Ketika Maros Menulis Ulang Sejarah Dunia: Membaca “Leangleang Maros, Gerbang Peradaban Purba Dunia”
Setiap kali sebuah buku semacam ini mendarat di meja saya : buku yang mengangkat satu kawasan kecil menjadi pusat narasi peradaban dunia , saya memulainya dengan pertanyaan yang sama.
Apa sesungguhnya yang sedang berubah dalam cara kita membaca masa lalu, dan apa harga yang harus dibayar untuk perubahan itu?
Buku Leangleang Maros: Gerbang Peradaban Purba Dunia, yang diterbitkan Penerbit Ininnawa pada November 2025 sebagai kerja sama Pemerintah Kabupaten Maros dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, hadir di sebuah momen historiografis yang sangat khusus. Ia tidak muncul dari ruang kosong.
Ia adalah anak kandung dari satu dekade pasca-2014, ketika Maxime Aubert dan tim, lewat penanggalan uranium-thorium pada speleothem di gua-gua Maros, memaksa komunitas ilmuwan dunia menyusun ulang silsilah seni cadas. Science saat itu menulis kalimat yang kini terdengar nyaris klasik: temuan di Sulawesi mengakhiri monopoli Eropa atas asal-usul seni simbolik.
Buku ini adalah riak panjang dari guncangan epistemologis tersebut, dihimpun dari Konferensi Internasional Gau’ Maraja Leangleang Maros 2025 dan disunting oleh Muhlis Hadrawi, Hasanuddin, Yadi Mulyadi, dan Dedy Irfan, menghimpun dua puluh empat naskah dari para peneliti lintas benua.
Saya menghargai keputusan editor menempatkan tulisan Campbell Macknight sebagai bab pembuka. Macknight, sejarawan senior dari Australian National University, tidak langsung menyodorkan temuan, melainkan mengajak kita mundur sejenak untuk menanyakan apa gagasan dan metode para arkeolog terdahulu di Sulawesi Selatan.
Ia mengingatkan bahwa Alfred Russel Wallace pernah singgah di kawasan ini pada 1857, namun perhatian Wallace lebih tertambat pada burung dan laba-laba ketimbang manusia. Ia juga menelusuri jejak H. R. van Heekeren, amatir yang pada 1950 melaporkan lukisan stensil tangan dan hewan-hewan melompat di Leangleang , laporan yang menjadi titik berangkat seluruh kajian seni cadas Maros modern.
Bab Macknight ini, dalam pembacaan saya, adalah jangkar moral seluruh buku: ia menolak amnesia historiografis dan mengingatkan bahwa setiap “penemuan” selalu berdiri di atas pundak orang-orang yang lebih dahulu mengabaikan, salah baca, atau salah ukur. Tanpa kerendahan hati semacam ini, klaim tentang “peradaban tertua” akan kehilangan kedalaman temporalnya.
Dari fondasi itu, buku ini menyajikan apa yang secara substantif memang luar biasa. Adam Brumm membawa pembaca ke adegan berburu di Leang Bulu’ Sipong 4 yang berusia minimal 48.000 tahun — dua kali lebih tua dari adegan serupa di Lascaux — dan ke lukisan figuratif manusia-babi di Leang Karampuang yang menyarankan bahwa seni bercerita sudah hadir setidaknya 51.200 tahun lampau, lebih tua bahkan dari patung Lion-man di Hohlenstein-Stadel, Jerman.
Akin Duli memperkenalkan rangka “Besse” yang berusia sekitar 7.200 tahun, manusia Toalean dengan jejak DNA Denisova yang menautkan Sulawesi dengan garis leluhur Aborigin Australia dan orang Papua , sebuah temuan yang menempatkan Nusantara di salah satu simpang penting genetika manusia modern.
Muhammad Nur, lewat stratigrafi Leang Panninge, menunjukkan inovasi penjinakan babi paling awal di Indonesia sekitar 4.000 tahun silam. Hasanuddin menelusuri transisi panjang di Mallawa, dari fase Pra-Toalean ke Toalean dengan mikrolit dan Maros Point, lalu fase hibriditas saat artefak Toalean berdampingan dengan beliung persegi dan gerabah slip merah penutur Austronesia.
Membaca rangkaian bab ini, sulit untuk tidak terharu: ada disiplin ilmiah, ada kehati-hatian penanggalan, dan ada kesadaran bahwa Maros sedang menulis satu bab penting dalam buku besar sejarah spesies kita.
Yang membuat buku ini lebih dari sekadar laporan arkeologi adalah keberaniannya menyilangkan ilmu kebumian dengan kearifan lokal yang masih hidup.
R. Cecep Eka Permana menelusuri bagaimana cap telapak tangan di dinding gua bergema dalam ritual mabedda bola — pemberkatan menempati rumah baru — dalam masyarakat Bugis-Makassar.
M. Irfan Mahmud membaca Leang Tianang sebagai arsip ekologis-simbolik komunitas mangrove. Muh Hafdal dan Fakhri membawa pendekatan arkeologi kognitif untuk membaca zona gelap gua sebagai ruang liminal antara dunia hidup dan dunia roh.
