Catatan Dari Hati

Protected: NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN

This content is password-protected. To view it, please enter the password below.

Related Posts
NARSIS (17) : SEUSAI HUJAN REDA
  amu selalu bercakap bagaimana sesungguhnya cinta itu dimaknai. Pada sebuah sudut cafe yang redup dengan dendang suara Live Music terdengar pelan seraya memandang rimbun asap rokok menyelimuti hampir setengah dari ruangan, ...
Posting Terkait
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK HUJAN
Lelaki itu menghirup cappuccinonya. Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada. Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ...
Posting Terkait
(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu
i sebuah kota kecil yang selalu diselimuti embun pagi, tinggal seorang gadis bernama Aluna. Ia dikenal ramah, namun sejak beberapa bulan terakhir, langkahnya terasa berat. Orang-orang menduga ia hanya lelah. Mereka ...
Posting Terkait
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT PETANG HARI
Dia tahu. Tapi tak benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya cara menata hati dari kisah cintanya yang hancur lebur dan lenyap bersama angin. Dia tidak sok tahu. Hanya berusaha memahami. Bahwa luka oleh cinta bisa dibasuh ...
Posting Terkait
NARSIS (15) : JARAK RINDU
Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat ...
Posting Terkait
(Narsis) Sepenggal Lagu di Stasiun Tua
tasiun kereta itu hampir kosong ketika Dimas duduk di bangku kayu yang cat birunya sudah mengelupas. Pukul sebelas malam, hanya lampu kuning redup yang menemaninya. Gitar tua dalam tas punggungnya ...
Posting Terkait
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
ujan deras mengguyur kota Medan sore itu. Di balik jendela kamarnya yang berkabut, Dira menatap kosong ke arah rumah seberang. Rumah itu gelap, seperti biasa. Sudah tiga tahun Daniel pindah ...
Posting Terkait
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
Sebagaimana setiap cinta dimaknai, seperti itu pula dia, dengan segala pesona yang ia punya menandai setiap serpih luka jiwanya sebagai pelajaran gemilang. Bukan kutukan. Apalagi hukuman. Perih yang ada di ...
Posting Terkait
PADA SAMPAN YANG SENDIRI
Inspirasi foto : Suasana Sunset di Pantai Losari Makassar, karya Arfah Aksa Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia ada sampan yang sendiri. Terdampar di sisi pantai Losari yang sunyi. Kita menyaksikan rona ...
Posting Terkait
NARSIS (7) : BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI
Catatan Pengantar: Narsis kali ini saya angkat dari Cerpen saya yang dimuat (sekaligus menjadi judul utama kumpulan cerpen Blogfam yang diterbitkan Gradien Mediatama tahun 2006 dalam judul "Biarkan Aku Mencintaimu Dalam ...
Posting Terkait
(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali
Andi selalu percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia berjalan maju tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang tertinggal. Namun sore itu, ketika langit berwarna jingga muda dan ...
Posting Terkait
NARSIS (13) : ASMARA, SUATU KETIKA..
Jakarta, 2030, sebuah teras café Lelaki tua itu tersenyum samar. Dipandangnya perempuan seusia dengannya yang duduk tepat dihadapannya dengan tatap takjub. “Kamu tak banyak berubah, walau umur telah menggerogoti tubuh kita. Kamu ...
Posting Terkait
(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu
Malam turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan kenangan lama. Di tepi sawah yang mulai menguning, Saka berdiri memandangi langit. Rembulan menggantung sendu di atas pohon randu tua : pohon ...
Posting Terkait
(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak Mencari Akhir
i bangku kayu yang catnya mulai mengelupas, Dara menunggu hujan selesai. Senja merambat pelan di balik kaca halte, menorehkan warna jingga yang rapuh, seperti hatinya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Sebuah lagu ...
Posting Terkait
Narsis : Senja di Pelabuhan Lama
ujan gerimis membasahi dermaga tua itu, seperti air mata langit yang tak kunjung berhenti. Ardi berdiri di ujung pelabuhan, menatap kapal-kapal yang berlabuh dengan tatapan kosong. Angin laut membawa aroma ...
Posting Terkait
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Pengantar : Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis. Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan ...
Posting Terkait
NARSIS (17) : SEUSAI HUJAN REDA
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK
(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu
NARSIS (16) : BISIKAN HATI , PADA LANGIT
NARSIS (15) : JARAK RINDU
(Narsis) Sepenggal Lagu di Stasiun Tua
(NARSIS) Cinta Dari Jendela Seberang
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
PADA SAMPAN YANG SENDIRI
NARSIS (7) : BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI
(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali
NARSIS (13) : ASMARA, SUATU KETIKA..
(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu
(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak
Narsis : Senja di Pelabuhan Lama
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU

Enter password to view comments.