(Narsis) Diantara Bertahan atau Melepaskan
Hujan turun pelan sore itu, seakan tahu bahwa ada sesuatu yang hampir berakhir.
Di sudut kafe kecil yang dulu menjadi saksi awal kisah mereka, Arga menatap cangkir kopi yang sudah dingin.
Di depannya, Naya duduk diam, terlalu diam untuk seseorang yang dulu selalu penuh cerita.
“Apa kita… masih mau lanjut?” suara Arga akhirnya pecah, lirih, seperti takut menyakiti kata-kata itu sendiri.
Naya tersenyum tipis. Senyum yang tak lagi hangat, tapi juga tak sepenuhnya asing.
“Pertanyaan itu… sudah lama kita tunda ya, Ga.”
Mereka berdua tahu, hubungan ini tidak hancur dalam semalam. Ia retak perlahan, oleh kesibukan, oleh ego, oleh hal-hal kecil yang dibiarkan membesar tanpa pernah benar-benar dibicarakan.
Arga menghela napas.
“Aku masih sayang, Nay.”
Kalimat itu menggantung.
Berat. Jujur. Tapi tidak lagi cukup.
Naya menunduk, jemarinya memainkan sendok kecil.
“Aku juga… masih peduli.”
Masih.
Kata yang dulu terasa indah, kini justru menyakitkan.
Di luar, suara hujan semakin deras. Seperti mengiringi pertanyaan yang sama seperti dalam lagu Putus atau Terus yang sering mereka dengar bersama, dinyanyikan oleh Judika, tentang dua orang yang sama-sama bertahan, tapi tak lagi tahu untuk apa.
“Apa kita bertahan karena cinta… atau karena takut kehilangan?” Naya bertanya pelan.
Arga tak langsung menjawab. Ia menatap wajah yang begitu ia kenal—mata yang pernah berbinar hanya untuknya, kini menyimpan lelah yang tak bisa ia hapus.
“Kalau kita terus,” kata Arga akhirnya, “apa kita bisa bahagia lagi?”
Pertanyaan itu seperti cermin. Dan di dalamnya, mereka berdua melihat jawaban yang sama—tapi tak berani diucapkan.
Air mata Naya jatuh tanpa suara.
“Aku capek, Ga… bukan capek sama kamu. Tapi capek berharap semuanya kembali seperti dulu.”
Arga menelan getir. Ia ingin berkata “kita bisa memperbaiki,” tapi untuk pertama kalinya, ia ragu pada kata-katanya sendiri.
Diam kembali menyelimuti mereka.
Bukan diam yang nyaman, melainkan diam yang penuh keputusan.
Akhirnya, Arga mengangguk pelan.
“Mungkin… kita harus berhenti sebelum kita saling menyakiti lebih dalam.”
Naya mengangkat wajahnya, matanya basah tapi tenang.
“Iya… mungkin ini cara kita menjaga apa yang tersisa.”
Mereka tidak berpelukan.
Tidak ada drama. Tidak ada janji untuk kembali.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai… dan cukup berani untuk melepaskan.
Hujan masih turun ketika mereka keluar dari kafe, berjalan ke arah yang berbeda.
Dan di antara langkah yang menjauh itu, terselip satu hal yang tak pernah benar-benar hilang..
Cinta… yang tak cukup kuat untuk bertahan, tapi terlalu dalam untuk dilupakan.