Catatan Dari Hati

(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu

Di sebuah kota kecil yang selalu diselimuti embun pagi, tinggal seorang gadis bernama Aluna. Ia dikenal ramah, namun sejak beberapa bulan terakhir, langkahnya terasa berat. Orang-orang menduga ia hanya lelah.

Mereka tak tahu bahwa hatinya sedang memikul sesuatu yang jauh lebih berat dari tubuhnya: kesedihan yang ia simpan rapat-rapat.

Aluna pernah memiliki sahabat bernama Kemal. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, melewati musim hujan dan tawa yang tak terhitung jumlahnya.

Namun sebuah kesalahpahaman yang sederhana, yang seharusnya dapat diselesaikan dengan satu percakapan jujur, berubah menjadi jarak yang lebar.

Kata-kata yang tidak terucap justru menjadi duri, dan keheningan menjadi tembok yang memisahkan mereka.

Sejak itu, Aluna membawa rasa bersalah seperti bayangan yang tak pernah mau pergi. Ia ingin meminta maaf, namun setiap kali jemarinya hendak mengetik pesan, dadanya dipenuhi ketakutan. “Bagaimana kalau dia sudah melupakan aku? Bagaimana kalau aku justru membuka luka lama?”

Suatu hari, ia berjalan menuju taman yang dulu sering mereka kunjungi. Taman itu dipenuhi bunga liar yang bermekaran tanpa peduli pada dunia.

Di salah satu sudut, ada bangku kayu tua yang menjadi saksi tawa mereka dulu. Tanpa sengaja, Aluna melihat seseorang duduk di sana.

Kemal.

Ia tampak lebih dewasa, namun tatapannya masih sama: lembut dan penuh tanya. Saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti, membiarkan angin pagi mengaduk perasaan yang sudah lama disembunyikan.

“Sudah lama,” Kemal membuka percakapan dengan suara pelan.

Aluna mengangguk, namun bibirnya gemetar. “Aku… aku minta maaf. Untuk semuanya. Untuk pergi tanpa kata, untuk membiarkan jarak tumbuh… aku…”

Kata-katanya patah di tengah jalan.

Kemal tersenyum, bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang akhirnya memahami.

Ia meraih sesuatu dari pangkuannya, setangkai bunga kecil berwarna putih, sederhana namun cantik.

“Aku juga punya bagian salahku,” katanya. “Aku menunggu kau datang… tapi aku lupa bahwa kadang orang yang terluka tak bisa berjalan secepat yang kita harapkan.”

Aluna menunduk; setitik air jatuh di ujung matanya.

“Ini,” Kemal menyerahkan bunga itu. “Bunga maaf. Bukan untuk menghapus masa lalu… tapi untuk menanam yang baru.”

Aluna menerimanya dengan tangan gemetar.

Bunga itu begitu ringan, tapi rasanya seolah membuka pintu yang sudah lama terkunci.

Di bawah langit yang terus berubah warna, dua sahabat yang pernah terpisah oleh kesunyian akhirnya menemukan kembali jalannya.

Tidak ada janji besar, tidak ada kata romantis.

Hanya dua hati yang akhirnya berani mengatakan: “Aku ingin memperbaiki ini.”

Dan seperti bunga sederhana yang disodorkan Kemal, permintaan maaf itu tumbuh.

Pelan, tapi pasti. Tidak pernah layu, selama kedua belah pihak sama-sama memilih untuk merawatnya.

 

Related Posts
NARSIS (13) : ASMARA, SUATU KETIKA..
Jakarta, 2030, sebuah teras café Lelaki tua itu tersenyum samar. Dipandangnya perempuan seusia dengannya yang duduk tepat dihadapannya dengan tatap takjub. “Kamu tak banyak berubah, walau umur telah menggerogoti tubuh kita. Kamu ...
Posting Terkait
PADA SAMPAN YANG SENDIRI
Inspirasi foto : Suasana Sunset di Pantai Losari Makassar, karya Arfah Aksa Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia ada sampan yang sendiri. Terdampar di sisi pantai Losari yang sunyi. Kita menyaksikan rona ...
Posting Terkait
NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI
Rintik gerimis senja selalu membawa lamunanku padamu. Ketika irisan-irisan air itu jatuh dari langit, kau akan senantiasa memandangnya takjub dari balik buram kaca jendela. Menikmatinya. Meresapinya. Tak berkedip. "Menikmati gerimis senja ...
Posting Terkait
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
ujan deras mengguyur kota Medan sore itu. Di balik jendela kamarnya yang berkabut, Dira menatap kosong ke arah rumah seberang. Rumah itu gelap, seperti biasa. Sudah tiga tahun Daniel pindah ...
Posting Terkait
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA KELAM DIHATINYA
"Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya," suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Sonny, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum ...
Posting Terkait
NARSIS (19) : ZIARAH PADA KELAM KENANGAN
alam banyak hal perempuan itu selalu merasa kalah.  Sangat telak. Terutama oleh cinta. Pada bayangan rembulan di beranda, ia menangis. Menyaksikan cahaya lembut sang dewi malam itu menerpa dedaunan, menyelusup, lalu ...
Posting Terkait
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Pengantar : Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis. Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan ...
Posting Terkait
NARSIS: Diantara Dua Dunia
Langit senja menggantung lesu di atas kota yang mulai lelah. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, membentuk jejak cahaya yang samar. Di bawahnya, seorang pemuda berjaket lusuh berdiri diam di ...
Posting Terkait
NARSIS (15) : JARAK RINDU
Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat ...
Posting Terkait
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
Sebagaimana setiap cinta dimaknai, seperti itu pula dia, dengan segala pesona yang ia punya menandai setiap serpih luka jiwanya sebagai pelajaran gemilang. Bukan kutukan. Apalagi hukuman. Perih yang ada di ...
Posting Terkait
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK HUJAN
Lelaki itu menghirup cappuccinonya. Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada. Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ...
Posting Terkait
NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
Hai Perempuan Bermahligai Rembulan, Apa kabarmu? Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya--menurut ramalan meteorologi-- hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata ...
Posting Terkait
NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN PEREMPUAN KILAU REMBULAN
Ia, lelaki yang berdiri pada petang temaram selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah pada perempuan kilau rembulan, jauh disana. Ditorehkannya noktah-noktah kangen itu pada setiap ...
Posting Terkait
NARSIS (4) : M.F.E.O
M.F.E.O 4 huruf tersebut selalu tertera di akhir email lelaki itu. Juga ketika mereka mengakhiri percakapan chatting didunia maya. Made For Each Other, bisik lirih perempuan hening malam sembari menyunggingkan senyum. Matanya menerawang menatap ...
Posting Terkait
(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali
Andi selalu percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia berjalan maju tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang tertinggal. Namun sore itu, ketika langit berwarna jingga muda dan ...
Posting Terkait
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT PETANG HARI
Dia tahu. Tapi tak benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya cara menata hati dari kisah cintanya yang hancur lebur dan lenyap bersama angin. Dia tidak sok tahu. Hanya berusaha memahami. Bahwa luka oleh cinta bisa dibasuh ...
Posting Terkait
NARSIS (13) : ASMARA, SUATU KETIKA..
PADA SAMPAN YANG SENDIRI
NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA
NARSIS (19) : ZIARAH PADA KELAM KENANGAN
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
NARSIS: Diantara Dua Dunia
NARSIS (15) : JARAK RINDU
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK
Protected: NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN
NARSIS (4) : M.F.E.O
(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *