Baginya menanti adalah niscaya.
Karena hidup itu sendiri adalah bagian dari sebuah proses menunggu. Begitu asumsi yang terbangun pada benak wanita yang berdiri tegak kaku di pinggir pantai dengan rambut tergerai dan menari-nari liar di tiup angin. Pandangannya kosong menatap nanar ke depan. Pada samudera luas yang membentang dengan riak ombak mengalun tenang dan biru lautnya terhampar tanpa batas. Kaki telanjang wanita ini terpacak mantap pada pasir, menyangga tubuhnya yang kurus. Tak bergerak.
Baginya menanti adalah niscaya.
Karena pada akhirnya lelaki yang dinantinya akan pulang, dari sini, tempatnya berangkat dulu. Aku selalu menyaksikan perempuan itu berdiri di pinggir pantai, setiap petang dan menatap ke arah laut lepas. Menanti.
“Aku menunggu lelakiku, jangan ganggu,” katanya selalu, saat aku mengajaknya pulang dan menerima kenyataan bahwa lelaki yang dinantikannya tidak akan pernah kembali, seperti harapannya.
“Boleh kutemani?,” kataku hati-hati dengan nada seramah mungkin, suatu ketika. Ia menoleh sejenak, menatapku, lalu mengangguk pelan. Aku berdiri disampingnya, memandang laut, melihat camar melayang di udara, matahari senja beranjak ke peraduan menyisakan jejak merah jingga dan tentu saja, menikmati sensasi penantian bersamanya.
“Dia akan pulang. Begitu janjinya,” gumam wanita itu, entah untuk siapa.
Aku mengangguk. “Ya. Dia akan pulang buatmu”
Wanita itu tersenyum samar.
Bagiku menanti adalah niscaya.
Karena aku yakin wanita itu akan datang lagi di tempat ini, memandang laut seperti yang aku lakukan sekarang dan pernah kami lakukan bersama. Aku akan menunggu, sebagaimana ia telah menanti..
Related Posts
Di sudut kamar, ada koper tua berwarna hijau lumut. Lapuk di bagian resleting, berdebu di pegangannya. Sudah bertahun-tahun tak disentuh, tapi tetap tak dibuang.
Itu koper milik Dara.
Ia mengemasnya sendiri: dua ...
Posting Terkait
Bangga rasanya menjadi anak seorang dukun terkenal di seantero kota. Dengan segala kharisma dan karunia yang dimilikinya, ayah memiliki segalanya: rumah mewah, mobil mentereng dan tentu saja uang berlimpah hasil ...
Posting Terkait
Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. ...
Posting Terkait
Lelaki itu berdiri tegak kaku diatas sebuah tebing curam. Tepat dibawah kakinya, gelombang laut terlihat ganas datang bergulung-gulung, menghempas lalu terburai dihadang karang yang tajam. Sinar mentari terik menghunjam ubun-ubun ...
Posting Terkait
Dio menciptakan lagu untuk Raline, gadis pemilik piano putih di rumah besar ujung jalan. Mereka bertemu di les musik, ketika Dio hanya siswa magang dan Raline anak pemilik yayasan.
Mereka sering ...
Posting Terkait
Mereka pernah berjanji: tak ada kebohongan, tak ada rahasia.
Tapi malam itu, saat Kay mendapati pesan masuk di ponsel Rendra—"Aku rindu. Kapan kita bertemu lagi?"—semua janji runtuh seperti kartu domino.
Rendra terdiam. ...
Posting Terkait
Hancur!. Hatiku betul-betul hancur kali ini. Berantakan!
Semua anganku untuk bersanding dengannya, gadis cantik tetanggaku yang menjadi bunga tidurku dari malam ke malam, lenyap tak bersisa.
Semua gara-gara pelet itu.
Aku ingat bulan ...
Posting Terkait
Di kafe kecil pinggir jalan, Fikri selalu duduk sendirian. Bukan karena tak ada yang mau menemani, tapi karena tak ada yang mengerti.
Ia mendengar dunia seperti musik yang tak sinkron—semua bising, ...
Posting Terkait
Flash fiction atau fiksi kilat telah menjadi fenomena sastra yang semakin populer di era digital ini. Dengan keterbatasan kata yang ekstrem—biasanya di bawah 1.000 kata, bahkan seringkali hanya 55-300 kata—flash ...
Posting Terkait
Memanggilnya Ayah, buatku sesuatu yang membuat canggung. Lelaki separuh baya dengan uban menyelimuti hampir seluruh kepalanya itu tiba-tiba hadir dalam kehidupanku, setelah sekian lama aku bersama ibu. Berdua saja.
"Itu ayahmu ...
Posting Terkait
ak pernah sekalipun ia akan melupakannya.
Lelaki berwajah teduh dengan senyum menawan yang mampu memporak-porandakan hatinya hanya dalam hitungan detik sesaat ketika tatapan mata beradu. Kesan sekilas namun sangat membekas. Membuatnya ...
Posting Terkait
Baginya, cinta adalah nonsens.
Tak ada artinya. Dan Sia-sia.
Entahlah, lelaki itu selalu menganggap cinta adalah sebentuk sakit yang familiar. Ia jadi terbiasa memaknai setiap desir rasa yang menghentak batin tersebut sebagai ...
Posting Terkait
Lelaki itu duduk didepanku dengan wajah tertunduk lesu.
Terkulai lemas diatas kursi.
Mendadak lamunanku terbang melayang ke beberapa tahun silam. Pada lelaki itu yang telah memporak-porandakan hatiku dengan pesona tak terlerai.
Tak hanya ...
Posting Terkait
Pagi pertama sebagai istri. Intan menyeduh dua cangkir kopi di dapur sempit apartemen mereka. Aroma robusta mengisi udara, menyamarkan gugup yang belum juga hilang.
Rio keluar dari kamar mandi, rambut masih ...
Posting Terkait
“Segini cukup?” lelaki setengah botak dengan usia nyaris setengah abad itu berkata seraya mengangsurkan selembar cek kepadaku.
Ia tersenyum menyaksikanku memandang takjub jumlah yang tertera di lembaran cek tersebut.
“Itu Istrimu? ...
Posting Terkait
Raisa mencintai Gilang diam-diam selama dua tahun.
Menjadi teman yang baik, pendengar setia, dan tempat pulang paling tenang.
Akhirnya, Gilang mulai berubah. Lebih perhatian, lebih sering mencari Risa.
Hatinya sempat berani berharap.
Sampai malam ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Koper Hijau
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
FLASH FICTION : AKHIR SEBUAH MIMPI
Flash Fiction: Nada yang Hilang
Flash Fiction : Luka di Balik Janji
Flash Fiction : Satu Kursi, Satu Dunia
Menikmati Sensasi Kejutan dan Hentakan Imaji dari Narasi
FLASH FICTION : SEJATINYA, IA HARUS PERGI
FLASH FICTION : CINTA SATU MALAM
Flash Fiction: Seragam yang Sama
Flash Fiction : Namamu Ditengah Doaku
aduh.. baca ini kaya flashback ke masa lalu…