Catatan Dari Hati

(Narsis) Sepenggal Lagu di Stasiun Tua

Stasiun kereta itu hampir kosong ketika Dimas duduk di bangku kayu yang cat birunya sudah mengelupas. Pukul sebelas malam, hanya lampu kuning redup yang menemaninya. Gitar tua dalam tas punggungnya terasa berat, atau mungkin hatinya yang berat.

Lima tahun. Lima tahun ia mengembara dari kota ke kota, menyanyi di jalanan, di kafe-kafe kumuh, di sudut-sudut yang bahkan tidak ada yang peduli.

Lima tahun ia mencoba melupakan suara itu, suara yang dulu selalu memintanya menyanyikan lagu-lagu lama di teras rumah mereka.

“Nyanyi lagi, Mas,” pintanya selalu. “Suaramu membuat dunia terasa lebih indah.”

Dimas tersenyum pahit mengingat itu. Dunia tidak lebih indah. Dunia tetap kejam, dan cinta tidak selalu cukup.

Kereta terakhir akan datang dalam sepuluh menit. Setelah itu, ia akan pergi lagi, entah ke mana. Yang penting jauh dari kota ini, kota yang terlalu penuh dengan kenangan.

Tiba-tiba, ia mendengar langkah kaki. Seorang wanita berjalan perlahan di peron, membawa tas besar dan tampak lelah. Mantelnya basah oleh hujan yang baru saja reda. Wanita itu berhenti, memilih duduk di ujung bangku yang sama, cukup jauh dari Dimas, tapi cukup dekat untuk ia lihat.

Jantungnya berhenti.

Rania.

Wajah yang telah ia lihat dalam setiap mimpi, dalam setiap lagu yang ia ciptakan. Wajah yang ia kira tak akan pernah ia temui lagi.

Rania belum menyadarinya.

Gadis itu—bukan, wanita itu, karena waktu telah mengubah mereka berdua—sibuk mengeluarkan ponselnya, lalu menghela napas panjang ketika menyadari baterainya habis.

Dimas terdiam.

Sebagian dirinya ingin berdiri dan pergi sebelum Rania melihatnya. Sebagian lagi ingin mendekat, memanggil namanya, dan mengatakan semua yang tidak sempat ia katakan lima tahun lalu.

Keputusan itu diambil dari tangannya ketika angin malam membawa aroma parfum Rania, melati, seperti dulu.

Rania menoleh, dan mata mereka bertemu.

Waktu berhenti.

Ekspresi terkejut muncul di wajah Rania, berganti dengan sesuatu yang tidak bisa Dimas baca: sedih? Marah? Rindu?

“Dimas?” suaranya pelan, seakan takut ia salah orang.

“Rania,” jawabnya sederhana, suaranya serak.

Mereka terdiam. Keheningan stasiun tua itu terasa begitu keras.

Rania akhirnya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Lama tidak bertemu.”

“Lima tahun,” kata Dimas. “Lima tahun, dua bulan, tiga belas hari.”

Rania terkejut mendengar ketelitian itu. Matanya berkaca-kaca sebelum ia mengalihkan pandangan.

“Kau… masih menghitung.”

“Aku tidak pernah berhenti.”

Rania menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. “Kenapa? Kenapa kau menghitung sesuatu yang sudah berakhir?”

“Karena akhir itu tidak pernah terasa benar.” Dimas bangkit, perlahan berjalan mendekat. “Aku pergi waktu itu karena aku pikir itu yang terbaik. Kau berhak mendapat seseorang yang lebih dari sekadar penyanyi jalanan dengan masa depan yang tidak jelas.”

“Dan kau pikir kau berhak memutuskan itu sendirian?” suara Rania meninggi, emosi yang selama ini ia pendam akhirnya meledak. “Kau pikir aku peduli tentang uang atau status? Yang kuinginkan hanya kau, Dimas. Hanya kau dan lagu-lagumu.”

“Ayahmu—”

“Ayahku bukan aku!” Rania berdiri, air mata mengalir bebas. “Ya, dia tidak setuju. Ya, dia bilang kau tidak akan bisa menghidupi aku. Tapi aku rela, Dimas. Aku rela hidup sederhana asalkan bersamamu. Tapi kau pergi. Kau meninggalkan aku dengan surat singkat yang bahkan tidak menjelaskan apa-apa.”

Dimas merasakan sakit di dadanya. Ia ingat malam itu, malam ketika ia mendengar ayah Rania berbicara di telepon tentang mencarikan perjodohan untuk putrinya dengan pengusaha muda.

Ia ingat bagaimana ia merasa begitu kecil, begitu tidak berguna.

“Aku takut,” bisiknya akhirnya. “Aku takut suatu hari kau akan melihatku dan menyesal. Aku takut tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Aku takut cintaku justru membuatmu menderita.”

“Dan kau pikir kehilangan kau tidak membuatku menderita?” Rania tertawa pahit. “Setiap hari, Dimas. Setiap hari aku mendengar lagu-lagu di radio dan berharap itu suaramu. Setiap hari aku berjalan melewati tempat-tempat yang pernah kita datangi dan merasa seperti hantu yang berkeliaran mencari sesuatu yang sudah hilang.”

“Maafkan aku,” kata Dimas, suaranya pecah. “Maafkan aku karena menjadi pengecut. Maafkan aku karena memilih pergi daripada berjuang.”

Pengumuman gema di stasiun: kereta akan tiba dalam lima menit.

Rania mengusap air matanya. “Kau mau ke mana?”

“Entahlah. Jauh. Seperti biasa.”

“Lari terus?”

Pertanyaan itu menohok. Dimas terdiam.

“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?” Rania melanjutkan, suaranya gemetar. “Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku sudah menerima bahwa kau pergi. Aku sudah mencoba melanjutkan hidup. Tapi hatiku… hatiku tidak pernah belajar bagaimana berhenti mencintaimu.”

Dimas merasa lututnya lemas. “Rania…”

“Aku hampir menikah, kau tahu?” katanya tiba-tiba. “Pria baik-baik. Dokter. Ayah sangat menyukainya. Semuanya sudah diatur. Undangan sudah dicetak.”

Dimas merasakan sesuatu retak di dadanya. “Hampir?”

“Aku membatalkannya tiga hari yang lalu.” Rania tersenyum pahit. “Karena di malam sebelum pernikahan, dia meminta aku menyanyikan lagu untuknya. Dan aku tidak bisa, Dimas. Aku tidak bisa menyanyikan lagu untuk orang lain ketika semua lagu dalam diriku adalah untukmu.”

Kereta mulai terlihat di kejauhan, lampunya menembus kabut malam.

Dimas menatap Rania, wanita yang telah mencintainya dengan cara yang tidak pernah ia pahami, yang telah menunggunya meski ia tidak pernah meminta, yang telah memilihnya bahkan ketika ia tidak memilih dirinya sendiri.

“Aku bukan orang yang sama lima tahun lalu,” kata Dimas pelan. “Aku masih tidak punya apa-apa. Masih penyanyi jalanan. Masih hidup dari kota ke kota. Aku tidak bisa menjanjikan kau rumah besar atau kehidupan yang nyaman.”

“Aku tidak minta itu.”

“Tapi aku bisa berjanji satu hal,” Dimas melangkah mendekat, mengambil tangan Rania yang dingin. “Aku berjanji tidak akan lari lagi. Aku berjanji akan berjuang, betapapun sulitnya. Aku berjanji akan bernyanyi untukmu setiap hari, sampai suaraku serak dan jari-jariku tidak bisa lagi memetik gitar.”

Rania menangis, kali ini bukan tangis sedih. “Itu lebih dari cukup.”

Kereta berhenti di peron. Pintu terbuka. Tidak ada yang turun, tidak ada yang naik.

Dimas melepas tas gitarnya, meletakkannya di bangku. Ia tidak akan naik kereta itu. Ia tidak akan lari lagi.

“Tetaplah,” bisik Rania.

“Aku akan tetap. Kali ini, aku akan tetap.”

Mereka berdiri di tengah stasiun tua itu, berpelukan erat sementara kereta perlahan meninggalkan peron. Angin malam membawa debu dan daun-daun kering, tapi mereka tidak peduli.

Dimas akhirnya melepaskan pelukan, meraih gitarnya. “Boleh aku menyanyikan lagu untukmu?”

Rania tertawa di antara tangisnya. “Aku menunggu lima tahun untuk itu.”

Dimas duduk di bangku, menyetem gitarnya. Jari-jarinya memetik nada pertama, lagu yang ia ciptakan di malam pertama ia pergi, lagu yang tidak pernah ia nyanyikan untuk siapa pun karena lagu itu hanya milik satu orang.

Suaranya mengalun pelan di stasiun kosong itu, melodi tentang rindu dan kasmaran, tentang kehilangan dan kembali menemukan, tentang dua jiwa yang tersesat dan akhirnya menemukan jalan pulang.

Rania menutup matanya, membiarkan lagu itu memeluknya seperti ia ingin dipeluk bertahun-tahun yang lalu.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Dimas merasa ia akhirnya bernyanyi untuk tujuan yang benar, bukan untuk melupakan, tapi untuk mengingat.

Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk pulang.

Di stasiun tua yang hampir runtuh itu, di bawah lampu kuning yang redup, cinta yang sempat tersesat akhirnya menemukan melodinya kembali.

Dan kali ini, tidak ada kereta yang akan membawanya pergi.

Related Posts
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
ujan deras mengguyur kota Medan sore itu. Di balik jendela kamarnya yang berkabut, Dira menatap kosong ke arah rumah seberang. Rumah itu gelap, seperti biasa. Sudah tiga tahun Daniel pindah ...
Posting Terkait
(Narsis) Pergi Tanpa Benci, Pulang Tanpa Janji
Di ujung senja yang menguning, aku berdiri di peron kecil stasiun yang tak pernah benar-benar ramai. Angin mengusik rambutku, seperti ingin menahan langkah yang sejak tadi kupaksa agar tak goyah. Di ...
Posting Terkait
NARSIS (15) : JARAK RINDU
Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat ...
Posting Terkait
NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
Hai Perempuan Bermahligai Rembulan, Apa kabarmu? Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya--menurut ramalan meteorologi-- hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata ...
Posting Terkait
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA KELAM DIHATINYA
"Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya," suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Sonny, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum ...
Posting Terkait
(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak Mencari Akhir
i bangku kayu yang catnya mulai mengelupas, Dara menunggu hujan selesai. Senja merambat pelan di balik kaca halte, menorehkan warna jingga yang rapuh, seperti hatinya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Sebuah lagu ...
Posting Terkait
NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI
Rintik gerimis senja selalu membawa lamunanku padamu. Ketika irisan-irisan air itu jatuh dari langit, kau akan senantiasa memandangnya takjub dari balik buram kaca jendela. Menikmatinya. Meresapinya. Tak berkedip. "Menikmati gerimis senja ...
Posting Terkait
NARSIS (19) : ZIARAH PADA KELAM KENANGAN
alam banyak hal perempuan itu selalu merasa kalah.  Sangat telak. Terutama oleh cinta. Pada bayangan rembulan di beranda, ia menangis. Menyaksikan cahaya lembut sang dewi malam itu menerpa dedaunan, menyelusup, lalu ...
Posting Terkait
NARSIS (5) : TAKDIR CINTA
erempuan Wangi Bunga itu mengerjapkan mata, ia lalu membaca kembali baris-baris kalimat pada emailnya yang sudah siap dikirim ditemani lantunan lagu "Takdir Cinta" yang dinyanyikan oleh Rossa. Hatinya mendadak bimbang. ...
Posting Terkait
(Narsis) Senandung Dibawah Flamboyan
Hujan baru saja berhenti ketika Sari tiba di halaman sekolah lamanya. Rumput masih basah, tanah mengeluarkan aroma yang akrab: aroma masa kecil yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia datang bukan ...
Posting Terkait
NARSIS (18) : SEMESTA KANGEN, DI BRAGA
ita selalu nyata dalam maya. Selalu ada dalam ketiadaan. Selalu hadir dalam setiap ilusi. Begitu katamu. Selalu. Entahlah, terkadang aku tak pernah bisa memahami makna kalimatmu. Absurd. Aneh. Juga misterius. Bagaimanapun kamu ...
Posting Terkait
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK HUJAN
Lelaki itu menghirup cappuccinonya. Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada. Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ...
Posting Terkait
(Narsis) : Adinda, Cinta yang Kupeluk dalam Doa
i senja yang jatuh perlahan, ketika cahaya matahari mengendap di sela dedaunan dan azan magrib menggema dari kejauhan, aku kembali mengingat namamu: Adinda. Namamu tak pernah keras di kepalaku. Ia datang ...
Posting Terkait
NARSIS: Diantara Dua Dunia
Langit senja menggantung lesu di atas kota yang mulai lelah. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, membentuk jejak cahaya yang samar. Di bawahnya, seorang pemuda berjaket lusuh berdiri diam di ...
Posting Terkait
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Pengantar : Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis. Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan ...
Posting Terkait
NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA
Dia, yang menurutmu tak pernah bisa kamu mengerti, adalah dia yang kamu cinta. “Jadi apakah itu berarti, kamu membencinya?” tanyaku penuh selidik suatu ketika. “Ya, aku menyukai dan membencinya sekaligus, dalam sebuah ...
Posting Terkait
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
(Narsis) Pergi Tanpa Benci, Pulang Tanpa Janji
NARSIS (15) : JARAK RINDU
Protected: NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA
(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak
NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI
NARSIS (19) : ZIARAH PADA KELAM KENANGAN
NARSIS (5) : TAKDIR CINTA
(Narsis) Senandung Dibawah Flamboyan
NARSIS (18) : SEMESTA KANGEN, DI BRAGA
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK
(Narsis) : Adinda, Cinta yang Kupeluk dalam Doa
NARSIS: Diantara Dua Dunia
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *