Yang Tersisa dari Waktu: Refleksi Filosofis atas “In My Life” di Era Ketidakpastian
There are places I remember
All my life, though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends, I still can recall
Some are dead and some are living
In my life, I’ve loved them all
(“In My Life”, The Beatles)
Sebuah lagu sederhana yang ditulis John Lennon pada pertengahan dasawarsa enam puluhan itu bertahan lebih dari enam puluh tahun bukan karena kerumitan nadanya, melainkan karena kejujuran isinya.
“In My Life” bukan sekadar nyanyian nostalgia tentang tempat dan wajah yang pernah singgah dalam hidup seseorang.
Ia adalah pengakuan jujur seorang manusia bahwa masa lalu boleh dikenang, tempat boleh dirindukan, orang-orang boleh dicintai dalam ingatan, tetapi cinta yang paling besar tetaplah cinta kepada mereka yang masih ada di sisi kita hari ini.
Saya melihat lagu ini sebagai salah satu bentuk terapi naratif paling indah yang pernah ditulis manusia modern. Ia mengajarkan sesuatu yang dalam ilmu psikologi disebut integrasi memori, yaitu kemampuan menerima masa lalu tanpa terjebak di dalamnya, sembari tetap hadir penuh bagi kehidupan yang sedang berjalan.
Sejarah kelahiran lagu ini sendiri sudah menjadi bukti bahwa karya besar sering lahir dari proses yang jujur dan tidak instan.
Menurut catatan The Beatles Bible, gagasan awal lagu ini muncul pada 1964, ketika jurnalis Kenneth Allsop bertanya kepada John Lennon mengapa lirik lagunya terasa jauh lebih dangkal dibanding tulisan tulisannya sendiri di buku.
Pertanyaan itu terus mengendap, hingga Lennon mulai menulis sketsa kenangan tentang masa kecilnya di Liverpool, lengkap dengan nama nama tempat yang pernah ia lewati.
Draf pertama itu, menurut pengakuannya sendiri, terasa terlalu datar seperti catatan perjalanan bus biasa, sehingga ia menulis ulang dan mengubahnya menjadi renungan yang lebih universal tentang kehilangan dan rasa syukur.
Lagu ini direkam pada 18 dan 22 Oktober 1965, dan diselesaikan dengan sentuhan solo piano bergaya Barok dari produser George Martin, sebelum akhirnya dirilis dalam album Rubber Soul pada akhir tahun yang sama, sebagaimana diuraikan Wikipedia bahasa Indonesia.
Lennon sendiri kelak menyebut lagu ini sebagai karya besar pertamanya yang benar benar jujur, karena untuk pertama kalinya ia menulis bukan tentang cinta yang klise, melainkan tentang hidupnya sendiri.
Saya sering menemui orang yang sakit bukan karena kekurangan makanan atau tempat tinggal, melainkan karena kehilangan makna. Mereka hidup dikelilingi layar, notifikasi, dan tuntutan produktivitas tanpa henti, namun kehilangan kemampuan untuk sungguh hadir bagi orang di depan mereka.
Lagu ini seolah menegur dengan lembut, mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk yang hidup dari data dan pencapaian semata, melainkan dari relasi.
Filsuf eksistensialis Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, menulis bahwa manusia dapat bertahan dari penderitaan paling berat sekalipun apabila ia menemukan makna di baliknya. Makna itu, dalam banyak kasus, ditemukan justru dalam kehangatan hubungan antarmanusia, persis seperti pesan yang dibawa lagu ini.
Pertanyaannya kini, mampukah kita, sebagai bangsa, menjaga kehangatan itu di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat? Data terbaru memberi gambaran yang campur aduk antara optimisme dan kecemasan.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan pertama 2026, angka tertinggi untuk periode kuartal pertama dalam tiga belas tahun terakhir, bahkan melampaui proyeksi banyak lembaga internasional.
Namun di balik angka yang membanggakan itu, nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.346 per dolar Amerika Serikat pada akhir April 2026, sementara Indeks Harga Saham Gabungan tercatat merosot cukup dalam sepanjang tahun berjalan.
Ketidakpastian geopolitik global, arus keluar modal dari negara berkembang, serta ketegangan dagang antarnegara besar membuat banyak keluarga Indonesia hidup dalam bayang bayang kecemasan finansial, meski data makro terlihat cukup kuat di permukaan.
Kecemasan ekonomi semacam ini bukan sekadar angka statistik. Ia menembus ruang batin masyarakat dan menjelma menjadi beban psikologis yang nyata. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 28 juta warga Indonesia mengalami masalah kejiwaan, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan berat, dan yang paling banyak justru gangguan kecemasan serta depresi yang sering luput dari perhatian karena tidak selalu tampak dari luar.
Generasi muda, kelompok yang seharusnya menjadi motor bonus demografi menuju 2045, justru tercatat sebagai kelompok paling rentan, dengan lebih dari lima belas juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental menurut survei nasional pertama yang pernah dilakukan untuk kelompok usia ini.
Bahkan pada anak anak, program pemeriksaan kesehatan gratis yang dijalankan pemerintah menemukan indikasi gejala cemas dan depresi pada ratusan ribu anak dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining.
Angka angka ini bukan sekadar statistik kesehatan, melainkan cermin dari sebuah bangsa yang sedang berjuang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan batin warganya.
Tantangan ke depan menjadi berlapis. Di satu sisi, pemerintah harus menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan nilai tukar, ketidakpastian dagang global, dan tuntutan menuju target pertumbuhan yang lebih tinggi.
Di sisi lain, tekanan itu turun langsung ke meja makan keluarga, ke ruang kerja yang menuntut lebih banyak dengan waktu yang lebih sempit, ke layar ponsel anak muda yang membandingkan hidupnya dengan citra kesempurnaan orang lain. Ironisnya, layanan kesehatan jiwa masih jauh dari memadai.
Jumlah psikolog klinis yang bertugas di layanan primer masih sangat terbatas dibanding kebutuhan riil, dan baru sebagian kecil dari seluruh puskesmas di Indonesia yang benar benar mampu memberikan layanan kesehatan jiwa secara menyeluruh. Stigma sosial pun masih membuat banyak orang memilih diam ketimbang mencari pertolongan, seakan menderita secara batin adalah aib yang harus disembunyikan.
Di sinilah pesan “In My Life” menemukan relevansinya yang paling dalam. Solusi bagi krisis ini tidak melulu berupa kebijakan makroekonomi atau tambahan anggaran semata, meski keduanya tetap penting.
Solusi sejati juga lahir dari cara kita kembali menghidupkan relasi yang tulus antarmanusia, sebagaimana semangat gotong royong yang telah lama menjadi identitas bangsa ini.
Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau sekitar tujuh juta anak dalam proses skrining kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, di seluruh negeri menunjukkan bahwa negara sesungguhnya mampu hadir langsung di tengah keluarga, bukan hanya lewat angka pertumbuhan ekonomi.
Pendekatan semacam ini perlu diperluas dan diperdalam khusus untuk kesehatan jiwa, misalnya melalui perluasan Posyandu Jiwa hingga ke tingkat desa, penguatan peran kader kesehatan sebagai pendengar pertama, serta layanan krisis daring seperti Healing119 yang mempermudah masyarakat mencari bantuan tanpa harus menanggung stigma sendirian.
Perusahaan dan tempat kerja pun perlu mulai memandang kesehatan jiwa karyawan sebagai bagian dari produktivitas jangka panjang, bukan beban tambahan. Sekolah perlu memperkuat peran guru bimbingan konseling sebagai garda terdepan mendampingi anak muda yang sedang bergulat dengan tekanan akademik sekaligus tekanan ekonomi keluarganya.
Namun di atas semua kebijakan itu, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh anggaran negara sebesar apa pun, yaitu kehadiran manusia bagi manusia lainnya.
Kita perlu kembali duduk bersama keluarga tanpa gawai di tangan, menyapa tetangga yang mungkin sedang kesepian, mendengarkan anak yang bercerita tentang harinya tanpa buru buru menghakimi.
Kearifan lama masyarakat Indonesia tentang saling menjaga dan saling menopang justru menjadi jawaban paling murah sekaligus paling kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ekonomi boleh naik turun mengikuti gejolak dunia, rupiah boleh melemah dan menguat silih berganti, tetapi kehangatan hubungan antarmanusia adalah satu satunya kekayaan yang tidak akan pernah terkena inflasi.
Lagu tua dari Liverpool itu mengingatkan kita pada kebenaran yang sederhana namun sering terlupakan di tengah hiruk pikuk data ekonomi dan tekanan hidup modern, bahwa di antara semua tempat yang pernah kita singgahi dan semua orang yang pernah hadir dalam hidup kita, cinta kepada mereka yang masih bersama kita hari ini tetaplah yang paling besar dan paling layak diperjuangkan.