Catatan Dari Hati

Tugas Jaga yang Digilir: Ayah, Anak, dan Monster Bernama Ketidakpastian

“Siapa pun bisa punya anak, tetapi itu tidak menjadikanmu seorang ayah. Keberanian untuk membesarkan anaklah yang menjadikanmu seorang ayah.” Barack Obama, pidato Hari Ayah di Apostolic Church of God, Chicago, 15 Juni 2008

Lewat tengah malam, lampu ruang kamar tidur depan masih menyala.

Saat membuka pintunya,  Putra saya, Rizky, dua puluh tiga tahun, duduk membungkuk di depan laptop, mengirim lamaran kerja ke beberapa perusahaan sejak usai wisudanya.

Saya, lelaki lima puluh enam tahun yang lututnya mulai rewel setiap kali naik tangga, kemudian berjalan mendekatinya perlahan .

Belasan tahun lalu, anak yang sama pernah menarik ujung kaus saya karena takut pada bayangan di balik lemari, dan cukup sebuah lampu kecil untuk mengusirnya. Malam ini ketakutannya tidak bisa diusir dengan lampu.

Saya menepuk bahunya tanpa kata. Ia menoleh, tersenyum tipis, lamat-lamat dari laptopnya terdengar lagu cukup keras terdengar untuk kami berdua.

Saya tertegun di ambang pintu. Lagu itu “Monsters” milik James Blunt.

Lagu yang dirilis pada 2019 itu ditulis James Blunt untuk ayahnya, Charles Blount, yang saat itu didiagnosis penyakit ginjal kronis stadium empat. Dalam video musiknya, keduanya duduk berdampingan, dua lelaki berlatar belakang tentara yang seumur hidup dididik untuk tidak menangis.

Isinya sederhana namun menghunjam. Seorang anak lelaki dewasa berpamitan kepada ayahnya, bukan lagi sebagai bocah kepada pelindungnya, melainkan sebagai dua lelaki yang saling memahami kekurangan masing-masing dan memilih berhenti menghitungnya. Lalu datang pembalikan peran yang membuat dada sesak.

Dulu sang ayah yang menjaga tidur anaknya dari segala hal yang menakutkan, kini sang anak yang meminta ayahnya beristirahat dengan tenang karena tiba gilirannya berjaga.

Bagi saya, di situlah makna paling menggugah dari lagu ini. Cinta dalam keluarga adalah tugas jaga yang digilir. Keberanian diwariskan bukan lewat nasihat panjang, melainkan lewat teladan yang suatu hari dikembalikan dengan penuh hormat.

Saya putra sulung. Almarhum ayah saya, seorang pegawai negeri sipil Departemen Pertanian adalah sosok yang tegas namun sangat penyayang kepada kami, keempat anaknya.

Kenangan saya terlontar saat kami sekeluarga tinggal di Bone-Bone, sebuah desa kecil di kaki pegunungan Velbeek Kabupaten Luwu, sekitar 500 km dari Makassar. Seperti yang sudah saya kisahkan disini, kami hidup dalam keadaan sangat sederhana dan prihatin. Terkadang gaji ayah terlambat diterima dan kami bertahan hidup dengan hasil kebun disamping rumah.

Suatu malam saya memergoki beliau tengah mencatat di diary diterangi lampu teplok bersinar temaram. Ayah memang sangat senang mencatat setiap kejadian, sekecil dan seremeh apapun itu di diary-nya. Ketiga adik saya sudah tidur. Ibu terlihat sedang tekun menjahit disudut ruang tamu.

Hujan deras mengguyur, petir menggelegar terasa begitu dekat di telinga. Saya memegang lengan ayah dengan perasaan takut, saat kilat menyambar dan terlihat samar kilaunya dibalik jendela. Beliau menutup buku catatannya, menatap saya, lalu berkata, “Tidak usah takut nak. Tugasmu sekolah yang benar. Urusan takut, biar Papa yang pegang.” Ayah lantas memeluk saya, meredakan degup jantung didada.

