Film “The Devil Wears Prada 2” : Saat Mahkota Mode Bertemu Kematiannya
Tidak mudah menonton sebuah film yang membuat anda merasakan dua hal sekaligus: rindu yang menyayat dan kesedihan yang terlambat disadari sudah menyelinap masuk ke rongga dada.
Itulah yang ditawarkan The Devil Wears Prada 2, sekuel yang dirilis pada 1 Mei 2026 oleh 20th Century Studios, hampir dua dekade setelah film pertamanya mengubah cara dunia memandang industri mode dan ambisi seorang perempuan muda.
Dua puluh tahun. Angka itu bukan sekadar jarak waktu di antara dua film. Ia adalah cermin. Dan cermin itu memantulkan wajah kita sendiri, wajah zaman yang telah berubah sedemikian rupa hingga majalah mode seperti Runway bukan lagi lambang kekuatan, melainkan sebuah monumen rapuh yang hampir rubuh ditelan badai media digital.
Sutradara David Frankel kembali ke kursi sutradara, dan penulis naskah Aline Brosh McKenna menemaninya dari meja tulis. Keduanya memilih jalan yang berani: tidak meniru keajaiban pertama, melainkan memeluk kenyataan pahit bahwa dunia tempat Miranda Priestly berkuasa sudah banyak berubah. Pilihan ini adalah taruhan, dan hasilnya adalah sesuatu yang tidak sempurna namun justru karena ketidaksempurnaannya itu terasa sangat manusiawi.
Cerita bermula dari Andy Sachs, yang dimainkan dengan kehangatan dan kematangan luar biasa oleh Anne Hathaway, seorang jurnalis investigatif yang baru saja dipecat melalui sebuah pesan teks. Tidak ada surat resmi, tidak ada kata perpisahan.
Hanya layar ponsel yang dingin. Ironi yang kejam: perempuan yang dulu melarikan diri dari dunia mode demi mengejar jurnalisme yang bermakna, kini harus kembali ke pelukan Runway demi mempertahankan hidupnya. Andy menerima tawaran menjadi editor fitur di Runway, sebuah keputusan yang mempertemukannya kembali dengan sosok yang pernah ia tinggalkan di Paris.
Dan Miranda Priestly pun kembali.
Meryl Streep memerankan Miranda dengan cara yang sebelumnya tidak kita bayangkan mungkin: ia menua dengan anggun, namun di balik anggun itu tersimpan kerapuhan yang tidak pernah ia akui kepada siapapun.
Miranda kini menghadapi ancaman sesungguhnya, bukan dari asisten yang memberontak, bukan dari pesaing di Paris, melainkan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan tidak bisa diintimidasi dengan satu tatapan pun: kepunahan media cetak. Elias-Clarke, konglomerat yang menaungi Runway, tengah diambang kebangkrutan narasi, dan putra sang bos lama, yang diperankan dengan sempurna oleh B.J. Novak, siap mengubah Runway menjadi ladang konten digital yang dangkal.
Di sinilah jantung film ini berdetak paling kencang. Bukan di panggung mode Milan, bukan di lorong-lorong mewah Waldorf Astoria yang kembali dibuka setelah enam tahun renovasi.
Melainkan di momen-momen ketika Miranda Priestly, perempuan yang tidak pernah menunjukkan kelemahan, terpaksa menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin tidak lagi dibutuhkan. Seperti yang ditulis NPR dalam ulasannya, momen-momen paling menyentuh dalam film ini adalah ketika Miranda merasakan duka yang tulus atas kemungkinan hilangnya sesuatu yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.
Emily Blunt kembali sebagai Emily Charlton, asisten yang dulu rela kelaparan demi bisa pergi ke Paris, yang kini telah menjadi eksekutif tinggi di sebuah merek kemewahan terkemuka. Emily bukan lagi bayangan Miranda.
Ia adalah raksasa sendiri, dan persaingannya dengan Miranda untuk memperebutkan pendapatan iklan menjadi denyut dramatik yang paling menggigit dalam film ini. Blunt memainkan Emily dengan lapisan baru: masih tajam, masih sarkastis, tapi kini ada ambivalensi yang menawan di matanya, seolah ia sendiri tidak yakin apakah kemenangan atas Miranda adalah hal yang sungguh-sungguh ia inginkan.
Stanley Tucci sebagai Nigel kembali dengan kehangatan yang sudah lama kita rindukan. Hubungannya dengan Miranda dan Andy terasa seperti pulang ke rumah lama yang masih berbau masakan favorit. Nigel adalah hati nurani cerita ini, teman sejati yang tidak pernah kehilangan kemanusiaannya meski bekerja di dunia yang kerap memangsa kemanusiaan.
Wajah-wajah baru pun hadir membawa udara segar. Kenneth Branagh memerankan suami baru Miranda, sebuah karakter yang menambah dimensi privat pada sosok yang selama dua dekade kita kenal hanya dari sisi publiknya.
Simone Ashley membawa energi generasi baru yang tidak takut pada Miranda. Lucy Liu tampil dengan karisma yang cocok berdampingan dengan Streep. Justin Theroux mengisi ruang yang dibutuhkan cerita dengan presisi.
Dan Lady Gaga, yang juga membawakan lagu orisinal “Runway” bersama Doechii untuk film ini, hadir sebagai bagian dari keajaiban kecil yang tersebar di seluruh film.
Tidak kalah menarik, Tracie Thoms kembali sebagai Lily, sahabat Andy, dan Tibor Feldman sebagai Irv Ravitz, bos Elias-Clarke yang kini harus menyerahkan tongkat estafet kepada anaknya yang punya visi yang jauh lebih kejam.
Seluruh proses produksi berlangsung dari Juni hingga Oktober 2025, melintas dari lorong-lorong Manhattan hingga panggung Milan Fashion Week, di mana Tucci dan Streep sempat syuting di peragaan busana Dolce & Gabbana. Bahkan Donatella Versace hadir dalam sebuah cameo yang terasa seperti penghormatan dari dunia nyata kepada dunia fiksi yang telah lama menginspirasi mereka.
Namun film ini bukan tanpa cela. RogerEbert.com mencatat bahwa resolusi akhir cerita, di mana seorang miliarder muncul sebagai penyelamat jurnalisme, terasa terlalu naif dan mudah untuk sebuah film yang sejauh ini berani mengangkat isu nyata. Memang ada ironi yang agak terasa seperti pengkhianatan: film tentang bobroknya media korporat diselesaikan dengan cara yang paling korporat mungkin.
Ada pula rasa rindu yang tidak terpuaskan. Penonton yang datang dengan harapan melihat kilauan mode yang memabukkan seperti di film pertama mungkin akan sedikit kecewa.
Gemerlap di sini lebih redup, bukan karena anggaran, melainkan karena memang begitulah kebenaran yang ingin disampaikan: dunia mode tidak lagi menjadi pusat gravitasi budaya seperti dua dekade lalu. Dan dalam kesadaran itu tersimpan sebuah melankoli yang sungguh terasa.
Namun di atas semua kekurangannya, The Devil Wears Prada 2 berhasil melakukan sesuatu yang langka: ia membuat kita peduli. Kita peduli pada Miranda yang mulai renta namun menolak tunduk. Kita peduli pada Andy yang sudah dewasa namun masih mencari tempatnya.
Kita peduli pada Runway, sebuah majalah fiksi, seolah ia adalah teman lama yang hampir kehilangan pekerjaannya. Inilah kekuatan terbesar film ini, bukan kostumnya yang memukau, bukan lokasinya yang megah, melainkan kemampuannya untuk membuat kita merasakan bahwa kehilangan sesuatu yang bermakna, sekecil apapun itu, adalah duka yang nyata.
Trailer resmi film ini ditonton lebih dari 220 juta kali dalam 24 jam pertama setelah dirilis pada Februari 2026, menjadikannya trailer paling banyak ditonton dalam sejarah studio.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah bukti bahwa dunia masih ingin menemukan Miranda Priestly, masih ingin menemukan Andy Sachs, masih percaya bahwa di balik gaun-gaun mewah dan perang kekuasaan yang dingin, ada cerita tentang manusia yang berjuang mempertahankan apa yang mereka cintai.
Dan bukankah itu yang selalu menjadi inti dari kisah terbaik? Bukan ketenaran, bukan kekayaan, bukan pula posisi di puncak. Melainkan keberanian untuk tetap berdiri, bahkan ketika angin sudah terlalu kencang, dan dunia di sekitar kita sudah banyak berubah.
The Devil Wears Prada 2 adalah film yang tidak akan menjadi legenda seperti pendahulunya. Tapi ia adalah film yang jujur, film yang berani mengakui bahwa waktu mengubah segalanya, termasuk setan yang paling perkasa sekalipun. Dan justru karena kejujuran itulah, film ini layak untuk ditonton, dirasakan, dan dikenang.