Dan Muhlis Hadrawi melakukan apa yang menurut saya merupakan salah satu kontribusi paling elegan: dengan filologi yang teliti, ia menyisir Catatan Harian (Lontara Bilang) Raja Bone La Tenritappu (1775–1812) dan menemukan dua puluh lima toponim persawahan Maros.
Di bab Hadrawi, dua tradisi pencatatan masa lalu — penanggalan radiometrik Barat dan kronik aksara Bugis — duduk berdampingan tanpa saling merendahkan. Inilah pluralisme epistemologis yang seharusnya menjadi mata uang sah Indonesia di kancah sejarah dunia.
Buku ini berhasil memperlihatkan bahwa sejarah bukanlah kumpulan artefak yang mati. Sejarah hidup dalam relasi antara manusia, alam, dan ingatan kolektif. Para penulis tidak berhenti pada pembahasan lukisan gua atau artefak batu.
Mereka membawa pembaca memahami hubungan yang lebih luas antara budaya Toalean, migrasi manusia, biodiversitas Sulawesi, lanskap karst, tradisi masyarakat Bugis-Makassar, hingga isu-isu pelestarian lingkungan. Perspektif multidisipliner semacam ini menjadi kelebihan yang sangat menonjol.
Buku ini juga menyimpan sejumlah catatan kritis.
Pertama, buku ini sangat kuat dalam membangun narasi kebanggaan, tetapi terkadang kurang memberi ruang yang memadai bagi perdebatan ilmiah yang lebih tajam. Di beberapa bagian, terutama ketika membahas posisi Maros sebagai “gerbang peradaban dunia” atau “pusat peradaban awal manusia”, pembaca menemukan semangat afirmatif yang begitu kuat sehingga nuansa kehati-hatian akademik menjadi sedikit berkurang.
Dalam ilmu sejarah dan arkeologi, klaim-klaim besar selalu memerlukan ruang dialog yang terbuka terhadap kemungkinan interpretasi lain. Sebuah temuan spektakuler memang layak dirayakan, tetapi ia juga harus terus diuji melalui penelitian lanjutan.
Kedua, buku ini sangat kaya akan paparan hasil penelitian, tetapi relatif kurang menghadirkan suara masyarakat lokal sebagai subjek utama. Kita banyak membaca tentang Maros dari perspektif ilmuwan, peneliti, dan pembuat kebijakan.
Namun suara warga yang hidup berdampingan dengan gua-gua purba, petani yang menjaga lanskap karst, atau generasi muda Maros yang mewarisi identitas budaya tersebut masih belum muncul secara dominan. Padahal, masa depan warisan budaya sangat bergantung pada keterlibatan mereka.
Ketiga, buku ini secara meyakinkan menunjukkan pentingnya pelestarian kawasan karst, tetapi pada saat yang sama juga memperlihatkan paradoks besar yang sedang dihadapi Maros. Ancaman eksploitasi tambang, tekanan pembangunan, serta meningkatnya kunjungan wisata merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui retorika kebanggaan budaya.
Buku ini telah mengangkat isu tersebut, namun pembahasan mengenai konflik kepentingan ekonomi-politik yang melatarbelakanginya masih terasa terbatas. Padahal di situlah sesungguhnya pertarungan masa depan Maros sedang berlangsung.
Meski demikian, kritik-kritik tersebut tidak mengurangi arti penting buku ini. Sebaliknya, justru menunjukkan bahwa buku ini berhasil memancing diskusi yang lebih luas. Sebuah karya akademik yang baik bukanlah karya yang menutup perdebatan, melainkan yang membuka ruang pertanyaan baru.
Dari sudut pandang kebudayaan, buku ini memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar publikasi ilmiah. Ia hadir pada saat dunia sedang mencari cara baru untuk memahami hubungan antara manusia dan lingkungannya.
Di tengah krisis ekologis global, Maros menawarkan pelajaran bahwa peradaban besar tidak selalu lahir dari kota-kota megah atau kerajaan-kerajaan perkasa. Kadang-kadang ia lahir dari gua-gua sunyi, dari tangan-tangan yang meninggalkan jejak pada batu puluhan ribu tahun lalu, dan dari komunitas-komunitas kecil yang hidup selaras dengan alam.
Pada akhirnya, saya membaca buku ini bukan sebagai karya yang rapi dan tuntas, melainkan sebagai potret jujur sebuah momen historis , saat sebuah daerah menyadari bahwa di dinding-dinding kapurnya tersimpan salah satu lembaran tertua peradaban manusia, dan belum sepenuhnya tahu bagaimana cara menjaganya.
Bagi sejarawan, arkeolog, antropolog, pengelola warisan budaya, dan siapa pun yang masih percaya bahwa Nusantara adalah salah satu pusat — bukan pinggiran — dari kisah manusia, Leangleang Maros adalah bacaan yang tidak bisa diabaikan.
Dan setiap kali kita memujinya, kita harus juga mengingat bahwa setiap halaman pujian di dalamnya berpacu, dengan getir, melawan dinding-dinding gua yang terus mengelupas di luar sana.