Kalimat itu saya bawa sampai hari ini. Sebagai anak tertua, saya kerap berdiskusi bersama ayah, terkadang sambil menemaninya merokok di teras depan rumah. Mendengarkan beliau bercerita tentang banyak hal. Tentang kehidupan yang kian sulit, tentang tantangan saya dalam mendidik anak-anak yang jauh berbeda ketika ayah dan bunda saya mendidik kami dulu, tentang silang sengkarut situasi politik bangsa ini, tentang kesenangan beliau memancing tak jauh dari rumah, tentang kesibukan beliau mengurus pemakaman keluarga Gorontalo, RMD (Rumah Masa Depan) yang letaknya tak jauh dari rumah kami di Antang.

Ketika putra saya mengalami musibah (seperti diceritakan disini), saya menelepon ayah dengan perasaan cemas. “Kamu lakl-laki, kuatlah,” ujar beliau di ujung telepon dengan suara baritonnya yang khas.

Kalimat yang persis sama ketika beliau mengantar saya di gerbang kampus saat pertama kali masuk kuliah mengikuti orientasi Mahasiswa Baru di Fakultas Teknik Unhas dan saat saya berangkat merantau ke Jakarta menumpang kapal laut di Pelabuhan Makassar tahun 1995.

Bertahun kemudian, ketika rambut Bapak memutih dan langkahnya melambat, giliran saya yang menuntun lengannya saat berjalan.Ketika beliau dirawat di rumah sakit, sebulan sebelum wafat, saya menggenggam erat tangannya mengalirkan keyakinan, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tangan yang dulu kokoh memeluk, kini gemetar di genggaman saya. Mata ayah basah menahan haru seraya memandang saya dengan sorot berbinar. Di samping ranjang rumah sakit itu saya mengerti lagu James Blunt sepenuhnya.

Saya ingin berkata, “Sekarang urusan takut biar saya yang pegang, Pa” . Saya kembali menggenggam tangannya lebih erat. Sayalah nanti yang akan mengusir “monster”-nya.

Dari Ayah saya mewarisi tiga hal yang ingin saya tanamkan pada anak lelaki saya.

Pertama, hadir. Ayah tidak selalu punya uang, tetapi selalu pulang.

Kedua, jujur pada angka, yaitu hidup di bawah kemampuan, mencatat, dan menyisihkan sebelum membelanjakan.

Ketiga, tetap berangkat meskipun takut, sebab keberanian bukanlah hilangnya rasa gentar, melainkan kesediaan memikul tanggung jawab.

Satu hal ingin saya tambahkan, pelajaran dari lagu itu yang tidak sempat dijalani generasi Ayah: mengucapkan cinta dan maaf selagi waktu masih tersedia.

Kini putra saya sudah lebih tinggi dari saya, tetapi saya tetap memeluknya dan mengatakannya dengan lantang, meski ia kadang tersipu.

Kehadiran semacam itu ternyata makin langka. Pendataan keluarga tahun 2025 oleh Kemendukbangga/BKKBN mencatat 25,8 persen keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami hilangnya peran ayah, dan angkanya melonjak menjadi 63 persen pada keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja, jauh di atas 24,1 persen pada yang bekerja. Angka itu menampar saya. Peran ayah dan dapur keluarga rupanya saling terikat. Ketika nafkah goyah, kehadiran ikut goyah.

Padahal monster zaman ini tidak lagi bersembunyi di balik lemari.

Ia bernama ketidakpastian. Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh 3,0 persen pada 2026, dengan guncangan perang yang membebani banyak negara sementara gelombang kecerdasan buatan baru mengangkat sebagian lainnya.

Di dalam negeri kabarnya lebih cerah, sebab ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan 5,45 persen sepanjang semester pertama. Namun angka pertumbuhan tidak otomatis terasa di meja makan.

Inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan, naik dari 2,65 persen setahun sebelumnya, terutama karena harga pangan. Sebanyak 7,24 juta orang masih menganggur per Februari 2026, sementara rata-rata upah buruh hanya Rp3,29 juta per bulan.

Yang paling membuat saya merenung sebagai ayah, tingkat pengangguran kelompok usia 15 sampai 24 tahun mencapai 16,36 persen dan lulusan SMK 7,74 persen, sedangkan 53.490 pekerja melaporkan kehilangan pekerjaan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Bagi saya, angka itu bukan sekadar statistik, sebab di ruang makan kami ia punya wajah: putra saya sendiri, yang usianya tepat di batas atas kelompok itu.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Sebagai seorang ayah dan warga negara, saya melihat bahwa solusi dari tantangan raksasa ini tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan makro pemerintah semata, melainkan harus dimulai dari sel terkecil masyarakat, yaitu keluarga.

Solusi pertama dan paling mendasar di Indonesia adalah merevolusi cara kita mendidik anak anak kita, beralih dari penghafalan mekanis menuju pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah yang kreatif, serta kecerdasan emosional.

Kita harus melatih mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat yang tidak mudah panik menghadapi perubahan. Secara ekonomi, membiasakan literasi keuangan sejak dini, mengajarkan empati sosial agar mereka tidak menjadi generasi yang individualis, serta menanamkan semangat wirausaha yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah, adalah tameng terbaik yang bisa kita berikan.

Di tingkat yang lebih luas, kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor industri harus diperketat agar keterampilan yang diajarkan relevan dengan kebutuhan zaman, membangun ekosistem di mana inovasi anak bangsa dihargai dan didukung secara nyata.

Pada akhirnya, peran saya saat ini adalah mengusir “monster” ketidaktahuan dan rasa tidak aman dari pikiran putra saya, membekalinya dengan pelita ilmu dan kompas moral yang kuat, agar kelak ketika tiba masanya peran kami bertukar seperti dalam narasi James Blunt, dia telah berdiri sebagai pria dewasa yang kokoh dan berintegritas.

Kepada putra saya yang sedang mengetuk pintu dunia kerja, saya selalu berpesan bahwa bekal terbaik adalah yang tidak mudah digantikan mesin: rasa ingin tahu, kemampuan belajar ulang, keterampilan tangan, dan budi pekerti.

Tingginya pengangguran lulusan sekolah kejuruan mengingatkan bahwa ijazah saja tidak cukup. Sekolah dan dunia usaha harus dipertemukan lebih erat lewat magang yang sungguhan dan pelajaran yang mengikuti kebutuhan industri.

Negara pun punya giliran berjaga. Pemerintah menyiapkan paket stimulus semester II 2026 senilai Rp26,34 triliun, termasuk Rp6,26 triliun untuk program magang dan pelatihan vokasi yang menyasar 220.000 lulusan SMK serta 50.000 pekerja korban pemutusan hubungan kerja, dan langkah itu perlu dikawal agar benar sampai kepada mereka yang berhak.

Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang digagas pemerintah layak diperluas hingga ke tempat kerja, misalnya lewat jam kerja yang ramah keluarga dan cuti ayah yang memadai, supaya mencari nafkah tidak berarti kehilangan anak.

Saya tidak bisa menjanjikan dunia yang tenang kepada putra saya. Ayah pun dulu tidak bisa. Yang beliau berikan adalah punggung yang tetap tegak di tengah badai, dan itu ternyata cukup untuk membuat seorang anak berani tumbuh.

Rambut saya sudah memutih.

Kelak, ketika tangan saya mulai gemetar, semoga putra saya akan menggenggamnya erat dan tahu persis apa yang harus dilakukan.

Sampai hari itu tiba, mari para ayah, kita pulang lebih awal, mencatat lebih jujur, memeluk lebih lama, dan berdiri paling depan menghadapi setiap monster yang datang.

“Engkaulah busur, dan dari sanalah anak-anakmu melesat sebagai anak panah yang hidup.” Kahlil Gibran, Sang Nabi (1923)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *