Catatan Dari Hati

Yang Tersisa Setelah Empat Puluh Hari: Rachmat Gobel dan Utang Sejarah Industri Kita

“A company is a public entity of society.” Konosuke Matsushita, sebagaimana dirumuskan dalam falsafah manajemen resmi Panasonic.

Empat puluh hari.

Dalam tradisi kita, angka itu bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah jarak yang cukup bagi air mata untuk mengering dan cukup pula bagi pikiran untuk mulai bertanya.

Pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB, ketika Jakarta masih gelap dan sebagian besar kita masih terlelap, H. Rachmat Gobel berpulang di usia 63 tahun.

Hari ini, tepat empat puluh hari kemudian, doa-doa itu masih mengalir. Namun barangkali sudah tiba waktunya kita menukar sebagian ratapan dengan renungan.

Ia meninggalkan jejak yang tidak lazim. Seorang anak yang pernah menjadi tukang sapu pabrik milik keluarganya sendiri saat masih duduk di bangku SMP, kemudian meraih gelar sarjana perdagangan internasional di Chuo University Tokyo pada usia 24 tahun, magang di Matsushita Group dekat Osaka, pulang memimpin kelompok usaha keluarga, lalu duduk di kabinet sebagai Menteri Perdagangan dan mewakili Gorontalo di Senayan.

Sebagai penyandang Bintang Maha Putera Adi Pradana, jenazahnya yang semula direncanakan pulang ke tanah Gorontalo akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebuah keputusan yang, entah disadari atau tidak, menegaskan bahwa hidupnya memang bukan lagi milik satu keluarga atau satu daerah.

Sebagaimana pernah saya tuliskan dalam esai tentang saudagar dan penjaga falsafah pohon pisang, inti warisan Rachmat sesungguhnya sederhana dan tidak pernah usang.

Ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, menemukan pelajaran hidup dari sebatang pohon pisang di pekarangan: setiap bagiannya berguna, ia tumbuh dalam rumpun, dan ia tidak pernah mati sebelum tunas penerusnya lebih dulu berdiri.

Nilai itu kemudian mengeras menjadi tujuh prinsip perusahaan Gobel Group, yang secara terang menyebut bahwa laba bukanlah tujuan, melainkan ukuran seberapa baik sebuah usaha memenuhi kewajibannya kepada masyarakat. Ukuran keberhasilan bukan tingginya batang, melainkan banyaknya manfaat dan pastinya regenerasi.

Kini pertanyaannya menjadi tajam. Masih sanggupkah falsafah setenang itu berdiri di tengah dunia yang sedang gemetar?

Dunia memang sedang tidak ramah. Dana Moneter Internasional dalam pembaruan World Economic Outlook Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan global hanya 3,0 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027, lebih rendah dari rata-rata 3,5 persen yang tercatat sepanjang 2024 hingga 2025.

Perang di Timur Tengah menekan negara pengimpor energi, sementara lonjakan investasi teknologi kecerdasan buatan justru mengangkat segelintir negara yang terhubung ke rantai nilai teknologi global.

Proses penurunan harga pun terhenti. Dalam laporan lengkapnya, IMF memperkirakan inflasi dunia naik menjadi 4,7 persen pada 2026 dan pertumbuhan perdagangan dunia melambat tajam ke 3,5 persen dari 5 persen setahun sebelumnya. Dunia, dengan kata lain, sedang tumbuh timpang.

Di tengah kemiringan itu, Indonesia justru berdiri cukup tegak. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, dengan produk domestik bruto atas dasar harga berlaku menyentuh Rp6.552,1 triliun. Secara kumulatif, semester pertama 2026 tumbuh 5,45 persen.

Inflasi terkendali di angka 2,88 persen secara tahunan pada Juli 2026. Industri pengolahan pun bertahan sebagai penyumbang terbesar, dengan kontribusi terhadap PDB nasional yang merangkak dari 17,92 persen pada 2022 menjadi 19,20 persen pada awal 2026.

Namun pohon yang rimbun dari kejauhan belum tentu seluruh akarnya memperoleh air yang sama.

Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka Februari 2026 sebesar 4,68 persen dengan rata-rata upah buruh Rp3,29 juta per bulan. Angka itu memang membaik, tetapi tetap berarti jutaan orang tanpa pekerjaan.

Yang lebih menusuk adalah komposisinya: dari 147,67 juta penduduk bekerja, sebanyak 87,74 juta orang atau 59,42 persen masih berada di sektor informal. Hampir enam dari sepuluh pekerja Indonesia hidup tanpa kepastian kontrak, tanpa jaring pengaman memadai, tanpa jaminan bahwa esok masih tersedia pekerjaan.

Di pasar uang, rupiah bertengger di kisaran Rp17.877 per dolar Amerika Serikat pada pertengahan Agustus 2026. Sementara itu, pemerintah memasang ambisi besar dalam Nota Keuangan RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus 2026: pertumbuhan 6 persen dengan belanja negara Rp4.097,2 triliun, sekaligus defisit yang justru ditekan menjadi 2,40 persen terhadap PDB. Tumbuh lebih cepat dengan ruang fiskal yang lebih sempit. Inilah ujian sesungguhnya.

Di titik inilah warisan Rachmat Gobel berhenti menjadi kenangan dan berubah menjadi peta jalan.

Yang pertama, hilirisasi harus diukur ulang. Selama ini keberhasilannya dibaca dari nilai investasi dan angka ekspor. Ukuran yang lebih jujur adalah berapa banyak pemasok lokal yang tumbuh di sekitar pabrik, berapa banyak lulusan sekolah vokasi yang terserap, berapa banyak bengkel, jasa logistik, dan warung makan yang ikut hidup.

Sebuah pabrik raksasa yang berdiri sementara warga sekitarnya tetap menjadi penonton adalah pohon tinggi yang buahnya tidak pernah sampai ke meja rakyat.

Yang kedua, industri pengolahan memerlukan keberpihakan yang nyata, bukan retorika. Kemitraan keluarga Gobel dengan Matsushita bertahan lintas generasi bukan karena kontrak, melainkan karena kesetiaan pada mutu dan kesediaan belajar teknologi. Indonesia dengan lebih dari 280 juta penduduk tidak boleh puas menjadi pasar.

Kepastian aturan, energi yang kompetitif, pembiayaan industri jangka panjang, dan penggunaan komponen dalam negeri yang sungguh meningkatkan kemampuan produksi jauh lebih berharga daripada dokumen yang rapi.

Yang ketiga, delapan puluh tujuh juta pekerja informal itu harus diperlakukan sebagai agenda nasional, bukan catatan kaki statistik. Perluasan jaminan sosial, pelatihan ulang keterampilan, dan jembatan menuju status kerja formal adalah pekerjaan yang menentukan apakah pertumbuhan 5 persen terasa di dapur rumah tangga atau hanya indah di layar presentasi.

Yang keempat, dan mungkin yang paling sering dilupakan, regenerasi. Banyak organisasi besar melemah begitu pendirinya pergi karena pengetahuan, jaringan, dan kewenangan terlalu lama menumpuk pada satu orang.

Rachmat sendiri merupakan bukti bahwa suksesi yang disiapkan menyelamatkan warisan. Setiap perusahaan negara, usaha keluarga, koperasi, dan pemerintahan daerah semestinya dinilai bukan hanya dari laba atau proyek tahun ini, tetapi dari berapa banyak pemimpin baru yang berhasil ia lahirkan.

Yang kelima, teknologi harus dipakai untuk memperbesar manusia, bukan memperkecilnya. Kecerdasan buatan sedang mengubah cara dunia bekerja. Perusahaan yang menolaknya akan tertinggal, tetapi perusahaan yang memakainya tanpa nurani akan meninggalkan luka sosial. Otomatisasi wajib berjalan seiring pelatihan ulang. Digitalisasi usaha kecil wajib disertai akses pasar dan pembiayaan.

Yang keenam, daerah harus diberi ekosistem, bukan sekadar bantuan. Rachmat memahami hal ini dengan baik. Ia pernah mempertemukan PNM dan BRI untuk membangun desa berbasis UMKM di Gorontalo, dimulai dari satu desa kacang tanah di Tilihuwa, dan meninggalkan jejak panjang pada pendidikan pesantren serta wajah kota di tanah kelahirannya. Memberi ikan menolong seseorang hari ini. Membangun ekosistem mengubah nasib satu keluarga selama beberapa generasi.

Empat puluh hari telah berlalu. Karangan bunga sudah layu, berita utama sudah berganti, dan nama itu perlahan menjauh dari percakapan sehari-hari. Namun pohon pisang tidak pernah mengukur dirinya dari batang yang rebah.

Ia mengukur dirinya dari tunas yang berdiri. Penghormatan terbaik kepada Rachmat Gobel bukanlah puisi duka yang paling merdu, melainkan keberanian sebuah bangsa untuk membangun perusahaan yang berguna, industri yang memandirikan, politik yang melayani, dan kepemimpinan yang tidak takut menyiapkan penggantinya.

Selamat jalan, Pak Rachmat.

Kebun itu kini menjadi urusan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *