesia Berkelanjutan
i setiap sudut kota Jakarta yang sesak, di hamparan persawahan yang berubah menjadi kompleks perumahan, dan di pulau-pulau terpencil Nusantara yang mulai terjamah pembangunan, terdengar simfoni yang sama: bunyi martil, ...
Posting Terkait
LIBURAN KE BANDUNG DENGAN BUS TRAVEL : NYAMAN, SERU DAN MENYENANGKAN
ebagai orang yang gemar bepergian, saya selalu mencari alternatif transportasi terbaik menuju destinasi tempat tujuan saya. Mencari Bus Murah Jakarta Bandung misalnya, saya lakukan lebih awal beberapa waktu sebelum keberangkatan ...
Posting Terkait
Masa Depan Penerapan Circular Supply Chain untuk Pembangunan Berkelanjutan
Transformasi menuju ekonomi sirkular telah menjadi imperatif global yang tidak dapat diabaikan lagi. Di tengah krisis lingkungan yang semakin mengancam dan tekanan sumber daya yang terus meningkat, dunia usaha menghadapi ...
Posting Terkait
Jejak Purba dalam Riak Peradaban: Gau Maraja Leang-Leang 2025 dan Kebangkitan Identitas Budaya Sulawesi Selatan
i hamparan tanah karst yang menyimpan jejak-jejak purba, Kabupaten Maros kembali menggaungkan suara peradaban yang telah berusia ribuan tahun. Festival Budaya Gau Maraja Leang-Leang 2025 yang digelar pada tanggal 3-5 ...
Posting Terkait
4 Tahun Sejak Papa Berpulang : Jejak Langkah yang Tak Akan Pernah Terhapus
i bawah langit Makassar yang senja dan lembap, empat tahun silam pada tanggal 11 Juli 2021, waktu seolah mengendap, membekukan segala detak dan denyut di dada. Ayah saya, lelaki yang ...
Posting Terkait
Reruntuhan di Tengah Khusyuk: Darurat Keselamatan Konstruksi Indonesia
enin sore, 29 September 2025, seharusnya menjadi waktu yang penuh berkah di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo. Azan berkumandang, ratusan santri berbondong-bondong menuju mushala untuk melaksanakan salat Asar berjamaah. Mereka ...
Posting Terkait
MENGABADIKAN CERPEN-CERPEN TERPILIH DI “STORIAL”
"Cinta Dalam Sepotong Kangkung" adalah cerpen yang pernah saya tulis dan dimuat di Suratkabar Pedoman Rakyat Makassar, 15 April 1991. Pada Hari Sabtu, 9 Desember 2006, cerpen ini diadaptasi menjadi ...
Posting Terkait
Dari Cangkul ke Algoritma: Perjalanan Humanis Teknologi Presisi dalam Mengangkat Martabat Petani Indonesia
"Teknologi sejati adalah ketika ia menjadi tak terlihat, menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita." – Mark Weiser Sinar matahari baru saja menyingsing ketika Pak Karno, petani padi berusia 53 tahun dari Karawang, ...
Posting Terkait
Perempuan Tangguh di Balik Beton dan Baja: Refleksi Hari Ibu tentang Kesetaraan dalam Konstruksi Indonesia
Ketika fajar menyingsing di Jakarta pada pukul empat pagi, Sari, bukan nama sebenarnya, sudah bangun meninggalkan kehangatan kamar kontrakannya. Di ruang sempit berukuran tiga kali empat meter itu, dua anaknya ...
Posting Terkait
Membangun Negeri di Atas Fondasi Keberanian: Konstruksi sebagai
ANGINGMAMMIRI UNTUK ACARA WORDCAMP INDONESIA
AHA MOMENTS SKYSCANNER : APRESIASI KEARIFAN LOKAL, KEHANGATAN
Penerapan Blockchain dalam Upaya Revolusi Digital dan Efisiensi
#BATIKINDONESIA : MELESTARIKAN KEARIFAN LOKAL DENGAN KAMPANYE KOLABORATIF
DYANDRA PROMOSINDO & KOMUNITAS BLOGGER MAKASSAR ANGINGMAMMIRI GELAR
“COGNITIVE PROCUREMENT”, TANTANGAN DAN MANFAAT PENERAPANNYA PADA TATA
Membangun Nusantara dengan Bijak: Konstruksi Ramping sebagai Jembatan
LIBURAN KE BANDUNG DENGAN BUS TRAVEL : NYAMAN,
Masa Depan Penerapan Circular Supply Chain untuk Pembangunan
Jejak Purba dalam Riak Peradaban: Gau Maraja Leang-Leang
4 Tahun Sejak Papa Berpulang : Jejak Langkah
Reruntuhan di Tengah Khusyuk: Darurat Keselamatan Konstruksi Indonesia
MENGABADIKAN CERPEN-CERPEN TERPILIH DI “STORIAL”
Dari Cangkul ke Algoritma: Perjalanan Humanis Teknologi Presisi
Perempuan Tangguh di Balik Beton dan Baja: Refleksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *