Catatan Dari Hati

Sembilan Hari Menjemput Rindu : Catatan Perjalanan Umrah Bersama Istri Tercinta, 21–29 Oktober 2026

Pada akhirnya, setiap perjalanan bukan hanya tentang sejauh mana kaki melangkah, tetapi tentang apa yang berubah di dalam hati setelah kita kembali.

Hari Rabu, tanggal 21 Oktober 2026 menjadi salah satu tanggal yang akan selalu kami simpan dalam ingatan.

Bersama istri tercinta, kami memulai perjalanan menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. Bersama rombongan NRA Group, perjalanan sembilan hari itu membawa kami dari Jakarta menuju Jeddah, kemudian Makkah, Madinah, dan akhirnya kembali ke tanah air pada 29 Oktober.

Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan ke negeri yang jauh. Bukan pula sekadar berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Ini adalah perjalanan hati. Perjalanan untuk mendekat kepada Allah, mengenang jejak Rasulullah SAW, sekaligus merenungkan kembali perjalanan hidup yang telah kami lalui bersama.

Puluhan jamaah berbalut batik seragam travel NRA saling menyapa di terminal 2F Bandara Soekarno Hatta, sebagian masih canggung, sebagian sudah seperti keluarga.

Saya melirik istri yang menggenggam tas kecilnya erat-erat. Matanya berkaca-kaca, dan saya tahu ia sedang memikirkan hal yang sama: kita benar-benar berangkat.

Terus terang, sempat terbersit kekhawatiran di hati kami, jika perjalanan Umroh kami akan terkedala karena meningkatnya eskalasi konflik antara Arab Saudi dan pihak pemberontak Houthi Yaman. Bahkan beberapa hari sebelum keberangkatan, Bandara Riyadh sempat dihantam serangan bom. Kami mencoba terus menghalau risau tersebut dengan terus berprasangka baik dan memasrahkan perjalanan kami pada Allah Yang Maha Kuasa.

Ketika pesawat Garuda GA 960 meninggalkan Jakarta pada 21 Oktober pukul 12.30, perasaan bercampur menjadi satu.

Bahagia, haru, cemas, sekaligus penuh rasa syukur. Di usia kami sekarang, kesempatan untuk datang sebagai tamu Allah terasa begitu berharga. Kita semakin menyadari bahwa tidak semua keinginan manusia dapat diwujudkan hanya dengan rencana. Untuk sampai ke Tanah Suci, diperlukan panggilan, kesehatan, kesempatan, kemampuan, dan tentu saja izin dari-Nya.

Menjelang memasuki wilayah udara Jeddah, kami khususnya Jamaah Pria mengambil Miqot dengan mengenakan pakaian ihram yang akan kami gunakan saat Umroh nanti dibimbing oleh Ustadz Fahmi Majdi Fadhil.

Setelah mendarat di Bandara Jeddah dijemput tim NRA, perjalanan dilanjutkan menuju Makkah dengan bis didampingi oleh Ustad Rowi Saleh.

Dari Jeddah, suasana perlahan berubah. Kota-kota yang kami lewati terasa seperti membawa kami semakin dekat kepada sebuah tempat yang selama ini hanya kami kenal melalui doa, cerita, foto dan siaran televisi.

Saat bus melaju menuju Makkah, talbiyah kami bergema pelan: Labbaik Allahumma labbaik. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kalimat yang sudah ratusan kali saya ucapkan itu tiba-tiba terasa begitu berat dan begitu indah.

Rombongan kami menginap di Hotel Hilton Convention Jabal Umar Mekkah yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Masjidil Haram. Setelah meletakkan koper dan beristirahat sejenak kami beranjak ke lobi hotel untuk berkumpul.

Ketika akhirnya melihat Masjidil Haram, hati seperti kehilangan kata-kata.

Makkah bukan sekadar sebuah kota. Dalam sejarah Islam, Makkah merupakan pusat spiritual umat Islam dan tempat berdirinya Ka’bah, kiblat umat Muslim di seluruh dunia. Masjidil Haram mengelilingi Ka’bah dan menjadi tempat jutaan manusia datang untuk beribadah.

Namun semua pengetahuan tentang Makkah seolah menjadi berbeda ketika kita sendiri berdiri di sana.

Melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri adalah pengalaman yang sulit dijelaskan. Selama ini kita menghadapnya setiap kali shalat. Air mata saya dan istri menetes haru saat menyaksikan bangunan Ka’bah yang berdiri tegak dan agung.

Hati terasa kecil. Begitu kecil.

Malam itu, mulai pukul 23.00 WSA hingga pukul 01.30 WSA kami menunaikan ibadah Umroh yang dimulai dari Tawaf mengelilingi Ka’bah, Sholat Sunnah Tawaf dan minum air zam-zam kemudian Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah hingga ditutup dengan Tahalul. Kami mengikuti ritual ibadah itu dengan tekun dan penuh semangat.

Tujuh putaran tawaf, tujuh kali sa’i antara Shafa dan Marwah. Di bukit kecil itu saya teringat Siti Hajar yang berlari mencari air untuk bayinya. Seorang ibu yang tidak pernah berhenti berharap.

Saya menoleh pada istri yang berjalan di samping saya, dan dalam hati saya berterima kasih atas setiap pengorbanannya untuk keluarga kami.

Umroh pertama selesai dengan tahallul, dan rasanya seperti terlahir kembali.

Pada 22 Oktober, sesuai rangkaian perjalanan, kami mengisi waktu di Makkah dengan ibadah dan menikmati suasana kota suci. Bagi saya, Makkah mengajarkan satu hal penting: bahwa kehidupan pada akhirnya adalah perjalanan untuk kembali. Kembali kepada Allah.

Seharusnya siang itu kami ada jadwal melakukan city tour ke Thaif, namun mengingat kondisi tubuh kami yang tidak memungkinkan, kami memilih untuk tidak ikut rombongan dan beristirahat di hotel, memulihkan kondisi badan.

Pada pukul 02.30 dinihari, saya dan istri kembali ke Masjidil Haram menunaikan sholat Tahajjud. Meski baru dinihari, Masjidil Haram begitu ramai dan semarak. Kami masuk melalui pintu 74 lalu bergerak ke lantai 4.

Hari berikutnya, 23 Oktober, menjadi kesempatan untuk lebih banyak beribadah. Waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda di Makkah.

Pagi, siang, sore dan malam seakan memiliki tujuan yang sama: menuju Masjidil Haram.

Di antara kerumunan manusia dari berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa, terasa begitu kuat persaudaraan Islam. Tidak perlu mengenal nama. Tidak perlu mengetahui asal negara. Ketika sama-sama berdiri menghadap Ka’bah, kita semua adalah hamba.

Saya dan istri menunaikan sholat Jum’at di Masjidil Haram. Ribuan orang terlihat memenuhi area Masjidil Haram padahal waktu menunjukkan baru pukul 10.00 WSA.

Begitu banyaknya, hingga kami sudah tidak mendapat tempat dan akhirnya kami bergerak ke area mesjid sebelahnya yang merupakan perluasan dari Masjidil Haram. Kami mendapatkan tempat di lantai 5.

Pada 24 Oktober, kami mengikuti city tour Makkah. Perjalanan membawa kami mengenal lebih dekat sejumlah tempat bersejarah: Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Arafah dan Mina. Perjalanan ini terasa seperti membuka lembaran-lembaran sejarah Islam yang selama ini kami baca dari buku.

Jabal Nur menjadi salah satu tempat yang paling menggugah hati. Di gunung inilah terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Jabal Nur dikenal sebagai salah satu situs terpenting yang berkaitan dengan awal turunnya wahyu.

Memandang Jabal Nur membuat saya merenung. Di sebuah gua yang sunyi, jauh sebelum dunia mengenal Islam seperti sekarang, dimulailah sebuah risalah yang kemudian mengubah sejarah umat manusia.

Kami kemudian melihat Jabal Tsur, gunung yang mengingatkan pada perjalanan hijrah Rasulullah SAW bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Gua Tsur menjadi tempat persembunyian Rasulullah SAW dan Abu Bakar ketika dikejar kaum Quraisy dalam perjalanan menuju Madinah. Kisah ini mengajarkan keberanian, kesabaran dan keyakinan yang luar biasa kepada pertolongan Allah.

Dari sana perjalanan berlanjut menuju Arafah, Muzdalifah dan Mina. Ketiganya begitu erat dengan rangkaian ibadah haji. Arafah khususnya mengingatkan kita kepada wukuf, saat jutaan manusia berdiri bersama dalam kesetaraan, memohon ampun dan rahmat Allah.

Jabal Rahmah juga menyimpan kisah yang begitu dikenal dalam tradisi Islam. Tempat ini sering dikaitkan dengan pertemuan kembali Nabi Adam dan Hawa. Terlepas dari berbagai penjelasan historis mengenai riwayat tersebut, berada di kawasan Arafah tetap menghadirkan suasana batin yang dalam: tentang manusia, dosa, pertobatan dan harapan akan rahmat Allah.

Perjalanan hari itu kemudian membawa kami ke Masjid Ji’ranah untuk mengambil miqat bagi pelaksanaan umrah kedua. Di tempat inilah kami kembali mempersiapkan diri dengan pakaian ihram dan niat.

Rasanya luar biasa.

Untuk kedua kalinya dalam perjalanan ini, kami kembali menjadi manusia yang meninggalkan atribut dunia. Tidak lagi penting jabatan, pekerjaan, pangkat, kekayaan maupun status sosial. Ihram seolah mengingatkan bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada-Nya dengan keadaan yang sama: sebagai hamba.

Tanggal 25 Oktober menjadi hari yang penuh haru.

Kami meninggalkan Makkah menuju Madinah setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di kota suci. Sebelum berangkat, kami melaksanakan Tawaf Wada’.

Tawaf perpisahan ternyata bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah.

Setiap putaran terasa seperti sebuah salam.

Ada doa yang dipanjatkan. Ada rasa syukur yang disampaikan. Ada harapan agar suatu hari nanti Allah kembali mengundang kami ke tempat ini.

Dan mungkin itulah bagian paling berat dari Tawaf Wada’: kita tidak pernah tahu apakah perpisahan itu benar-benar hanya sementara.

Saya merasakan Tawaf Wada’ kali ini menyisakan kesan sangat mendalam karena kami semua, bersama-sama, dipimpin Ustadz Rowi menyampaikan do’a didepan Multazam Ka’bah usai tawaf. Keharuan terasa menyesak dada ketika menyaksikan keagungan Ka’bah didepan mata kami.

Dari Makkah perjalanan berlanjut menuju Madinah, menggunakan bis NRA pukul 14.00 siang. Kami sempat mampir di tempat peristirahatan yang mayoritas dikelola oleh orang Indonesia. Saya dan istri sempat memesan semangkuk bakso dan teh manis.

Begitu memasuki Madinah, setelah menempuh perjalanan darat sekitar 6 jam, suasananya terasa berbeda.

Bila Makkah terasa penuh energi spiritual, Madinah menghadirkan keteduhan.

Jika Makkah membuat kami gemetar oleh keagungan-Nya, Madinah memeluk kami dengan kelembutan.

Kota ini dahulu bernama Yatsrib, lalu dikenal sebagai Madinatun Nabi, kota Nabi, sejak Rasulullah SAW berhijrah ke sana. Udaranya terasa lebih sejuk, orang-orangnya ramah, dan suasananya damai.

Kota ini adalah tempat Rasulullah SAW berhijrah dan menjadi pusat perkembangan awal masyarakat Islam. Masjid Nabawi menjadi jantung spiritual kota tersebut.

Masjid Nabawi dibangun pada tahun pertama Hijriah, dan Rasulullah sendiri ikut mengangkat batu dan pelepah kurma saat membangunnya. Beliau dimakamkan di bekas kamar Siti Aisyah, berdampingan dengan dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khattab.

Kami menginap di Hotel Saja by Warwick yang jaraknya sekitar 300 meter dari Masjid Nabawi. Di sekeliling hotel tersebut terdapat sejumlah pusat perbelanjaan.

Kami lalu bersama-sama menunaikan sholat Maghrib dan Isya secara Jama’ Taqdim di Masjid Nabawi setelah meletakkan koper di kamar.

Pada 26 Oktober, kami melaksanakan ziarah makam Rasulullah SAW dan berada di sekitar Masjid Nabawi. Pada kesempatan tersebut, saya dan istri diberikan waktu untuk berkunjung ke Raudah. Istri saya dan jamaah perempuan mendapatkan kesempatan ke Raudah pukul 07.00 dan saya bersama jamaah laki-laku mendapatkan waktu berkunjung pukul 14.00 siang.

Ketika pertama kali memandang Kubah Hijau Masjid Nabawi, hati kembali bergetar.

Sulit untuk tidak meneteskan air mata.

Di tempat inilah Rasulullah SAW pernah hidup, beribadah, memimpin umat, menerima wahyu, dan membangun peradaban Islam.

Ada perasaan yang sulit diungkapkan ketika mengucapkan salam kepada manusia yang paling kami cintai meskipun belum pernah bertemu secara langsung.

“Assalamu’alaika ya Rasulullah…”

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam.

Saat mengucapkan salam di depan makam, dada saya sesak. Rasanya seperti menyapa sosok yang begitu dirindukan, padahal belum pernah bertemu.

Kami kemudian menyadari bahwa kerinduan kepada Rasulullah SAW bukan hanya tentang ingin melihat makam beliau. Kerinduan itu seharusnya menjadi dorongan untuk mencintai sunnahnya, mengikuti akhlaknya dan membawa nilai-nilai yang beliau ajarkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Tanggal 27 Oktober menjadi salah satu hari yang sangat berkesan karena kami mengikuti city tour Madinah. Kami mengunjungi Masjid Quba, kebun kurma, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain dan kawasan Khandaq.

Masjid Quba memiliki tempat khusus dalam sejarah Islam. Masjid ini dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW singgah di Quba dalam perjalanan hijrah menuju Madinah dan kemudian masjid tersebut menjadi bagian penting dari sejarah awal masyarakat Muslim. Beliau bersabda bahwa shalat di masjid ini pahalanya seperti umroh.

Dari Quba, perjalanan berlanjut menuju Jabal Uhud.

Jabal Uhud bukan sekadar gunung.

Ia adalah saksi Perang Uhud, salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW. Di kawasan ini, kita teringat kepada para sahabat yang gugur, termasuk Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib r.a, paman Rasulullah, yang gugur sebagai syuhada bersama puluhan sahabat. Rasulullah menyebut Uhud sebagai gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.

Ketika berdiri di hadapan Jabal Uhud, saya kembali teringat bahwa kemenangan tidak selalu datang dengan cara yang kita harapkan. Kekalahan dan kesulitan pun dapat menjadi guru yang sangat berharga. Sejarah Uhud mengajarkan tentang ketaatan, disiplin, pengorbanan dan konsekuensi ketika manusia tidak sepenuhnya memegang amanah.

Jabal Uhud hari ini mungkin terlihat kokoh dan tenang. Tetapi batu-batunya seperti menyimpan gema perjuangan lebih dari empat belas abad lalu.

Perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Qiblatain. Masjid ini memiliki sejarah penting karena berkaitan dengan perubahan arah kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah di Makkah. Karena itulah Masjid Qiblatain dikenal sebagai salah satu situs bersejarah penting di Madinah.

Setiap tempat yang kami datangi seperti mengajarkan satu pelajaran.

Quba mengajarkan awal perjuangan.

Uhud mengajarkan keteguhan dan ketaatan.

Qiblatain mengajarkan perubahan arah.

Masjid Nabawi mengajarkan cinta.

Sedangkan Makkah mengajarkan kepasrahan.

Hari-hari di Madinah terasa terlalu cepat. Rasanya baru saja datang, tetapi sudah harus bersiap meninggalkan kota Rasulullah SAW.

Pada 28 Oktober, kami check-out dari hotel dan menuju Bandara Madinah.

Seusai Subuh, kami diajak berjalan-jalan menyusuri sekitar Masjid Nabawi, menyaksikan situs-situs bersejarah seperti Masjid Ali Bin Abi Thalib, Masjid Abubakar As-Shiddiq, dan Masjid Ghumamah.

Kami semua mengangkat tangan dan melantunkan doa serta salam perpisahan ke arah kubah hijau Masjid Nabawi untuk terakhir kalinya. Ada rasa berat yang tak bisa dijelaskan, seperti berpamitan pada rumah yang baru saja kami temukan.

Di dalam kendaraan, saya dan istri lebih banyak diam. Mungkin karena kami sama-sama sedang menyimpan perasaan masing-masing.

Meninggalkan Madinah terasa berbeda.

Ketika meninggalkan sebuah kota biasa, kita mungkin berpikir tentang kapan bisa kembali berlibur. Tetapi meninggalkan Madinah membuat kita bertanya dalam hati: apakah Allah masih memberikan kesempatan untuk kembali?

29 Oktober akhirnya tiba.

Pesawat Garuda Indonesia GA 969 membawa kami kembali ke Jakarta.

Secara fisik, perjalanan telah selesai. Tetapi sesungguhnya perjalanan yang paling panjang justru baru dimulai: perjalanan setelah pulang.

Umrah bukan semestinya berhenti ketika kita meninggalkan Tanah Suci. Nilai-nilai yang kita temukan di sana harus dibawa pulang.

Kesabaran harus dibawa pulang.

Kesederhanaan harus dibawa pulang.

Kerendahan hati harus dibawa pulang.

Kecintaan kepada Rasulullah SAW harus dibawa pulang.

Dan yang paling penting, rasa dekat kepada Allah SWT harus tetap dipelihara setelah Ka’bah tidak lagi berada di depan mata.

Saya bersyukur dapat menjalani perjalanan ini bersama istri tercinta. Sebab perjalanan spiritual terasa lebih indah ketika dijalani bersama orang yang selama puluhan tahun menemani perjalanan hidup: dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, dalam lapang maupun sempit.

Sembilan hari terasa begitu singkat.

Tetapi sembilan hari itu meninggalkan begitu banyak cerita.

Tentang pesawat yang membawa kami dari Jakarta.

Tentang Makkah yang membuat hati bergetar.

Tentang Ka’bah yang membuat kami merasa begitu kecil.

Tentang Jabal Nur dan awal turunnya wahyu.

Tentang Jabal Tsur dan keteguhan dalam hijrah.

Tentang Arafah, Mina dan Muzdalifah.

Tentang Tawaf Wada’ yang mengajarkan arti perpisahan.

Tentang Madinah yang menenangkan.

Tentang Masjid Quba.

Tentang Jabal Uhud.

Tentang Masjid Qiblatain.

Tentang salam yang kami sampaikan kepada Rasulullah SAW.

Dan terutama tentang doa-doa yang mungkin tidak sempat terucapkan dengan sempurna, tetapi mudah-mudahan telah didengar oleh Allah Yang Maha Mengetahui isi hati.

Kini kami telah kembali ke rumah.

Koper mungkin sudah dibuka. Oleh-oleh mungkin sudah dibagikan. Foto-foto mulai memenuhi galeri telepon. Rutinitas kehidupan perlahan kembali seperti semula.

Tetapi kami berharap ada sesuatu yang tidak kembali seperti semula.

Hati kami.

Semoga setelah pulang dari Tanah Suci, hati menjadi lebih lembut. Lebih mudah bersyukur. Lebih mudah memaafkan. Lebih sabar menghadapi kehidupan. Lebih dekat kepada Allah. Dan lebih mencintai Rasulullah SAW.

Kepada NRA Group, Ustad Fahmi, Ustad Rowi dan seluruh rombongan yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini, kami menyampaikan terima kasih. Kebersamaan selama perjalanan menjadi bagian yang membuat rangkaian ibadah ini terasa semakin bermakna.

Dan kepada istriku tercinta, terima kasih telah menjadi teman perjalanan dalam sembilan hari yang begitu indah ini.

Semoga perjalanan ini bukan hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam foto, tetapi menjadi bekal yang menetap di dalam jiwa.

Semoga Allah menerima seluruh ibadah kami, mengampuni kekhilafan kami, menerima doa-doa kami, memberikan keberkahan kepada keluarga kami, dan mempertemukan kami kembali dengan Tanah Suci pada waktu yang terbaik menurut-Nya.

Karena pada akhirnya, kami datang bukan karena merasa layak.

Kami datang karena diundang.

Dan kami pulang dengan satu harapan sederhana:

Semoga suatu hari nanti, Allah kembali memanggil kami.

“Apa yang engkau cari sedang mencarimu.”
— Jalaluddin Rumi

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Makkah–Madinah, 21–29 Oktober 2026.
Sebuah perjalanan yang selesai di kalender, tetapi semoga tidak pernah selesai di hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *